Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
169


__ADS_3

"Jadi apa kalian akan benar-benar menikah? Tuan, Nona?" tanya wartawan itu. Micel tak bisa menjawab, dia hanya menatap ke arah Vino yang saat ini terlihat sangat santai sekali.


Pada akhirnya Micel tersenyum canggung, sedangkan Vino menatap dengan tenang.


"Tidak," ucap Micel.


"Pasti," ucap Vino.


Mereka mengucapkan bersamaan, membuat para wartawan memandang mereka dengan bingung.


"Maksudnya gimana? Tidak pasti? Tidak, atau pasti?" sahut mereka antusias.


Micel membuka mulutnya dan hampir saja menyampaikan sesuatu, akan tetapi Vino membuat gerakan yang reflek membuat Micel terkejut dan berada dalam rengkuhan Vino. Wajah Micel dekat dan merapat dengan dada Vino sehingga dia tak mampu mengutarakan maksudnya karna posisinya saat ini.


"Tidak pasti minggu ini, yang jelas kami akan menikah. Mungkin minggu depan, tepat diacara resepsi pernikahan kakak ipar ku," ucap Vino santai.


"Sepertinya calon istriku sangat malu, kami harus undur diri," ucapnya sambil menatap ke arah wartawan dengan senyumanya.


"Terimakasih Tuan Vino, atas informasinya." ucap Mereka kemudian melangkah pergi. Ketika posisi sudah aman dari wartawan, Micel mendorong tubuh Vino hingga dia berhasil keluar dari jeratan tangan Vino.


Micel menatap ke arah Vino dengan sorot mata yang tajam, persis seperti sorot mata Radit yang sangat mengintimidasi. Benar saja, Micel adalah adik kandung dari Radit yang juga baru diakuinya.


"Kak, apa maksudmu?" tanya Micel dengan geram. Radit bilang dia baru akan wisuda beberapa minggu lagi, dan harus menikah dengan Vino? Astaga, sepertinya orang di depanya benar-benar mabuk.


Vino tersenyum sambil menatap wajah cantik gadis dua puluh tahun itu.


"Bukankah kau seharusnya bangga bisa menjadi wanita yang menikah dengan manusia tampan sepertiku?" tanya Vino dan mampu membuat Micel membelalakkan matanya.


"Ini konyol, bahkan aku baru wisuda bulan depan Kak. Aku tidak punya pekerjaan dan aku tidak bisa menikah dengan Kakak," ucap Micel kemudian melenggang pergi.

__ADS_1


Ucapan Micel bagai sayatan benda tajam yang menghujamnya, bagaimana bisa Micel menolaknya? Mengejar Micel? Atau cukup sampai disini? Vino terpaku menatap ke arah Micel yang menjauh darinya.


"Kau tidak bisa membiarkanya pergi, kejar dia sebelum dia menghilang seperti Asyla, dan juga dimiliki orang lain seperti Nada." Delon berada di samping Vino sambil menepuk pelan pundak Vino. Vino memandang Delon dan tersenyum.


"Tapi dia menolaku," ucap Vino.


"Radit dan Nada, pernikahan mereka berawal dari luka. Akan tetapi bertemu dengan bahagia," ucap Delon lagi.


Vino menatap ke arah Delon dengan senyuman indahnya. Dia menepuk pundak Delon dan berlari mengejar Micel yang menuju ke taman belakang butik.


Nicho berdiri di depan Delon saat Vino sudah tak terlihat keberadaanya.


"Kau tau hubungan Vino dengan adiknya Marvel?" tanyanya. Delon menatap Nico yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


"Aku kurang tau," jawab Delon sekenanya.


"Kenapa?" tanyanya lagi pada Nicho. Nicho hanya diam kemudian melangkah pergi.


Delon menghela napas dalam dalam, sepertinya dia harus segera pergi dari butik dan kembali bekerja. Dia melirik jam yang menunjukan pukul 01.00 dan seharusnya dia kembali. Netranya menatap ke arah Zifana yang masih berbicang dengan Sifa di meja sana.


"Dia sangat cantik, tetapi seperti iblis," ucapnya kemudian melenggang pergi.


😊😊😊😊


Di sebuah taman yang begitu indah, Micel menikmati jus. Pandanganya sesekali melirik pintu utama, yang dia takutkan ada wartawan yang mengikutinya. Mama dan neneknya mengirim pesan untuk pulang duluan. Nada dan Radit menghilang di balik ruangan pribadi Nada. Micel bingung harus berbuat apa.


Micel melirik jam yang melingkar indah ditangannya. Waktu menunjukan pukul 01.00. Ingatannya tertuju pada ucapan Vino yang sangat mengusik pikirannya.


Jengkel? tidak begitu juga, namun perasaan gugup menghantui fikirannya. Sebenarnya bagaimana perasaanya pada Vino? Nama itu selalu melekat di otaknya, Kafe Mawar? Itu juga sangat jelas diingatanya.

__ADS_1


Micel mengetokkan jari- jemari di atas meja, membuang segala kegugupan yang menyeruak di benaknya.


"Selamat siang, Nona cantik. Aku duduk di sini, boleh ataupun tidak boleh." Suara itu membuyarkan lamunan Micel, Micel mendongak dan berdiri saat menyadari Vino berdiri di depanya.


"Bisa kita bicara baik-baik?" tanya Vino santai, Micel mencoba menghindar akan tetapi suara Vino menghentikan aksinya.


"Tetaplah di tempatmu jika kamu mau harimu baik-baik saja," ketusnya. Pada akhirnya Micel berhenti dan menatap Vino dengan mencoba tetap tenang.


"Apa yang ingin kakak bicarakan?" tanya Micel dengan tenang.


"Pernikahan kita, aku akan datang melamarmu dan wajib kamu terima nanti malam. Satu lagi, tidak ada penolakan dan harus di terima," ucap Vino sambil menatap ke arah Micel dengan tenang. Micel memutar bola mata indahnya dan tampak teekejut.


"Aku tidak ingat apapun, jangan paksa aku untuk itu. Lagi pula aku belum siap Kak," ucap Micel. Vino mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan fotonya dengan Micel di acara setelah Fashion mode saat itu. Adegan mesra yang sebenarnya terjadi tanpa kesengajaan.



"Kau tidak bisakah percaya padaku jika kau sangat mencintaiku? Aku hanya ingin menjagamu, kau boleh melakukan apapun setelah menikah. Aku tidak membatasi, yang aku mau kau mempunyai status yang jelas denganku. Agar wartawan-wartawan juga tidak menggosibkan kita aneh-aneh," ucap Vino. Sebenarnya dia dalam keraguan ketika mengucap, akan tetapi Vino mencoba memantapkan hatinya.


Micel terdiam, dia memang bahagia tapi dia juga tidak yakin.


"Datanglah ke rumah, bilang pada kakak dan mamaku juga nenek dan kakek nanti malam. Aku tidak bisa memutuskan," ucap Micel kemudian melenggang pergi. Vino tersenyum tipis.


"Okey gadis, aku akan mendapatkanmu," ucapnya lirih.


🎀🎀🎀🎀


Radit membawa Nada ke ruangan pribadinya, membaringkan Nada di ranjang king sizenya. Dia melepaskan jasnya dan meletakan di gantungan.


"Kamu mau apa yang?" tanya Nada yang merasa ada kelakuan aneh suaminya. Radit tersenyum tipis.

__ADS_1


😆😆😆😆😆😆


__ADS_2