Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Mencari Micela


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Davina menatap ke arah Mama Elina. Sedangkan Vito tengah menidurkan putra dan putrinya.


Mama Elina menatap ke arah Davina dan tersenyum. Davina sudah sedikit tenang.


"Apa tante bisa memberikan bukti padaku?" tanya Davina pada Mama Elina.


Mama Elina meraih ponselnya dan menelpon Papa Pradikta.


"Ada apa Ma?" tanya Papa Pradikta di sebrang sana.


"Pa, ada kabar baik tentang Vina putri kita. Bisa Papa datang ke rumah sakit dan membawa album foto?" tidak ada satupun foto di ponsel Mama," ucap Mama Elina. Ya, Vino telah menghapus semua fotonya dan Vina karena kesehatan Mama saat itu lebih penting.


"Papa akan kesana, lalu dimana Vino? Apa dia sudah membaik?" tanya Papa Pradikta.


"Entah apa yang terjadi, Vino pergi dari rumah sakit," ucap Mama Elina. Papa Pradikta menghela napas panjang.


Pasti ada sesuatu, Willy dan Rendi juga tidak ada di rumah, saat ini. Papa Pradikta membatin.


"Oke, papa akan menjemput mama. Mama tunggu saja dan jangan kemana mana sebelum papa datang," ucap Papa Pradikta.


Papa Pradikta segera melangkahkan kakinya menuju ke rumah sakit. Mendengar kabar tentang Vina membuat dirinya bahagia. Semoga saja apa yang dikatakan oleh Mama Elina adalah suatu kebenaran.


Papa Pradikta berharap Vina benar bener masih hidup, Vino bisa bahagia, dan Emely segera pulang dari desa terpencil itu.


Papa Pradikta mengambil album foto yang ada di almari kemudian membawa album itu menuju ke rumah sakit dimana Mama Elina dan Vina berada.


❤❤❤🌹🌹🌹🌹


Micela masih duduk di depan Fila. Dia mencoba menghubungi Kak Radit tapi tak mendapat balasan. Kak Nada? sama saja, pasti mereka sibuk saat ini. Micel yang merasa lapar menginginkan makanan yang hangat. Akan tetapi dirinya malas untuk memasak. Menelpon kedua kakaknya ingin mengalihkan perhatian, akan tetapi semua ternyata sia sia. Micela meraih ponselnya dan membuat panggilan untuk Nicho akan tetapi tidak mendapat jawaban juga.


Micel menatap kontak Kak Vino, akan tetapi dia tak mau menghubunginya. Pasti akan sakit hati lagi nantinya. Malam ini hari terakhir dia di tempat ini, besok dirinya merencanakan pergi agar tidak merepotkan Nicho lagi.


Micel menghela napas panjang, mengambil tasnya kemudian melangkah ke arah parkiran. Micel masuk ke dalam mobil yang disiapkan oleh Nicho, dia ingin makanan hangat, entah itu apa, yang terpenting bisa mengganjal perutnya. Sejenak dia terdiam, ucapan Vino masih mengiang diotaknya.


"Baby, beri aku kesempatan untuk memantapkan hatiku. Bantu aku untuk keluar dari semua ini. Kau tau, aku terjebak dalam perasaan yang akupun tak tau bagaimana." Vino berucap dengan tenang waktu itu, dan dirinya enggan untuk memberi kesempatan. Lalu apa dia salah?


Micela menghela napas panjang. Apa dia ketelaluan? Apa dia menyakiti Vino ? Micela megusap air matanya dan menancap gas mobilnya.


Di sebrang sana, sebuah mobil telah bersiaga. Semenjak tadi menunggu mobil Micel keluar.


"Kejar, dan kita bawa dia hidup atau mati. Jangan sampai kita kena marah sama Bos lagi," ucap salah satu penghuni mobil yang sejak tadi mengintai jejak Micela. Mereka mengikuti laju mobil Micela. Salah satu dari mereka menelpon bosnya.


"Halo bos, target sudah di depan kita," lapornya pada seseorang di sebrang sana.


