Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 82


__ADS_3

Saat ini di sebuah perusahaan besar, seseorang tengah berkutat dengan laptop masing-masing. Gino dan Tuan Sinatria berkali-kali memperhatikan beberapa dokumen yang berada di file penyimpan monitornya.


"Bagaimana ini? Kenapa keadaan MRD di sana tampak kembali membaik?" tanya Tuan Sinatria. Gino memegang pelipisnya, memijat dengan pelan pelispisnya. Menyandarkan tubuh lelahnya di kursi putarnya.


"Mengapa dalam sehari kita bisa kehilangan semua? Bagaimana bisa?" tanyanya saat menyadari kini perusahaan mereka yang ada di ambang kebangkrutan.


SNT Perusahaan yang dikendalikan Tuan Sinatria dan Gino. Perusahaan itu berkembang pesat dari tahun ke tahun, dan lebih berkembang saat Zifana turut andil di sana dan mendominasi kepemimpinan kerja.


"Bagaimana apa ada perkembangan Kak?" tanya Zifana yang tiba-tiba muncul meletakan tas tangannya di meja.


"Keadaan mereka membaik Zifana, tapi keadaa kita berbalik. Sepertinya IT mereka sanggup mengembalikan keadaan dengan aman." ucap Gino.


Zifana mengepalkan tangannya. Kenapa bisa begini? Dia berharap MRD Groub membutuhkan suntikan dana dan dia akan membantu. Tetapi apa yang dia rencanakan ternyata tak sesuai yang dia inginkan. Lalu bagaimana?


"****. Kenapa bisa begini?" bentak Zifana yang tampak emosi, sambil melemparkan beberapa berkas di depan seorang lelaki yang saat ini sedang memijat pelipisnya.


"Kakak juga tidak tau. Perusahaan ini sangat meresahkan. Namun, kakak tidak bisa mengakses lebih dalam lagi," ucap Gino.


Zifana memijat pelipisnya, menerka sebuah kesimpulan. Namun, orang suruhanya bilang tak ada pergerakan apapun dari MRD Groub. Lalu, siapa yang mengembalikan keadaan ini?Zifana menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Sebaiknya aku mencari suntikan dana, sebelum semuanya terlambat. Aku tidak mau tau, lakukan apapun untuk kembali menstabilkan keuangan perusahaan Pa," ucap ifana kemudian meninggalkan ruangan.


Emosi yang mengganggu fikiranya membuat Zifana membanting kasar pintu ruangan papanya.


Brakkkkkk


Lelaki yang menjabat sebagai CEO perusahaan itu tampak menggembrak meja setelah adiknya benar-benar sudah menghilang dari pandangannya.


❤❤❤


Radit menghela napas panjang, menatap kearah monitornya. Laki-laki yang berusia 26 tahun itu tampak tersenyum saat menemukan angin segar. Mendapatkan informasi tentang perusahaan kini membaik membuatnya bahagia. Tentunya dia sudah lega dan pulang dengan tenang.


Radit tersenyum tipis dan pada saat itu sebuah panggilan masuk. Radit melirik ponselnya dan menampakkan nama Dani di sana. Radit mengangkatnya.


"Ada apa Dan?"


"Pesawat sudah siap, kau bisa terbang saat ini juga Marvel," ucap Dani pada bos somplaknya.


"Okey, aku akan segera ke sana." ucap Radit kemudian segera berdiri.

__ADS_1


Nada, wajah cantik itu membayangi pelupuk matanya. Jantungnya berdetak kencang, berdetak tak karuan. Bahkan, dirinya tak rela membiarkan Nada bertemu Dengan Rafa orang yang Nada cintai. Radit juga tak rela membiarkan pertemuan Nada dengan Vino besok pagi.


Lalu, apa dia masih butuh untuk meyakinkan dirinya? Aish, Radit tampak memejamkan matanya. Mencoba merasakan cinta untuk Nada di hatinya.


Radit mengambil ponselnya dan membuka galeri potonya. Radit menatap ke arah wajah cantik Amara di sana. Radit menghapus poto itu dari ponselnya.


Bahkan, dirinya tak berpikir berulang kali untuk menghilangkan jejak Amara. Apa benar aku melupakannya dan jatuh cinta pada istriku? Radit menggeser ponselnya dan menemukan poto Nada yang tersenyum. Jantungnya berdetak tak karuan.


Segera Radit memasukan ponsel di sakunya, dia menyusuri lorong dan segera menuju ke arah pesawat berada. Nada, rasanya ingin sekali membawa wanita cantik itu berada dalam dekap hangatnya.


😍😍😍😍


Nada tengah menyiapkan ruangan yang VVIP dengan segala kemewahan. Nada yang tadi sengaja seolah berbicara pada Rafa sebenarnya tidak menelpon siapa-siapa. Dengan lantang dia menyebutkan sebuah nama restauran. Nada berharap Radit datang kepadanya. Dia ingin memastikan, harus menyerah atau tetap melangkah. Semua bergantung pada hadir dan tidaknya Radit malam ini.


Nada menghela napas panjang dan tersenyum tipis.


"Jika kita tidak saling mencintai, lalu apa artinya kebersamaan? Jika bersama tidak memberikan kebaikan, maka perpisahan mungkin adalah jalan yang terbaik," lirih Nada. Namun, entah kenapa hatinya merasakan sesak saat mengucap kalimat itu.


😍😍😍😍

__ADS_1


😍😍😍❤❤


__ADS_2