Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Bebaskan aku


__ADS_3

Vino dan Micela yang tadinya saling berdiam kini saling berpandangan. Tadinya enggan bertanya ataupun atau sekedar basa-basi semata. Tapi saat ini tidak bisa, Vino terlanjur membuat ketidaknyamanannya hatinya.


Vino melirik Micela yang tadinya fokus pada jalanan. Kini menatap dirinya dengan tajam. Tak ada keinginan untuk memulai obrolan.


Vino menambah kecepatan mobilnya, Micela bergerak kesana kesini karna takut. Micela yang tadinya geram berganti menjadi panik dan memejamkan matanya. Dia mengeratkan pegangannya pada dasboar depan.


"Kak, ada apa? kenapa mobilnya seperti ini?" ucapnya.


Beberapa menit kemudian, Vino menghentikan mobilnya di sebuah Vila yang indah. Vino dan Micela menghela napas panjang, mereka saling berdiam dan saling berpandangan. Perasaan lega menghampiri Micel saat mobil telah berhenti dengan sempurna.


"Ada apa? Kenapa kita kesini? Katamu pulang?" ketus Micela sambil menatap tajam ke arah Vino.


Vino mengernyitkan dahinya, dari tadi gadis di sampingnya hanya diam seribu bahasa dan sekarang berteriak keras sekali? ucapan Micela berhasil membuat Vino sedikit terusik.


Tanpa menjawab ucapan Micela, Vino keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya keluar.


"Shitt." umpatnya saat melihat ban mobilnya kempes. Vino memang sengaja melajukan mobilnya dengan cepat agar cepat sampai Vila, dia merasakan ada yang tidak beres dengan mobilnya. Dia tidak mau terlunta di jalanan jika sesuatu terjadi. Dan benar saja, ban belakangnya kempes, dan itu membuatnya menggelengkan kepalanya.


Micela keluar dari mobil dan menatap Vino dengan sorot mata tajamnya. Ini benar-benar menguji kesabarannya.


Micela sedikit terkejut mendapati kenyataan ini, pasalnya mereka harus pulang sekarang. Kenapa malah kempes? Vino mengambil ponselnya dan menghubungi Willy, namun asistennya itu tak juga mengangkat panggilan darinya.


"****," umpatnya lagi.


Micela juga tampak kesal saat menekan ponselnya dan gagal mendapatkan jaringan.


"Kita harus bagaimana?" tanya Micela ketus membuat Vino mengalihkan pandanganya menatap gadis cantik yang berdiri di belakangnya.


"Apa kau tidak melihat, kita bisa bermalam di sini? Ini semua terjadi karna kau menyusahkan. Pergi tanpa kabar dan membuat semua orang panik," ketus Vino sambil melangkah menuju ke arah Vila. Micela membelalakan matanya.


"Kenapa menyalahkan aku?" bentak Micela lagi sambil mengikuti langkah Vino.


"Ini memang salahmu," ucap Vino sambil terus berjalan. Micela merasakan sesak yang mendera perasaannya. Ingin segera bertemu Mama Elina dan manusia laknat di depanya menghentikan mobilnya disini dan bilang akan bermalam disini? Tak bisakah mengupayakan untuk bisa pulang dengan mencari bantuan? Benar benar menguras emosi.


"Apa kau tau Tuan Vino yang terhormat, aku hanya mencoba mencari kebahagiaan yang sampai saat ini tak pernah aku dapatkan. Aku rasa sah sah saja, kau tidak memperdulikan aku kan? Lalu kenapa juga harus mencariku?" ucap Micela dengan tegas.


"Jangan mimpi mendapatkan kebahagiaan dari orang lain. Karna aku tidak akan pernah membiarkan..." ucapan Vino menggantung di tengah jalan.


"Apa?" tanya Micela.

__ADS_1


Wanita itu seakan mengintimidasi Vino. Vino tampak pias, mengatakan pada wanita di depannya jika dia tidak akan membiarkan wanita itu bersama lelaki lain? bukankankah itu akan membuat Micela berpikir dia cemburu?


"Apa?" tanya Micela lagi. Vino mengalihkan pandanganya.


"Lupakan," ucap Vino setelah sampai di depan pintu. Vino membuka pintu Vila. Micela menghela napas panjang.


Ceklek


Pintu terbuka, Micela masuk mengikuti langkah Vino. Netranya mendapatkan pemandangan yang indah di Vila ini.


"Sebaiknya kita pulang, aku ingin bertemu Mama," ucap Micel sambil memutar langkah kembali keluar Vila.


Vino mengepalkan tangannya dan mengeratkan rahangnya. Marah, kenapa harus marah? Bukankah memang seharusnya mereka pulang?


"Aku bilang kita bermalam di sini, apa kau bodoh sehingga tidak bisa melihat situasi?" tanya Vino sambil melangkah mengikuti langkah Micel keluar. Merasa diabaikan, Vino menarik tangan Micela dan meraih pinggang ramping Micel.


Keduanya sama sama terkejut, tidak menyangka tarikannya membuat adegan seintim ini. Akan tetapi Vino mendapat kenyamanan yang tak pernah dirasakan. Vino merasa damai memeluk istrinya seperti ini.


Micel juga terdiam, yang benar saja, dirinya yang tadi emosi merasakan kenyamanan yang luar biasa di dalam pelukan Vino. Micel masih terkejut ketika Micho melakukan hal ini padanya.


