
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersyukur Aku pada Allah Sang Maha Pencipta langit dan bumi, Dia memberi Aku hidup dalam keindahan. Memberikan hidup yang nyaris sempurna. Papa yang sayang aku, mama yang mendukungku. Sepupu yang sang sangat kompak dan sangat membahagiakan. Aku bahagia dengan apa yang aku miliki. Aku mencintai kalian semua. Semoga selanjutnya keadaan seperti ini, meski aku tau semua tak selamanya seperti apa yang kita mau.
Maharaya...
Raya menutup buku harianya, gadis dua puluh tahun itu menatap ke arah jendela kamar. Di bawah sana terlihat papa, mama, dan beberapa orang sedang asik bermain badminton. Gadis cantik yang baru saja wisuda kelulusan itu tampak tersenyum, ingin dia bergabung ke sana. Bersama papa, mama dan juga keluarga yang sedang bermain-main di mansionnya.
Raya meletakan buku kemudian segera keluar kamar, langkah tenangnya menuju ke arah berkumpulnya orang-orang yang sangat dia sayangi. Raya melangkah menapaki anak tangga demi anak tangga dan sampailah dia di taman belakang rumahnya.
"Sore papa, mama, Om Willy, tante Gisel, dan elo sepupu menyebalkan-menyebalkan gue," ucap Raya sambil memberikan ciuman hangat pada anggota keluarganya.
"Sore sayang, bahagia sekali anak Mama dan papa," ucap Zifana yang kini menatap putri cantiknya sudah besar, dua puluh tahun sudah usianya. Zifana mengusap puncak kepala Raya.
"Bahagia dong Ma," sahut Raya dia merangkul mama yang masih sangat cantik di usia paruh baya.
Delon terkekeh dan merangkul pundak putri tercinta, cantik, berhijab, sangat mirip dengannya, akan tetapi sedikit bandel dan keras kepala.
"Harus bahagia," sahut Delon.
"Pastinya dong Pa," sahutnya.
Zifana hanya menggeleng, kalau sudah Raya dan Delon bersama. Mereka seperti satu kesepakatan yang tak terpisahkan, sangat kompak, meski sebenarnya cinta Raya untuk mamanya juga sama besarnya.
"Raya pasti bahagia dong, dua tahun lulus kuliah. Ini mengejutkan, tante dan om bangga padamu," ucap Gisel sambil mengusap puncak kepala keponakan cantiknya.
"Ini membahagiakan, sangat membahagiakan. Ini karna dukungan kalian semua," ucap Raya yang tak mau sombong itu.
"Pastinya karna aku juga kan?" sahut Riva. Sepupunya.
Raya melangkah dan berhenti saat dia berhadapan dengan Riva dan Revan, putra putri kembar Willy dan Gisel. Sepupu yang dekat, tapi sering debat dengannya.
"Pasti, karna elo yang selalu aku repotkan. Malam ini keluar yuk," ajak Raya.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Revan yang paling kesel kalau harus jadi supir dari dua adik perempuanya itu.
"Bioskop deh, entar aku yang traktir kita bertiga, tanpa penjaga," ucap Raya.
"Gaya loe, emang boleh sama om Delon kalau tanpa mereka?" tanya Revan pada Raya yang pesimis diizinkan.
"Boleh kan Pa," ucap Raya sambil mengarahkan pandangannya ke arah Papanya.
Delon tampak berpikir, sebenarnya dia tidak pernah mengekang putrinya. Akan tetapi melihat putrinya yang istimewa cantik sama seperti mamanya, dia seakan tak bisa membiarkannya keluar dengan gampang dan keluar tanpa penjagaan.
Revan dan Riva terkekeh, memang omnya itu selalu
susah untuk dimintai izin.
Mendapati papanya yang susah dimintai izin, Raya mendekat dan merangkul pundak papanya. Zifana tersenyum, apa yang akan dilakukan putri manjanya?
Gisel dan Willy hanya terkekeh melihat ini. Selain Zifana, Delon apa akan luluh pada rayuan putri cantiknya?
"Pa, boleh ya. Apa papa nggak kasian gitu sama Raya. Raya dibuli sama mereka, padahal papa kan baik. Boleh ya Pa. Kali ini aja, tanpa penjaga pa. Lagian sama Revan dan Rifa kan, boleh ya Pa," ucap Raya sambil memijit-mijit pundak papanya.
"Sayang, kasih izin dong. Lagi pula hari ini Raya wisuda, biarkan dia bahagia dengan merayakan kelulusannya," ucap Zifana sambil menatap Delon.
Wily dan Gisel terkekeh, Nyonya Zifana turun tangan.
Delon melepas tangan Raya dari pundaknya, kemudian menatap putri cantiknya.
"Kau bisa menjamin akan baik-baik saja tanpa penjaga?" tanya Delon dengan tatapan tajam.
"Hem," sahut Raya.
"Tapi papa jangan melotot gitu sih, Raya takut. Seriusan," ucap Raya pada Delon. Delon terkekeh dan mengacak puncak kepala Raya. Zifana terkekeh, Raya putri satu satunya, dan wajar sekali jika Delon sangat menjaganya.
"Oke papa izinkan, akan tetapi papa tidak mau dengar apapun penjelasan saat sesuatu terjadi padamu. Itu karna kecerobohanmu dan kamu harus dapat hukuman," ucap Delon.
Raya mencium pipi Delon dan tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih, papa, terimaksih mama yang udah bantu aku merayu papa. Raya janji akan baik baik saja," ucap Raya.
"Oke, papa percaya padamu," ucap Delon.
"Kalian siap-siap ya, aku mau shalat asyar dulu. Kita akan segera berangkat nantinya," ucap Raya pada dua sepupunya.
"Siap," sahut Rifa dan Revan.
"Makasih Pa, Ma,"ucap Raya.
"Om, tante, aku ke atas dulu ya," pamitnya kemudian melenggang pergi.
"Om, tante, papa, mama, kami pulang dulu," ucap Revan dan Riva bersamaan. Mereka mencium tangan Zifana dan Delon.
"Hati hati," sahut Delon.
Delon menatap ke arah Gisel dan Willy.
"Kalian mau pamit juga?" tanyanya dan diangguki oleh adiknya.
"Iya kak, udah sore. Sampai jumpa minggu depan," ucap Gisel.
"Aku pamit Zie," ucap Gisel lagi dan diangguki oleh Zifana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oke papa izinkan, akan tetapi papa tidak mau dengar apapun penjelasan saat sesuatu terjadi padamu. Itu karna kecerobohanmu dan kamu harus dapat hukuman.
Di sebuah ruangan, seorang lelaki tampan tersenyum sinis saat mendengar rekaman suara Delon, dia mengetikan sesuatu pada orang lain.
Jalankan misi dengan baik, aku tidak mau gagal. Awal mula harus tertata dengan apik. Kirim.
Senyumanya semakin mengembang saat membayangkan sebuah awal kehancuran yang akan dibuatnya di dalam keluarga Wilantama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1