
Radit menghela napas dalam dalam, berpisah dengan Nada sebenarnya adalah hal yang sangat menyakitkan. Akan tetapi semuanya harus dilakukan. Mengingat tidak ada orang kepercayaan. Om Hendra Wijaya sibuk dengan perusahaan yang di kelola bersama kakek. Tidak mungkin juga dia membebankan perusahaan miliknya pada Om Hendra.
Telepon dari Klien membuatnya harus segera bersiap ke luar kota. Besok pagi pagi sekali dirinya harus sudah bertemu. MR Tan juga menjadwalkan pertemuan bersama di jam pagi. Tak ada waktu baginya untuk menunda lagi keberangkatannya.
Radit melirik ke arah foto Nada dan dirinya yang menempek di kaca depannya.
"Dear, jangan bersedih. Aku akan cepat kembali untukmu," Radit melirik ke arah ponselnya dan menghubungi kontak Delon. Sepertinya Delon bisa menemaninya ke luar kota malam ini.
"Malam Bro, terdengar suara Delon yang malas sekali di sebrang sana. Ada apa?" tanyanya dengan tenang.
"Kau ada kesibukan besok?" tanya Radit.
"Sepertinya sedikit senggang, kalaupun ada bisa dihendel oleh orangku. Apa kau memerlukan aku, Sobat?" tanya Delon dengan senyumannya.
"Ikut aku ke luar kota De, aku membutuhkan teman. Tidak ada Dani aku benar benar kerepotan," ucapnya.
"Malam ini?" tanya Delon.
"Hem, aku akan menghampirimu. Aku ada di sekitar mansionmu," jawab Radit santai.
"Aku menunggumu, jemput aku," jawab Delon.
"Aku segera datang, cepatlah!" pinta Radit. Delon segera mempersiapkan dirinya. Membersihkan dirinya kemudian keluar dari kamarnya.
Netranya bersi tatap dengan bundanya yang kini berdiri di depan pintu sambil membawa secangkir teh hijau.
"Bunda," ucapnya sambil menatap ke arah wanita berhijab yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun itu.
"Mau kemana?" tanyanya pada Delon yang kini berdiri di depan bundanya.
"Pergi sama Marvel," jawabnya.
"Marvel? Beneran Marvel?" tanya ibunya sambil menatap tajam ke arah Delon. Biasanya Delon akan mendatangi wanita dan ibunya tidak suka dengan apa yang dilakukan putranya itu.
"Beneran Bun, itu dianya udah di depan. Delon berangkat dulu, selamat malam bun," ucap Delon sambil mencium pipi ibunya.
"Hati Hati Nak," ucap ibunya sambil mengikuti langkah Delon menuju ke luar mansion.
Delon segera menghampiri Radit yang kini berada di luar pagar Mansionnya. Ibu Delon kembali masuk setelah memastikan Delon memang pergi bersama Radit.
"Malam Bro," segera Delon naik ke mobil. Radit menancap gas mobilnya.
__ADS_1
"Malam De, maaf aku mengganggumu," ucap Radit sambil menatap ke arah depan.
"Ada apa malam malam seperti ini berangkat? Bukankah kau bisa saja mengganti jam?" tanya Delon pada Radit.
Radit menghela napas panjang, sepertinya tidak mungkin bisa dia menyembunyikan sesuatu apapun dari Delon. Diserahkannya ponsel miliknya ke arah Delon. Delon mengambil ponsel Radit dan membuka pesan dari kontak yang bernama Selena.
Marvel, aku ingin bertemu,
Balas pesanku, kenapa tidak di balas?
Marvel, aku hamil. Aku mau kamu menikahi aku.
Radit mengusap kasar wajahnya sambil menatap ke arah Delon yang kini menatapnya sama bingung seperti Radit.
"Jadi karna pesan ini kau pergi malam malam?" tanya Delon.
"Biasanya Dani yang menyelesaikan. Tapi sekarang tak ada dia De, aku tidak bisa fokus bekerja jika begini," ucapnya prustasi.
"Apa kau yakin ini benihmu?" tanya Delon.
"Entahlah, aku tidak memikirkannya. Yang aku pikirkan adalah keadaan Nada, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Nada Nanti jika dia tau akan hal ini," ucapnya.
"Tiga bulan sudah kau meninggalkan semua hal buruk itu, kenapa baru sekarang ****** itu menghubungimu? Sepertinya dia hanya memanfaatkan situasi, melihat kau sedang di atas," ucap Delon.
