Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
Bercengkrama


__ADS_3

"Sekarang makanlah, aku membawa buah untukmu di dalam," Vino berbicara. Micel menoleh dan tersenyum.


"Aku masih ingin di sini saja kak, entah kenapa aku seperti mengingat hal yang aneh. Bahkan aku tidak tau apa itu," ucap Micel.Vino melihat gurat kesedihan di wajah istri kecilnya itu.


"Tidak perlu memaksa ingatanmu, kau sedang sakit. Nikmati fase ini, aku yakin suatu saat nanti kau akan mengingat semuanya," sahut Vino.


Micel mendudukkan bokongnya di kursi, membenahi duduknya dan mengambil minuman hangat yang di ada di meja. Gadis cantik itu menyeruput teh yang diambil sambil menikmati pemandangan di depannya.


Vino mengambil alih cangkir Micel dan membantu memegang cangkir itu. Micel menatap Vino dengan tenang, dia benar-benar takjub dengan perubahan sikap suaminya. Vino meletakkan cangkir itu ke atas meja kembali setelah Micel meminumnya.


"Kakak mau? Aku akan membuatkan untuk kakak," tawar Micel pada Vino.


"Tidak, duduklah. Aku akan mengambil buah untukmu yang ada di dalam," ucap Vino dan diangguki oleh Micel.


Micel bermain ponsel dan berpose cantik ke arah kamera.


"Apa hasilnya cantik?" tanya Vino yang kini sudah kembali lagi sambil membawa nampan dan meletakkan di depan Micel.


"Jangan bertanya, kakak seharusnya tau kalau aku memang sangat cantik," jawab Micel Narsis.


"Aku pikir itu karna pertolongan filter kamera," ucap Vino ketus. Walaupun hubungan mereka mulai membaik, akan tetapi sikap menyebalkan Vino ternyata masih saja melekat di dalam dirinya.


Micel mencebikan bibirnya dan terkekeh. Apa tidak ada yang menyadari bahwa memang dia sangat cantik? 😄


"Sepertinya kakak harus membuka mata lebar lebar agar bisa melihat kecantikan dari Micela adelia Dika," protes Micel sambil melirik ke arah Vinoo yang mendudukan bokongnya di kursi depan Micela.


Vino terkekeh kecil sambil menusuk satu buah mangga yang ada di nampan.


"Memang siapa saja yang bilang kau cantik?" tanya Vino sambil mengarahkan sendok garpu ke mulut Micel.


"Entahlah, yang jelas itu kenyataannya," jawab Micel dan mampu membuat Vino tertawa.


"Banyak orang yang mengagumiku sepertinya. Lihat saja, di geleri ponselku banyak sekali foto dengan kawanku," ucap Micel panjang lebar.


"Tapi kawanmu perempuan, bahkan kau tak sesekali berpoto dengan laki laki," ucap Vino dengan kekehan tawanya.


"Bukankah itu lebih baik? Apa kakak mau aku membuktikan bahwa aku bisa mendapatkan banyak lelaki?" jawab Micel yang semula santai menjadi sedikit ketus. Vino memejamkan matanya, rasanya dia salah mengucakan pertanyaan itu pada Micel. sudah jelas sekali bahwa memang sebenarnya istrinya sangat cantik.


"Apa kau berniat selingkuh Nona Micel?" tanya Vino sambil menatap lekat wajah Micel yang menatap ke arahnya.

__ADS_1


Micel menatap wajah tampan lelaki dewasa di degannya tersenyum dan mengulurkan tangan halusnya ke arah wajah Vino yang menatap dirinya dengan tenang.


"Kadang, yang terlihat baik baik saja itu sedang terluka. Yang terlihat tenang itu menghanyutkan, jangan berpikir aku sebaik itu. Bisa saja aku melakukannya jika kakak ingin membuktikannya," ucap Micel.


Deg


Jantung Vino berdetak tak beraturan, ucapan Micel seperti goreskan yang membuat luka di hatinya.


Vino tak menanggapi ucapan Micel ia berdiri dan mengibaskan tangannya membenahi celananya.


"Kau tidak mengantuk?" tanya Vino sambil mengulurkan tangannya kepada Vino. Micel menatap uluran tangan Vino, membalas uluran tangan Vino kemudian berdiri menatap ke arah wajah tampan yang kini menjalin persahabatan dengannya itu.


Deringan ponsel Vino terdengar, Vino melepaskan uluran tangan Micel kemudian mengambil ponselnya. Willy membuat panggilan untuknya, Vino segera menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan Willy.


"Ada apa?"


"Bos ada bahaya yang mengintai, kau ada dimana?" tanya Willy di sebrang sana.


"Apa yang terjadi?" tanya Vino sambil menatap Micel yang kini berdiri menikmati angin malam. Micel terdiam menatap Vino yang sedikit memelankan suaranya.


