
"Aku tidak janji, tapi aku akan berusaha, Kak," ucap Radit sambil tersenyum getir.
"Kapan kamu akan berangkat?" Micho melepas dekapanya dan menatap ke arah lelaki yang terpaut usia tiga tahun dengannya itu.
"Secepatnya Kak,"
"Apa kau sudah membicarakan ini dengan Bi Rini?" Radit mencoba meruntuhkan tekat adiknya. Dia tidak mau Radit pergi hanya karna dirinya.
"Aku akan membicarakan pada ibu saat ini, jadi aku tidak berangkat ke kantor pagi ini, Kak." Radit berucap panjang lebar. Sepertinya memang dia tidak bisa lagi menunda kepergiannya.
"Okey, tidak masalah. Kakak berharap kamu bisa menjadi lebih dari apa yang kakak raih," ucap Micho dan melenggang pergi.
Radit menghela napas panjang, dirinya menyelesaikan makan kemudian berjalan ke taman belakang.
Bi Rini tampak mengusap peluh, menanam bunga menyebabkan dirinya kepanasan hingga peluh membasahi dahinya. Radit mengusap dahi ibunya dengan tisue dan mengecup pelan pipi ibunya.
Wanita paruh baya itu menghentikan aktifitasnya, netranya menatap ke arah putranya yang masih menggunakan kaos oblong dan celana sebatas lutut.
"Kenapa tidak ganti baju? Apa kamu berencana bolos?" tanya ibunya sambil mengulas senyum indahnya.
"Hari ini Radit ingin menghabiskan waktu bersama ibu," ucap lelaki tampan yang kini berjongkok di sampingnya. Ucapan Radit menimbulkan pertanyaan di pikiran ibunya, membuat Bu Rini tampak menautkan ke dua alisnya.
"Bisakah kamu berbicara dengan jelas Nak?" Bu Rini duduk di kursi panjang di bawah pohon. Tangannya terulur mengambil botol air di atas meja. Sebentar Bi Rini meneguk air kemudian menatap ke arah putranya yang tengah memandangnya.
"Bu, aku akan pergi mengurus perusahaan yang ada di kota X. Rencana Radit ingin berangkat malam ini, jadi dengan waktu yang tersisa ini, Radit ingin mengajak ibu jalan-jalan," ucap Radit.
"Kamu tidak meminta pendapat ibu?" Wanita paruh baya itu tampak berkaca. Kesedihan menyelimuti hatinya. Tetesan air mata jatuh dari pelupuk matanya dan membasahi pipinya.
Radit mengusap pelan pipi wanita yang dianggapnya ibu itu. Wanita yang susah payah memberikan kasih sayangnya selama sepuluh tahun ini.
__ADS_1
"Ibu, doakan aku." Radit menggenggam tangan Bi Rini. Menatap Bi Rini dengan tenang.
"Ibu hanya punya kamu, jika kamu pergi lalu ibu bagaimana?" tanyanya di sela isak tangisnya.
Radit merasakan kesedihan, hanya deraian air mata wanita ini yang sanggup membuatnya pilu. Hanya deraian wanita ini yang saat ini mampu menguras sesak yang kemudian bisa mengalirkan air mata di sudut matanya. Buru-buru Radit menghapus lelehan air bening yang belum sempat menetes.
"Ibu, ada Kak Micho, dia juga sama sayangnya pada ibu," ucap Radit.
Bi Rini tampak terdiam, Micho memang memyayanginya. Tapi tetap saja, dia adalah putra dari majikannya.
"Ya sudah, ibu akan bersiap. Memangnya kamu mau mengajak ibu ke mana?" tanya Bi Rini tampak menghapus air matanya. Radit sedikit lega mendapat respon dari ibunya.
"Ibu mau ke pasar, ibu mau membuat makanan kesukaanmu," ucap Ibunya dan diangguki oleh Radit.
Bi Rini segera bersiap, meskipun hatinya merasa sedih, akan tetapi dia tetap berusaha tersenyum ketika di depan Radit.
🎀🎀🎀🎀🎀🎀
Radit berjalan mengikuti ibunya dari belakang. Menjelajahi seisi mol, ibu memilih beberapa camilan di
tangannya.
"Dit, ibu sudah selesai. Sebaiknya kita pulang," ucap Bi Rini santai.
Bi Rini menatap ke arah Radit yang membawa dua paper bag di tangannya.
"Apa yang kamu beli?" tanya Bi rini pada Radit. Radit hanya tersenyum saja.
"Ini bagus yang mana Bu? "tanya Radit. Bu Rini memperhatikan dua tas yang indah itu.
__ADS_1
"Bagus semua," ucapnya sambil tersenyum. Radit mengangguk dan tampak menghilang entah kemana.
"Anak itu," ucap Bi Rini sambil tersenyum.
Setelah melakukan pembayaran, Bi Rini dan Radit segera menuju parkiran. Radit mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang diliriknya beberapa paperbag di belakang.
"Bu, itu semua buat ibu." Radit menoleh ke arah ibunya sejenak.
Bi Rini sontak melirik ke belakang, beberapa paper bag terjejer rapi di sana. Bi Rini tampak mengerutkan keningnya.
"Apa itu? Banyak sekali, Nak!"
" Itu untuk ibu, Radit ingin ibu bahagia," ucapnya.
Bi Rini tampak terenyuh, diliriknya putra angkatnya itu.
"Ibu bahagia memilikimu, sebenernya tidak perlu membelikan semua ini. Dengan kamu menganggap ibu sebagai orang tuamu itu sudah lebih dari cukup," Bi Rini tampak mengusap sudut matanya yang berair.
Radit menepikan mobilya di pinggir jalan, ibunya itu selalu bisa mengambil perhatiannya. Radit memegang kedua pundak ibunya dan tersenyum ke arahnya, mencoba meyakinkan bahwa dirinya akan tetap menganggapnya ibu.
"Sampai kapanpun ibu akan memiliki Radit, Radit hanya pergi untuk bekerja. Tidak untuk meninggalkan ibu," ucapnya.
"Benarkah?" tanya ibunya dan diangguki oleh Radit.
Bu Rini tampak berbinar, Radit berhambur ke pelukan ibunya. Mendenkap erat wanita paruh baya yang begitu menyayanginya itu.
🎀🎀🎀🎀🎀🎀
Like, komen, Hadiah, vote untuk Mendukung Neng Nada jangan lupa ya.. senin semangat.
__ADS_1