Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Terluka


__ADS_3

Micel melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana wanita itu berada. Micel yang merasa wanita itu dalam bahaya memutuskan untuk segera keluar. Micel menghela napas dalam dalam, menghirup angin segar untuk melegakan dadanya yang terasa sesak sambil memandang langit siang yang sangat cerah.


Netranya menangkap bayangan beberapa orang yang mencurigakan di sudut ruangan. Dengan mata tajamnya Micel mengawasi setiap gerak dua orang itu. Mereka berdusel di kerumunan dan menghilang entah kemana.


Michel yang merasa penasaran mengikuti jejak langkah lelaki bertubuh besar itu. Michel melirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 13.00, itu artinya masih ada waktu untuk bermain-main karna Vino pulang sekitar jam tiga, Michel mengikat rambutnya, sorot mata tajamnya terus saja mengawasi pergerakan lelaki itu.


Diapun mencoba menyusuri kerumunan. Micel memejamkan mata indahnya, bahkan dia tidak tau kenapa dia bisa seberani ini?


"Ana, kamu dimana Nak?" tak lama dari itu, seseorang histeris mencari anaknya.


Micel menghentikan langkah kakinya, merasa ada sesuatu yang aneh. Dengan langkah yang cepat dan sorot mata waspada, Micel mencari keberadaan dua orang yang mencurigakan tadi. Di sudut ruangan mata Micel mendapati orang itu.


Micel berlari, sebuah balok kayu menjegal langkahnya tiba-tiba. Micel tersungkur di lantai, seseorang mencoba memukulnya dari belakang. Dengan cepat Micel berguling ke samping dan menghindar.


Micel bangkit dan berdiri. Netranya menatap dua orang di depannya, mereke terus menyerang tanpa ampun. Dengan sorot mata tajam Micel mencoba mencari titik lemah yang sanggup melumpuhkan mereka.


"Bawa mereka menjauh, amankan mereka!" teriak orang tinggi besar di hadapan Micel pada anak buahnya yang ada di sebrang sana.


Micel panik saat melihat anak kecil yang mulutnya disumpal kain dan tangannya di tali. Anak kecil itu hanya tampak mengeluarkan air mata. Dua orang membawanya pergi dan entah kemana.


Entah kenapa Micel merasa kasihan dan tak terima jika anak kecil itu diperlakukan seperti itu, seakan dirinya mempunyai tanggung Jawab harus melindungi mereka.


Dua orang di depannya masih saja menyerangnya. Micel mencoba mengalihkan perhatian mereka, benar saja Micel mengecoh mereka dan berlari sehingga dua orang itu kehilangan jejaknya.


***


Micel melihat anak kecil diseret paksa dan digendong kemudian di masukkan ke dalam mobil. Micel yang sejak tadi memang mengikuti pelaku itu tampak waspada. Diikutinya pergerakan preman itu dalam setiap langkahnya.

__ADS_1


"Apa yang akan mereka lakukan?" batin Micel.


Micel berlari saat beberapa preman bertindak gegabah dan menyakiti fisik anak kecil itu.


Dengan gerakan cekatan Micel menendang bagian tubuh orang yang sedang mencoba masuk ke dalam mobil. Orang itu berbalik arah dan menyerang Micel. Satu orang lagi keluar dan mereka berdua bersamaan menyerang.


"Argg, " keluh Micel saat dia berhasil di tumbangkan dan tersungkur di bawah. Sorot mata tajamnya mengamati dua orang yang maju mendekatkan padanya.


"Wah, selain cantik gadis ini juga sangat pandai, sepertinya kita harus menghabisinya!" ucap orang itu sambil menatap Micel dengan beringas.


Micel membuat satu gerakan yang sanggup membuat salah satu dari mereka tersungkur juga. Dengan gerakan cepat Micel bangun dan disambut gerakan serangan cepat dari lawan satunya.


Micel terkejut manakala netranya menangkap orang yang tumbang mengeluarkan pistol dari sakunya. Tampak orang itu tertatih bangun, Micel menepi dan mencoba mengecohnya. Dengan cekatan Micel berlari mendekat kearah dimana laki-laki itu berada.