"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan, Bos." Willy berbicara dengan pelan. Vino mengerutkan keningnya dan tampak serius.


"Aku tidak bisa mengatakan di telepon, sebaiknya kita bicara, apa kau sangat sibuk sehingga sulit untuk menemuiku?" tanya Willy lagi. Vinoo menghela napas panjang, hatinya begitu penasaran.


"Aku bersama istriku," jawabnya santai. Willy tersenyum mendengar ucapan bos nya itu. Micel juga tampak tersenyum saat mendengar Vino mengakui dia sebagai istrinya di depan asistennya.


"Tampaknya kau sudah mulai terpesona dengannya, jika kau tak mau dengannya kau bisa memberikannya untukku. Aku siap untuk meminangnya," Vino mencoba untuk mempropokasi bosnya.


"Mau tidak digaji?" sentak Vino. Willy tertawa keras.


"Ampun Bos," ucap Willy di sebrang, masih dengan sisa tawanya.


"Besok kita bertemu," tegas Vino.


"Kalau besok masih sibuk, lusa pun tidak masalah. Nikmati kebersamaan bersama wanita secantik Nona Micela." ucap Willy sambil menutup ponselnya. Vino tampak kesal pada asistennya itu. Tapi semua itu bilang saat netranya mendapati Micel di depannya.


"Sebaiknya kakak tidur, istirahat. Bukankah besok kakak harus bekerja?" tanya Micel sambil mengamati rambut Vino yang bergoyang karna terpaan angin malam. Vino menyimpan ponselnya kembali dan menatap wajah Micel yang secerah sinar bulan malam ini.


"Aku sudah mengatur waktuku, kau tidak usah repot repot mengatur nya juga," ucap Vino kemudian memutar langkahnya.

__ADS_1


Micel menghela napas panjang dan menghembuskan kasar. Vino, lelaki itu memang masih menyebalkan terkadang baik, dan terkadang seperti singa.


Vino melangkah masuk, Micel mengikuti langkah suaminya. Tak Ada percakapan diantara keduanya. Micel merebahkan dirinya di ranjang, dan memiringkan tubuhnya.


****


Waktu menunjukan pukul 01.00 Nada yang semula berguling kesana-kesini membuka matanya dan melirik jam dinding yang berada di kamarnya. Dia menginginkan teh hangat, dan suaminya tak kunjung datang.


"Apa yang dikerjakan di dapur? " tanyanya pada dirinya sendiri. Nada menurunkan kakinya, ingin menyusul ke dapur juga. Akan tetapi, pintu kamar terbuka dan menampakkan wajah tampan suaminya.


Nada tersenyum saat melihat Radit membawa teh hangat dan biskuit di atas nampan.


Radit meletakkan teh hangat dan biskuit di atas nakas.


"Apa istriku sudah tidak sabar?" tanyanya sambil duduk di sebelah Nada. Mengulurkan secangkir teh pada istrinya.


Nada menatap Radit dan mengambil teh hangat itu.


"Aku sangat sabar, kamu tenang saja Yang," ucap Nada dengan senyuman indahnya.


"Dear, kau tidak berubah pikiran?" tanyanya pada Nada. Nada menggeleng pelan.


"Lima hari saja, anggap saja aku sedang liburan," ucap Nada. Radit menghela napas panjang.


"Aku ikut," ucapnya.


"Aku ingin menyendiri kenapa ikut?" sahut Nada.


"Aku bisa mengunjungi ibu, Papa dan Kak Micho. lagi pula mereka se kota dengan ibu dan ayah juga, aku tidak akan menggangu acaramu untuk menyendiri Nona," ucap Radit sambil mengusap lembut pipi istrinya.


"Lalu masalah Selena? Bukannya kau harus membuktikan semua padaku?" tanya Nada.


"Aku akan membuktikan semua, padamu juga. Tidak usah menghawatirkan itu Nyonya Marvel." ucapnya.


Nada menghela napas panjang, apa iya dia harus setuju? Bertemu dengan Kak Micho? Artinya dia juga ketemu dengan Amara, wanita yang pernah di cintai oleh suaminya. Nada memejamkan mata indahnya, dia menatap suaminya dengan tenang.


"Oke, kau boleh ikut dan kita menemui mereka juga. Asal kamu tidak bercita cita menjadi pembinor yang merebut Amara dari Kak Micho, kau sudah melakukan kesalahan dan belum terselesaikan, jangan menambah masalah lagi," ucap Nada dan mampu membuat Radit terkekeh.


"Mana ada seperti itu, Kau adalah yang terbaik Nona," ucapnya sambil tersenyum dan meraih Nada dalam dekapannya. Nada merasa lega. Walaupun nantinya dia berpisah rumah karna ingin menyendiri, setidaknya masih bisa dijangkau.

__ADS_1


😍😍😍😍🌹


__ADS_2