
Radit dan Dokter Arfan kakak iparnya, segera menuju ke ruangan kerja Dokter ArRan, Dokter Arfan yang berjalan dengan tenang sejenak berhenti ketika melihat Sifa duduk menenangkan Nenek Amy.
"Sifa, kau bisa mengambilkan minum untuk nenek di ruanganku. Biar nenek sedikit lebih tenang," ucapnya. Sifa mendongak. Sejenak tatapan mereka bertemu.
Sifa mengangguk dan berdiri kemudian mengikuti langkah dua lelaki tampan itu.
Kini Dokter Arfan membuka pintu dan mempersilahkan adik iparnya untuk duduk. Lebih tepatnya adik ipar yang semula tak akur dengannya dan baru-baru ini hubungan mereka membaik.
Sedangkan Dokter Arfan mengantarkan Sifa mengambil beberapa miniman di dalam lemari es.
"Terimakasih Kak," ucap Sifa dan dibalas senyum indah dari bibir dokter muda itu.
"Aku keluar dulu, Kak," ucap Sifa dan diangguki Dokter Arfan.
"Bagaimana keadaan Micel, Kak? Kenapa dia bisa seperti itu?" tanya Radit saat Kakak iparnya itu sudah duduk di depannya.
"Kamu yang sabar," ucap Dokter Arfan.
"Micel mengalami benturan keras di kepalanya, Marvel. Diagnosa tim dokter, Micel akan mengalami Amnesia," ucap Dokter Arfan menjelaskan.
"Tapi bagaimana Micel bisa mengenal Nada? Apa dia hanya pura-pura melupakanku karna aku sering menyakitinya?" tanya Radit.
Dokter tampan itu menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu, Amnesia yang diderita Micel adalah amnesia sebagian. Dia hilang sebagian memori dan hanya ada beberapa yang dia ingat. Mungkin Nada adalah hal indah di dalam ingatannya sehingga dia mengingat itu," ucap Dokter Arfan. Radit menghela napas panjang.
Nada? Wanita itu memang selalu memberikan hal positif. Bahkan ketika adiknya lupa pada dirinya dan ibunya, Nada masih ada diingatan Micel karna memori indah yang di berikannya. Semakin kagum Radit pada sosok Nada, istri yang dulunya hanya dia anggap sebagai biang masalah.
"Lalu, apa bisa sembuh secepatnya?" tanya Radit.
"Semua butuh proses. Akan tetapi jika Allah berkehendak lain, InsyaAllah Micel akan baik-baik saja," ucap Dokter Arfan. Radit terdiam, sesak menyeruak di dadanya. Dokter Arfan berdiri dan menepuk pelan pundak adik iparnya.
"Yang kuat," ucapnya memberikan suport.
Radit mengambil ponsel di sakunya, ingin dia tau tentang kasus Micel di kantor polisi. Radit membuat panggilan untuk asisten pribadi, sekaligus sahabat dan saudara baginya itu.
🎀🎀🎀
Di sebuah rumah di kawasan terpencil. Dani mengurung seorang wanita cantik. Rasa dongkol karna wanita itu bebas begitu saja, sedang Micel dalam keadaan diantara hidup dan mati membuat dia sangat benci pada Wanita itu.
Polisi? Bahkan polisi mengajukan perdamaian. Benci? Sangat benci. Hingga pada akhirnya dia berniat memberi pelajaran pada gadis cantik itu. Melukai? Atau melecehkan? Entahlah, dia tidak tau sejauh mana imannya kuat jika harus berhadapan dengan manusia cantik yang menjadi tawanannya itu.
"Siapa yang kau hubungi?" Suara itu membuat emely terperanjak kaget setelah dirinya selesai menghubungi Vino. Dia menatap seorang yang kini berjalan penuh amarah ke depannya.
__ADS_1
Emeli mundur dan menaruh ponselnya di belakang tubuhnya, mencoba untuk menyelamatkan ponselnya agar tidak di ambil oleh manusia di depannya.
"Siapa yang kau hubungi?" bentak Dani sehingga membuat nyali Emely menciut.
"Siapa?" bentak Dani lagi hingga Emeli terkejut dan menjatuhkan ponselnya.
Prak
Emeli memejamkan matanya, sudah pasti ponselnya hancur karna pecahan kaca teprecik di kakinya.
"Siapa?" ucap Dani sembari melangkah maju.
"Bukan siapa-siapa!" bentak Emeli juga.
"Bohong," jawab Dani.
"Lalu, apa kamu berharap aku mengatakan padamu aku menghubungi kekasihku begitu?" sentak Emeli dengan tegas.
"Cih, aku hanya memastikan kau tidak menghubungi polisi, jangan salah sangka Nona," ucap Dani dengan sorot mata tajam dan mengintimidasi, dan berhasil membuat Nyali Emili tampak menciut.
Dani melangkah maju, Emely mundur ke belakang, Dani maju lagi mengikis jarak di antara keduanya.
Emeli hampir saja mundur, tetapi tangan Dani meraih Emeli dan benar-benar keduanya tak ada jarak sama sekali. Emeli mendongak, Dani menunduk menatap wajah Emeli yang semakin ketakutan.
Dani bisa merasakan detak jantung Emeli yang tak beraturan. Kini dia tau, wanita di depannya sangat takut dengannya.