"Kak, lepaskan aku!" pinta Micela. Hatinya sesak. Dia takut terjebak terlalu panjang pada kisah pernikahan yang belum mendapatkan cinta suaminya itu.


"Kak, jangan seperti ini. Aku mohon lepaskan aku !" berontak Micela mencoba melepaskan pelukan Vino.


"Aku bilang diam Nona Micel," bentak Vino.


Micel tersentak kaget dan mematung, air mata Micel meleleh tanpa diminta, membasahi wajah cantik yang kini ada di dalam dekapan Vino.


Sebenarnya dia merasakan hangat dan nyaman di sana, ia juga bisa mendengar dan merasakan dan detak jantung Vino yang tak beraturan. Micela memejamkan matanya dan mengumpulkan kekuatan, ia tak kuat lagi merasakan gejolak jiwanya. Dia takut akan terluka untuk yang ke sekian kalinya karena ulah suaminya. Micela mendorong tubuh Vino.


Vino beringsut mundur, mereka saling berhadapan. Vino dapat melihat dengan jelas air mata yang membasahi wajah cantik Micela.


"Jangan memperlihatkan air mata yang tak berguna itu dihadapanku," ucap Vino dengan sorot mata tajam.


"Ingat, sekarang kau adalah milikku. Aku bebas melakukan apa yang aku inginkan!" seru Vino lagi. Micela memejamkan matanya menahan sesak di dadanya.


"Aku bukan barang yang hanya sekedar dimiliki tetapi tidak dianggap. Aku punya perasaan dan hati. Sebaiknya kita mengusahakan untuk bisa pulang," ucap Micel lagi.


"Hentikan langkahmu, Nona Micel," tegas Vino yang seperti remot yang langsung membuat Micel terhenti.

__ADS_1


"Aku takut mama hawatir, beliau sudah menghubungiku beberapa kali, sebaiknya kita pulang," ucap Micela lagi sambil menatap ponselnya yang mendapatkan sedikit signal.


Micel mencoba menghubungi Mama Elina, tetapi Vino dengan tenang mengambil ponsel Micel.


"Berikan padaku," Micel melangkah maju. Vino melangkah mundur.


"Berikan aku bilang," ucap Micel lagi mengikuti langkah Vino. Vino mengataskan tangannya agar Micel tak bisa mengambilnya.


Micel tampak geram dan melompat, namun dia tak bisa mendarat sempurna ketika kakinya tiba tiba terseleset. Micel memejamkan mata indahnya, takut bila dia terjatuh. Dengan sigap Vino meraih pinggang Micel, mengangkat tubuh Micel dalam rengkuhanya. Mereka saling memandang dan hanyut dalam suasana hati yang entah bagaimana.


Disaat seperti itu, Vino menekan tombol kamera dan mengambil gambar yang terlihat sangat romantis itu.


Ma, aku di puncak bersama Micel. Jangan menunggu kami. Ada sesuatu yang ingin aku lakukan, Vino. Kirim


"Apa yang kamu lakukan kak?" tanya Micel. Bukankan kau hawatir jika mama menunggu? aku sudah mengirim pesan padanya kau tak usah khawatir lagi," ucap Vino sambil menurunkan tubuh Micel. Dan melangkah pergi.


"Kak, lepaskan aku dari pernikahan yang tak jelas ini," ucap Micel pada Vino.


Deg, dada Vino terasa sesak. Vino menghentikan langkahnya. Memutar lagi langkahnya dan menatap ke arah Micel yang menatap dirinya dengan kesedihan. Mereka menikah belum genap satu bulan dan Micel meminta cerai? Apa hidup dengannya sangat menyakitkan?


"Pernikahan tetap pernikahan. Pernikahan ini sah di mata agama maupun hukum. Kau istriku, Micela." tegas Micho.


"Aku tak sanggup lagi hidup berdampingan dengamu Kak, biarkan aku pergi," ucap Micela tegas. Vino menatap wajah cantik di depannya. Hatinya merasakan sesak, sesak sekali.


"Jangan harap aku membebaskanmu semudah itu." tegasnya.


"Ya, aku tau aku tidak mempunyai kebebasan Tuan Vino. Aku tau semuanya tergantung padamu karna statusmu adalah suamiku. Tapi aku tak sanggup," sentak Micela.


"Hentikan omong kosongmu Nona Micela," bentak Vino.


"Lalu apa maumu sebenarnya? katakan padaku apa yang kau inginkan? " bentak Micela lagi.


"Apa Artinya kau mau pernikahan kita nyata, dan bukan hanya status saja?" tanya Vino sambil mengusap pelan pipi mulus Micela. Mendekatkan wajahnya pada Micela.


Memandang wajah cantik itu tak mampu menahan hasrat kelelakiannya. Vino mengepalkan tangannya erat. Membebaskan Micela memang pada akhirnya dia lakukan jika diluaran sana aman. Apa lagi dia tau Micel bisa menjaga dirinya. Akan tepapi kenapa dia tak terima dengan permintaan Micel? Kenapa dia enggan melakukan padahal Asila sudah kembali?


Micel memejamkan matanya, menahan sesak yang mendera. Menikah yang ada di bayangan otaknya begitu indah. Tidak se menyakitkan ini.


"Kau tetap harus berdiri di sampingku. Meskipun saat ini belum saling mencintai," ucap Vino kemudian melenggang pergi. Micel mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Dia terdiam dan memandang punggung Vino yang menjauh darinya.

__ADS_1


🌹🌹🌹❤❤❤


__ADS_2