
Nada Dan Amara berada di sebuah taman yang indah. Taman yang selalu mereka datangi ketika merasa sedih, Mama Hana sudah di bawa pulang beberapa jam yang lalu. Rafa juga sempat mengikuti 2 adiknya itu taman, kemudian pamit pergi.
Nada merasa lega saat dirinya menceritakan keluh kesahnya pada Amara. Amara juga melakukan hal yang sama, mencoba mengurangi beban pikiran dengan berteriak kencang. untung saja di taman hanya ada mereka berdua sehingga tidak menjadi pusat perhatian orang.
"Jadi bagaimana rasanya menjadi nyonya Micho?" tanya Nada. Amara hanya tertawa sambil mengusap air mata di sudut matanya.
Nada menghela napas panjang dan merangkul pundak Amara.
"Jangan berharap bahagia bersama orang lain, jika disamping mu berproses mencintaimu," ucap Nada. Amara memandang Nada dan mendorong pundak Nada.
"Aku bukan dirimu yang berharap pada satu hati yang nyatanya tidak bisa aku miliki, aku pernah patahati dan tak mau untuk mengulang kembali," ucap Amara.
Nada menatap Amara. Keduanya mempunyai jalan cerita yang berbeda, namun berusaha untuk saling menguatkan.
"Aku tadi bertemu Dinda, Dia mengajak kita bertemu. Ada acara reoni beberapa hari lagi," ucap Nada. Amara tersenyum dan tampak berpikir.
"Kita tunggu saja kabarnya, kita datang bersama," ucap Amara dan diangguki oleh Nada.
__ADS_1
Tak berselang lama, Amara tampak memejamkan mata indahnya. Mencoba menahan air mata yang hampir saja meleleh.
Nada memandang Amara dan mencoba mencari titik fokus yang dilihat oleh Amara, namun apa yang dilihatnya hanya punggung seseorang yang entah siapa pemiliknya.
"Ra, ada apa?" tanya Nada. Amara menyambar kunci mobilnya dan menancap gas mobilnya tanpa menjawab pertanyaan Nada. Nada tampak khawatir dan menyusul kemana Amara pergi dengan mobil kencangnya.
Nada tampak khawatir ketika melihat mobil Amara berhenti di sebuah bar. Nada memejamkan matanya, antara masuk dan tidak masuk ke tempat itu.
Lama berfikir, pada akhirnya Nada menghela napas panjang dan memberanikan diri masuk ke sana, ke tempat yang seumur hidupnya belum pernah di injak kakinya.
"Bismilah," lirih Nada.
Pandangan mata orang-orang tampak nyalang menatapnya, Nada bagaikan artis yang menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya, entah karna pakaian tertutupnya atau karna kecantikan wajahnya, atau justru karna kedua alasan itu. Tampak beberapa laki-laki bagaikan buaya yang siap menerkam mangsanya ketika melihat ke arah Nada.
Di sudut sana, Nada melihat Amara meletakan beberapa gelas di depannya. Buru-buru Nada melangkah, namun sebuah tangan menarik pinggang Nada sehingga Nada terkunci dalam dekapan manusia yang berbau alkhohol di bajunya.
"Selamat malam, baby, tulis yang kamu mau. Kita bersenang-senang malam ini," ucap lelaki itu tepat di telinga Nada, membuat bulu Nada meremang. Nada melirik cek itu kemudian mengambilnya, dirinya merasa geram dengan ucapan lelaki yang dengan gampangnya menawar dirinya itu. Dia pikir Nada wanita macam apa?
__ADS_1
"Lepaskan aku," Nada mencoba melepaskan tangan kekar yang membelit tubuhnya. Jantungnya berdetak ketakutan. Namun, orang itu berputar dan berhenti tepat di depan Nada dengan tangan yang masih melingkar sempurna di pinggang wanita cantik itu.
"Tulislah, baby," ucapnya sambil tersenyum.
Nada mengangkat cek di depan wajah lelaki itu, kemudian merobek cek itu dan melemparkan ke sembarang arah. Lelaki itu menatap Nada dengan tajam.
Dia adalah, Gino sinatria seorang putra penguasa yang bisa melakukan apapun untuk menghancurkan hidup orang lain dalam sekejab. Maka dari itu, tak ada satupun manusia yang mampu menolong Nada saat ini, kecuali hanya menatapnya penuh kekhawatiran. Bahkan ada yang hanya bisa mengambil gambar wanita cantik dan lelaki itu.
"Aku mohon lepaskan aku," lirih Nada, akan tetapi tidak diindahkan oleh lelaki itu.
Dengan terpaksa Nada menggunakan lututnya untuk menendang benda pusaka lelaki itu hingga lelaki itu mengerang kesakitan. Saat itu Nada berhasil lepas, namun dengan cepat lelaki itu menarik Nada kembali hingga wanita itu terperangkap dalam gendongannya.
"Lepaskan aku!" teriak Nada. Tontonan gratis itu semakin tegang saat Nada mencoba memberi satu pukulan yang nyatanya tak mampu menumbangkan lelaki yang menggendongnya.
Gerak gerik Nada tak lepas dari manusia yang kini ada di atas sana, dari ruang VVIV orang itu bisa melihat dengan jelas tontonan gratis yang memperlihatkan Nada dengan anak pengusaha itu. Lelaki itu bersandar di kursi putar, salah satu kakinya terangkat di atas lutut. Tangannya terlipat di depan dada. Seolah ingin tau apa yang dilakukan Nada selanjutnya, lelaki itu memusatkan matanya menatap ke arah wanita yang kini dalam bahaya.
🎀🎀🎀🎀
__ADS_1
Hayo siapaa?
Ritualnya jangan lupa, like , komen, hadiah ya...😄😄😍