"Awasi, jangan sampai lolos!" ucap lelaki itu lagi dengan lantang. Asila selalu menanyakan perkembangan misi untuk Micela, dan kali ini dia tidak mau gagal lagi.

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalo Tuan Mi..." tut tut tut.


Sebelum menyelesaikan bicaranya. Lelaki itu telah menutup saluran ponselnya, mobil Micel yang melaju kencang menjadi objek pemandangan mereka.


"Kita ikuti dia," teriak salah satu dari mereka.


"Siap bos, kita kejar wanita itu jangan sampai lolos. Aku tidak mau kita kena damprat jika sampai kita gagal melakukan misi." ucap teman yang satunya.


"Tapi sepertinya dia sangat cantik Bos, apa tidak kita cicipi dulu?" tanya salah satunya.


"Hais, yang penting kita dapat bayaran. Masa bodoh dengan semua itu, kalau kau mau mencicipinya kau bisa melakukan sendiri nanti, tanggung resikonya sendiri juga," sahut yang lainya.


"Hubungi yang lain. Suruh dia menghadang mobil wanita ini," ucap salah satu lagi.


Micel mengamati kaca sepionnya. Ada mobil yang mengejarnya. Mengejarnya? Apa iya? Siapa mereka? Micela menambah kecepatannya. Kali ini dia melewati jalanan panjang yang begitu sepi. Yang benar saja, dia dihadang dua orang laki-laki di tengah jalan.


Micela terpaksa menghentikan mobilnya. Salah satu dari mereka mengetok kaca mobil. Micela begitu ketakutan. Akan tetapi dia mencoba untuk tenang. Micela menghela napas panjang.


Micela mencoba menghubungi Nicho. Namun, hanya berdering saja. Orang itu semakin memaksa membuka kaca mobil. Micela sudah tampak gelisah.


Dengan keberaniannya Micela menancap gas mobilnya mau tidak mau orang di depannya menghindari Micela. Tetapi tidak sampai di situ, kedua orang itu mengejar Micela dengan motornya.


Micel terus melaju melafalkan doa pada sangat pencipta. Hingga mobil putih yang tadi mengejarnya terlihat kembali beraksi. Micela memejamkan matanya dan menambah kecepatan mobilnya. Akan tetapi, kemunculan sebuah mobil di depannya membuat dirinya tekejut. Beberapa saat kemudian, Micel terpaksa harus menghentikan mobilnya tiba tiba. Pemandangan yang tidak sedap untuk di lihat terpampang nyata di hadapan Micel. Tidak ada jalan untuk menghindar, mobil Micel telah dikepung oleh kendaraan yang ada di depan dan di belakang.


"YaTuhan tolong hambamu," lirihnya.


"Au," Micela terkejut. Dia memegang pelipis nya yang berdarah akibat terkena pecahan kaca. Entah kenapa, darahnya seperti mendidih. Dadanya terasa sesak. Sorot mata teduhnya berubah tajam. Micel mengepalkan tangannya. Dia ingin membalas apa yang diperlakukan lelaki itu padanya.


"Wahhh ada bidadari cantik ternyata. Keluar lah nona. Apa mau kami memaksamu keluar?" tanya orang itu. Micel terdiam dan mencoba bersaba. Namun, orang itu menarik tangan Micel.


"Lepaskan," sentak Micela.


"Kau keluar atau aku memaksa mu!" mau tak mau Micel membuka kunci mobil kemudian keluar. Dilihatnya kedua preman itu secara detail. Micel memejamkan matanya, bayangan seseorang masuk dalam memorinya.


"Lihatlah bidadari ini cantik sekali," mereka mengamati Micela dari atas sampai bawah.


"Apa yang kalian inginkan? Jangan sakiti aku, atau kalian mau uang, ambillah!" ketusnya.


Hahaha tawa mereka menggelegar. Micela berjalan mundur, menjauh dari dua orang yang terus saja maju. Micela terus saja memberikan mereka penawaran agar mereka tak menyakitinya. Namun naas, apa yang dia lakukan tak membuat dua orang itu menyerah.


"Mari kita bersenang senang Nona," ucap mereka pada Micela. Micel memutar bola matanya, jika melawan, Pasti gerombolan di dalam mobil akan keluar. Lalu, apa yang harus dia lakukan?


