Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 31


__ADS_3

Zifana enggan mengedipkan matanya, pandangannya terpaut pada sosok gagah yang pasti sangat di dambakan oleh setiap wanita.


Ini pertama kali wanita itu bertemu dengan Radit, meskipun namanya sudah familiar di telinganya. Rasa kagum menghampirinya. Jatuh cinta? Pastinya, siapa yang mampu menolak pesona seorang Marvel Raditia Dika?


"Aku pergi dulu menemui rekanku," ucap Radit lagi.


Zifana menatap kearah Radit yang terlihat dingin dan tak tersentuh. Namun sanggup membuat gelora di hati seorang Zifana membara.


Ya, Radit mampu menarik perhatian Zifana dan membuat wanita itu jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Sayang, kenapa buru-buru? Mama sengaja mengundang Zifana datang kesini untuk berkenalan denganmu. Lalu apa kamu setega itu meninggalkan dia?" tanya Mama Mira dengan sorot mata berbinar dan tajam menatap ke arah Radit.


Radit diam, dia tau mamanya tengah melakukan drama. Mau tidak mau dia harus meladeninya.


"Aku harus menemui teman-temanku, bukankah mama dan nenek tidak sedang sibuk? Biarlah Zifana bersama kalian," tegas Radit dengan tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


"Marvel, kamu kok begitu, Nak. Sebaiknya kamu ajak juga Zifa bergabung. Dengan begitu kalian bisa mengobrol dan saling mengenal," ucap Mama Mira dengan tersenyum seakan memaksa.


"Tante, Zifa jadi tidak enak mengganggu waktu Marvel. Sebaiknya aku disini bersama tante dan juga nenek," lirih Zifana.


Nenek Amy tampak tersenyum, sejauh ini Zifana adalah wanita baik, berasal dari keluarga selevel dengannya. Karir cemerlang, ramah, anggun dan tidak neko-neko. Kriteria yang pas untuk Marvel cucunya.


"Marvel, mamamu mengundang Zifa kesini untuk berkenalan denganmu. Bukan untuk bersama kami, alangkah lebih baiknya kalian saling mengenal," ucap Nenek Amy.


Radit menghela napas panjang, jika yang meminta neneknya, dia tidak sanggup menolak. Radit menatap wanita cantik yang kini ada di hadapannya.


Radit yang memang terkenal suka bermain wanita itu pada akhirnya terdiam dan menatap ke arah Zifana.


"Okey, mari bergabung," ucap Radit kemudian melenggang pergi.


Zifana tersenyum ke arah Nenek Anu dan Mama Mira, kemudian melangkah dan mengekor ke arah di mana Radit berjalan.


"Terimakasih Bu, karna mau membantuku," ucap Mira pada ibunya.


"Ibu hanya tidak mau ada keributan antara kamu dan Marvel. Karna itu sangat memalukan," ucap Nenek Amy kemudian melenggang pergi.

__ADS_1


Nyonya Mira menghela napas panjang dan mengeluarkannya pelan. Ibunya memang selalu memiliki pemikiran yang tak sejalur dengan apa yang dia pikirkan.


🎀🎀🎀🎀


Radit mendekati sahabat karibnya yang tampak berbincang hangat di sebuah menja bundar yang menyediakan beberapa minuman.


Mereka menikmati minuman kesukan mereka. Radit datang dan duduk di sebelah Delon, sedangkan Zifana masih saja berdiri menatap ke arah orang yang kini menatapnya dengan takjub karna kecantikan wajahnya.


"Wah, baru saja pergi sebentar sudah membawa bidadari. Cobalah kenalkan pada kami," ucap Delon sambil melirik ke arah Zifana.


"Kalian bisa bertanya sendiri dengannya," timpal Radit yang berhasil membuat wanita cantik itu tampak sedikit pias.


Namun, dengan cepat wanita itu menguasai dirinya. Zifana tersenyum memandang ke arah Delon dan mengulurkan tangannya.


"Zifana," ucapnya.


"Nama yang cantik, secantik orangnya. Duduklah Nona cantik," lanjut Delon lagi sehingga membuat Zifana tersipu.


Wanita cantik itu duduk dan menatap ke arah dua teman Radit lainya. Zifana mengulurkan tangannya pada Vino kemudian terakhir memperkenalkan diri kepada Niko. Zifana disambut dengan hangat oleh ke tiga lelaki tampan itu.