Micel membagi gerakan menendang dan berputar sehingga pistol itu jatuh terpental. Sebuah kerikir membuat kakinya terpeleset, Micel memejamkan mata indahnya. Entah kalah ataupun menang ia pasrah saja. Bahkan dirinya kini merasa pernah melakukan hal yang sama. Bayangan apa ini? Keluhnya di waktu yang sangat urgent itu, kepalanya terasa berat. Micel merasakan lemas.


Micel menatap sorot mata orang di depannya sejenak Micel tidak asing dan merasa mengenalnya dengan baik.


"Kak Nico,"


Lelaki itu terkejut dan merengkuh Micel saat musuh mulai menyerang. Lelaki itu memanggul Micel diatas pundaknya, membuat Micel terkejut dan merasakan denyutan hebat saat lelaki itu membawanya untuk berkelahi.


Micel menangkap pemandangan yang tidak enak saat seorang laki-laki yang membawa senjata api, menekan pelatuk untuk melakukan aksinya.


Dekat dan semakin dekat. Dengan gerakan cepat, Micel melompat dari orang yang memanggulnya. Micel mendorong tubuh Nicho yang tadi merengkuhnya, kemudian berlari menghindari peluru itu.


Laki-laki bersenjata itu tersungkur saat Nicho mengayunkan kaki di dada orang itu. Dengan gerakan cepat Nicho kembali menyerang dan menghajar penjahat itu tanpa Ampun.

__ADS_1


Merasa Aman, Micel mendekat ke arah mobil untuk menyelamatkan anak kecil itu. Di sebrang sana, Rendi yang dari tadi mencari Micel dengan bingung terkejut saat melihat Micel dalam bahaya.


"Gadis, kenapa membahayakan nyawamu? Minggir lah!" ucap Rendi yang berteriak ditengah susah payahnya menyerang musuh yang baru saja datang menyerangnya.


Micel tak mengindahkan omelan laki-laki itu, dia malah sempat terkejut melihat Rendi di sana. Dengan sigap gadis itu membantu Nicho dan Rendi ketika banyak orang berdatangan ke arah mereka. Ketigannya berhasil melumpuhkan lawannya.


Tanpa sadar, ditengah napas yang ngos-ngosan, dari arah belakang seseorang hampir saja menembak Micel. Dengan insting yang begitu kuat, gadis itu membuat satu gerakan yang membuat pistol itu lepas dari genggaman pemiliknya. Tak puas karena gagal menembak, salah satu dari mereka melemparkan sebuah Belati pada Micel.


Gadis yang kini tengah menyerang itu tak tau jika dirinya menjadi fokus belati itu melesat. Disaat yang urgen itu, sebuah tangan menghalangi sampainya belati di lengan Micel. Akan tetapi, belati itu menyayat di lengan lelaki yang baru saja datang itu.


Micel membelalakkan mata indahnya, melihat Vino terluka. Lelaki itu adalah Vino, orang yang telah sah menjadi suaminya. Melihat darah segar menetes membuat dirinya mematung.


"Gadis, pergilah!" Micel hanya diam dan menatap ke arah Vino yang terus menyerang meski dengan lengan yang menyedihkan.


Vino membelalakkan matanya saat seseorang hampir saja menyerang Micel dari belakang. Vino dengan cekatan menangkap tubuh gadis itu dan membopongnya.


"Aku tidak papa, turunkan aku! Kau terluka Kak," teriak gadis itu sambil memukul dada bidang Vino. Sejenak Vino merasakan detak jantung tak beraturan.


"Mata itu," gumamnya.


Micel menatap ke arah Vino, keduanya saling memandang dan saling menatap. Di waktu yang bersamaan, netranya mendapati anak kecil disana harus segera di tolong. Micel memaksa turun kemudian berlari mendekati mobil dimana anak kecil yang diculik berada.


Vino kembali menyerang orang bertubuh besar yang tadi menyerangnya.Vino berhenti, netranya menatap ke arah Micel yang berada di sana. Tampaknya seseorang yang tersungkur di dekat mobil kini kembali bangkit dan membawa belati yang tajam. Khawatir pada istrinyaa, Vino berlari mendekat ke arah Micela.


Micel menggendong bayi lima tahun yang kini dia selamatkan. Akan tetapi, dirinya tak sadar jika akan ada hal buruk menimpanya.


"Micel, Awas!!"

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2