Micel memberikan satu gerakan perlawanan saat dua orang di depannya mulai bertindak kurang ajar kepadanya. Yang benar saja, beberapa orang yang ada di mobil tampak keluar. Hanya saja, mereka diam mengamati perkelahian yang memang hanya Micel sendiri yang mereka lawan.


Bug

__ADS_1


Satu pukulan seorang mampu menumbangkan Micel sehingga wanita itu tersungkur, Micel yang terduduk mencoba untuk berdiri, akan tetapi kakinya di cekal oleh salah satu dari mereka.


Micel tak tinggal diam, menarik kakinya dan memberikan tendangan yang mampu membuat orang di depannya terlentang. Micel kembali melawan.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Micela, Micel yang sudah hampir kualahan menatap sosok orang yang turun dari mobil, dengan celana Jins, jaket hitam dan topi hitam itu. Entah, siapa Micel juga belum jelas memandang wajahnya.


Vino yang baru saja datang kini memancing emosi orang orang yang sejak tadi berdiri menunggu giliran menyerang.


Dor


Satu tembakan dilontarkan oleh orang yang berada di dekat mobil. Vino melirik ke arah orang yang sengaja memancing emosinya. Vino berlari menuju ke arah Micela yang tampak kewalahan dan terkejut karna suara tembakan itu.


"Baby, pergilah dan amankan dirimu," ucapnya.


Deg


Jantung Micela bergetar hebat, suara itu membuat dirinya tekoyak.


"Kak Vino?" lirihnya. Air mata hampir saja meleleh akan tetapi untuk saat ini bukan waktunya untuk tangis tangisan.


Tak mendengar ucapan Vino, justru Micel terus melawan musuh yang kini menyerangnya. Merasa kualahan, orang di depannya meminta bantuan pada orang orang yang berdiri di depan mobil.


Yang benar saja, mereka yang berjumlah enam orang berlari mengepung Micel dan Vino. Micel dan Vino saling memunggungi. Bersikap waspada karna orang yang berjumlah delapan orang itu kini mengelilingi mereka.


"Micel, pergilah! Amankan dirimu," ucap Vino lagi dengan mata melirik ke arah lawan.


"Apa kau gila? Mana mungkin aku meninggalkanmu sendiri?" sentaknya pada Micel.


"Selamat Malam Tuan, Alvino. Kita berjumpa lagi. Kawan lama, mari kita menjalankan kembali misi misi kita. Dan kita lenyapkan wanita itu, anggota geng Aster yang selalu menggagalkan misi kita. Untuk apa melindunginya? Apa kau sekarang telah berubah haluan, Pimpinan? " ucap seseorang yang kini baru saja keluar dari mobil.


Deg


Micel memejamkan matanya. Apa maksud dari perkataan orang yang baru saja keluar dari mobil itu? Pimpinan? Micel memejamkan matanya. Permainan macam apa ini? Jadi suaminya kenal dengan orang orang yang menyerang? Apa ini yang dimaksud Vino menjaga? Menjaga dari kejahatan mereka? Lalu, siapa geng Aster? Siapa Vino sebenarnya?


Micel terhuyung mundur, dengan gerakan cepat Vino merah Micel yang kini sedang memegang kepalanya.


"Baby pergilah," lirih Vino. Akan tetapi, ucapan Vino malah menjadi salah satu senjata baginya untuk tetap berdiri disini. Micel ingin tau semuanya, tak mau dia larut dalam amnesia yang di deritanya.


Sorot mata Micel dan sorot mata Vino menatap ke arah orang yang kini baru saja datang itu. Micel juga melirik ke arah Vino. Geng Aster? Kepala Micel tiba tiba berat, akan tetapi wanita itu mencoba untuk tetap kuat.


Vino mengamati sosok tinggi tegap yang tak lain adalah Enzi, kawan lama yang licik sama sepertinya dulu. Kawan yang selalu memenangkan misi bersamanya.


Enzi menodongkan senapan yang dia genggam tepat ke arah Micel, Vino tampak terkejut.


Dor

__ADS_1


****


__ADS_2