Radit menghela napas dalam dalam, sejak menerima pesan itu dia tak bisa berpikir jernih. Perasaan Nada yang menjadi faktor utama yang mengganggu pikirannya. Bagaimana jika Nada tau, bagaimana jika Nada kecewa?
"Menurutmu dia mengada ngada?" tanya Radit.
"Tawarkan uang padanya, aku yakin dia menghilang nantinya," ucap Delon.
"Aku tidak mau jika sekedar hilang dan pada akhirnya muncul dengan kejadian yang sama," ucap Radit.
"Lalu apa maumu?" tanya Delon.
"Kau bantu aku untuk mengusut tuntas," jawab Radit.
"Aku atau orangku?" tanya Delon.
"Apa kau tidak ikhlas membantuku? Aku tidak bisa percaya pada orang lain De," sentak Radit. Delon terkekeh. Panik sekali sahabat baiknya ini, dia sangat mencintai Nada. Apa jika nanti menikah dia juga akan seperti itu? Mencintai istrinya seperti itu? Delon menggelengkan kepalanya, istri? Siapa yang akan menjadi istrinya nanti? Hais, kenapa sekarang dia malah ngelantur memikirkan hal yang tidak tidak?
"Oke, jadi kau ingi aku yang turun tangan langsung untuk membantumu begitu?" tanya Delon dan diangguki oleh Radit.
__ADS_1
"Aku memang bisa diandalkan, aku tidak kalah dengan asisten pribadimu itu Tuan," ucap Delon sambil terkekeh pelan.
"Aku tau itu De, makanya aku mengajakmu," ucap Radit.
"Apa hadiah untukku?" tanya Delon sambil menatap ke arah Radit.
"Apa yang kau mau? Kau sudah punya segalanya De," ucap Radit.
"Aku meminta satu wanita pun kau tak sanggup memberi, adikmu satu satunya kau serahkan pada Vino," ucap Delon sambil terkekeh.
"Vino aku percaya bisa menjaga Micel, kau itu bisa bergonta ganti lima wanita dalam sehari. Masih kurang?" sentak Radit dan membuat Delon terkekeh.
"Sepercaya itu kau pada Vino dan meragukanku?" tanya Delon. Radit hanya terkekeh pelan.
"Elo Ya, kenapa buka kartu? di dengar Readers dan sangat memalukan, kalo ada yang punya anak gadis mana bisa aku rayu kalau begini caramu," bisiknya pada Radit.
"Readers sudah tau kau itu memang buaya darat, tidak bisa di sembunyikan lagi De," ucap Radit.
"Mana ada, aku belum pernah sekalipun memperkenalkan wanitaku di publik readernya othor ramah." sanggah Delon.
"Memang, othor masih sibuk dengan aku dan Nada, Vino juga Micel, tapi tenang saja kau tetap akan publis juga nantinnya," ucap Radit.
"Hais, malah bahas othor. Jadi malam ini kita menginap dimana?" tanya Delon.
"Apartemen ku yang dekat dengan pertemuan besok, jadi kau harus segera menuntaskan masalahku," ucap Radit sambil tersenyum. Delon menghela napas dalam dalam, dan sampailah mereka di artemen milik Radit.
😍😍😍😍
Vino yang tak bisa tidur di sofa, melirik ke arah Micel yang tidur di atas ranjang. Tidur Micel begitu nyenyak, tubuh kecil itu meringkuk dan memeluk guling.
Selimut? Gadis cantik itu tidak berselimut. Vino berdiri dan mengambil selimut baru dari almari. Diselimutinya gadis cantik dua puluh tahun yang berstatus sebagai istrinya itu.
Dipandangnya gadis cantik yang belum di cintainya itu. Gadis cantik yang menjadi pelampiasan dan dibentak bentaknya, astaga kenapa dia menjaga Micel dengan mengekangnya? Menikahinya? Bukankah dia menyakiti gadis tak bersalah ini?
Vino memgusap kasar wajahnya, terkadang dia menyesal ketika harus melibatkan Micel sehingga gadis itu kini malah seperti tawanannya.
"Maafkan aku Micel," lirihnya.
Vino melangkah pergi, dirinya yang tidak bisa tidur memilih untuk pergi dari kamar itu. Berlari kecil dan keluar dari mansion, tujuan utamanya adalah pergi ke rumah Willy.
🤣🤣😍😍
__ADS_1