Radit seakan acuh, padahal Zifana tau banyak dari temannya jika seorang Marvel Raditia Dika adalah seorang casanova. Lalu, apa dirinya tak cukup menarik sehingga di acuhkan seperti ini?


Zifana memghela napas panjang, dia masih mencoba untuk bersabar menghadapi lelaki itu agar bisa mendapatkan perhatiannya.


"Marvel, tampaknya aku harus pamit. Hari ini aku ada janji dengan seseorang," ucap vino sambil mengibas jas kemudian menatap jam tangan yang melingkar di tangannya yang menunjukan pukul 13.00.


Radit antusias menatap ke arah Vino, sahabat baik yang sangat jarang berurusan dengan wanita itu. Radit mengangkat ujung bibirnya dan menimbulkan senyuman yang mampu melelehkan hati wanita yang melihatnya.


"Kau akan kencan?" tanya Radit.


Vino tertawa kemudian berdiri dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Tampaknya," ucap Vino sembarangan. Padahal dia hanya ingin bertemu dengan seorang desainer ouner dari SheyNa bontique.


Namun, ingin jujur rasanya tidak enak karena Zifana wanita yang ada diantara mereka juga seorang Desainer.

__ADS_1


"Wah, tampaknya kita harus merayakan hari dimana Vino mempunyai wanita impian. Bagaimana jika malam nanti kita ke club bersama?" tanya Delon pada ke tiga temannya.


"Wah, ide yang bagus. Bagaimana menurut kalian?" tanya Niko sambil mengarahkan pandangannya pada Vino dan Radit.


"Aku setuju," jawab Vino. Kini mereka menghadap ke arah Radit yang tampaknya sangat malas.


Radit dirasa mereka banyak berubah, tampaknya hobbynya bermain wanita sudah tidak lagi segila dulu.


"Marvel, kau tidak setuju? Apa karna kau sudah bersama Zifana sehingga kau mengabaikan ajakan kami?" tanya Nico.


Zifana tampak tersenyum, paling tidak sahabat Radit telah memberikan sinyal bahwa mereka mendukung kebersamaan mereka.


"Jangan ngaco, bahkan kami baru bertemu sekali ini," ucap Radit sambil menatap ke arah tiga sahabatnya. Zifana tampak sedikit geram.


"Kenapa Marvel Raditya Dika sedingin ini? Apa benar dia gila wanita? Kenapa lelaki ini tampak misterius? Bahkan untuk menarik perhatianya begitu sulit.


"Ini suatu tantangan bagiku, okey Marvel aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku nantinya," batin Zifana.


"Maaf, kalian lanjutkan mengobrol. Tampaknya aku harus segera pamit," Zifana menyela sambil menatap empat orang bergantian.


"Apa kau tidak mau barengan denganku nona cantik?" goda Nico. Zifana hanya tersenyum kemudian memandangnya.


"Terimakasih atas tawarannya Tuan Nico. Saya bersama dengan asisten saya," jawabnya.


"Kalo begitu saya duluan, Tuan Marvel, Tuan Nico, Tuan Delon dan kau Tuan Vino," ucapnya.


"Hem, hati-hati Nona Zifana. Aku harap kita bertemu lagi, oh ya jangan sungkan memanggil kami. Sebaiknya panggil nama saja, bukankah begitu kawan?" ucap Delon sambil menatap ke arah Radit. Radit hanya tersenyum datar.


"Terimakasih, senang bertemu kalian. Saya pamit dulu," ucap Zifana kemudian melenggang pergi.


"Kau mengabaikan wanita secantik itu Marvel? Apa kau telah sembuh dari kegilaanmu? Atau kau memikirkan wanita bayaranmu?" goda Nico lagi. Radit menatap ke arah tiga sahabatnya dengan tenang. Wanita bayaran? Senyum tipis menghias sudut bibirnya. Wanita berkerudung itu melintas di otaknya.


"Jangan membahas wanita yang dikenalkan ibuku. Bolehlah kapan-kapan kita minum bersama, tentukan dimana kita akan berkumpul. Kalian bisa menghubungiku nanti," ucap Radit sambil tersenyum ke arah ke tiga temannya.


🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀

__ADS_1


Like, komen, hadiah, ojo kendor yok


__ADS_2