Dani tersenyum puas dan mendekatkan mulutnya di telinga Emeli. Mungkin Emeli sama bencinya dengan dia, sama bencinya dengan manusia yang kini mencoba menghakiminya.
"Jangan takut, aku tidak akan menodaimu," ucap Dani tepat di telinga Emeli.
Emeli memejamkan matanya, ucapan Dani bagaikan goresan sembilu yang menoreh luka dalam di hatinya. Dia takut, bahkan dia sudah tunangan dan hanya menunggu beberapa bulan lagi menikah. Lalu, bagaimana jika lelaki di depannya menodainya?
Emeli mencoba melepaskan dirinya tetapi Dani semakin kuat menekan tubuhnya seakan mengatakan jangan bergerak.
"Kau lihat, orang yang aku anggap adikku menderita karnamu. Kau menghancurkan hati semua anggota keluarganya." ucap Dani tepat di telinga Emeli. Emeli melirik ponsel Dani yang menampakan seorang yang tengah terbaring tak berdaya. Rasa bersalah selalu menghantuinya.
"Tapi aku tidak sengaja!" teriak Emeli.
"Aku tidak sengaja, lalu bagaimana lagi aku harus menjelaskan? Aku minta maaf dan kau tidak mau dengar, aku bertanggung jawab dengan uang tapi kamu tidak butuh, lantas aku harus apa?" teriak Emeli.
"Kau harus membayar mahal," ucap Dani sambil mengusap pelan pipi Emeli, membuat Emeli memejamkan matanya. Bulunya meremang.
Emeli menghela napas panjang. Harus berhadapan dengan manusia seperti Dani adalah ujian terberat baginya. Emeli hanya diam, enggan untuk menjawab ucapan Dani lagi yang hanya akan menimbulkan perdebatan.
__ADS_1
Dani medekatkan wajahnya ke arah Emeli, tangannya mencengkram erat lengan Emeli. Emeli mengeluarkan air matanya, menaham rasa sakit yang mendera tubuhnya.
Brak
Suara banyak orang yang mendobrak pintu.
"Ayo giring mereka ke kantor desa, mereka pasangan mesum. Ayo kita nikahkan mereka. Jangan biarkan desa kita sial karna ulah mereka." teriak orang yang menjadi propokator mereka.
Emeli membelalakan matanya, Dani juga merasakan hal yang sama. Dipastikan mereka semua salah paham. Aish, sangat menjengkelkan.
"Ayo kita bawa mereka," ucap mereka lagi sambil menarik Emeli dan Dani ke kantor desa.
Mereka sudah seperti tersangka pembunuhan, padahal mereka tidak enak-enak. Ini apa? Kenapa malah jadi seperti ini?
Emeli memejamkan matanya ketika dia di sidang penduduk desa. Pikiranya melayang jauh, sorot mata tajamnya mengarah pada Dani yang kini juga memandangnya dengan tatapan benci.
"Hubungi keluarga kalian," ucap kepala desa.
"Tapi kami tidak melakukan apapun," ucap Emeli.
"Kami tidak percaya," ucap Warga.
"Tolong jangan nikahkan kami, saya sudah ada calon dan dua bulan lagi kami akan menikah," lirih Emeli.
Dani membelalakan matanya, jadi gadis di sampingnya punya kekasih? Hais, kenapa malah memikirkan itu?
"Kami tidak mau tau, peraturan di sini seperti itu dan tidak bisa dibantah. Kami akan mengurus segala sesuatu tentang pernikahan kalian di sini. Jadi sebelum surat-surat itu keluar, kalian malam ini kami nikahkan siri dulu," ucap kepala desa.
"Lalu, selama menunggu apa kami boleh pulang?" tanya Dani.
"Tidak boleh, bisa-bisa kalian kabur. Kalian boleh keluar dari sini sesudah beres pernikahan dan pesta pernikahan." ucap kepala desa lagi.
"Tapi kami harus bekerja pak," ucap Emeli prustasi.
"Tidak ada alasan, kalian harus menjalani hukuman sampai berkas pernikahan tuntas. Sekarang hubungi keluarga kalian dan kita laksanakan pernikahan yang sah menurut agama dulu. Setelah itu, kalian bisa tinggal di rumah dinas di dekat kantor desa itu," ucap pak lurah sambil menunjuk rumah sederhana di sebrang sana.
Emely dan Dani hanya bisa pasrah, kini dani menghubungi papanya. Mendapat pesan dari Radit bahwa Micel sudah siuman membuatnya sedikit lega. Tadinya Radit menelponya, tapi sayangnya dia tidak mendengarnya.
Tak berapa lama kemudian, dua buah mobil berwarna silver dan merah berhenti di depan kelurahan.
Mata Dani dan Emeli sama-sama membelalak sempurna. Pasalnya yang mereka lihat adalah Hendra wijaya, asisten pribadi Reanaldi Mahendra MRD grup dan Rezidhan Alvino Pradikta, Pradikta group.
Bahkan Vino dan Tuan Hendra kini saling menatap. Apa yang terjadi Pada Rhakayla Emely pradikta dan Ardani Rahardian Wijaya?
__ADS_1
❤❤❤🎀🎀🎀🎀