Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 113


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, datanglah mobil ambulan dengan sirine yang mencengangkan. Terdengar juga suara sirine mobil polisi yang memekak telinga. Gemuruh orang yang berhenti menyaksikan kejadian tersebut juga sangat menegangkan.


Para polisi berhamburan mengamankan, sedang petugas kesehatan berbondong mendekat ke arah Micel berada, Nada meminta Radit berdiri saat tubuh Micel ditangani petugas medis dan di bawa ke ambulan.


Radit memeluk erat tubuh Nada dan mencari ketenangan di sana.


"Tenanglah, Micel gadis yang hebat. Pasti dia baik-baik saja. Kita kesana sekarang," ucap Nada.


"Aku harus menghabisi pengendara itu," ucap Radit.


"Biarkan mereka ditangani polisi, Dani juga sudah aku hubungi Yang, tolong tahan emosi," ucap Nada dengan deraian air matanya. Tangannya terulur mengusap wajah Radit yang juga berlinang air mata.


"Tapi aku tidak bisa diam saja!" isyaknya.


"Yang, mereka urusan polisi. Urusan kita hanya Micel," ucap Nada dengan tenang meski kesedihan menyelimuti hatinya.


Radit menghelas napas panjang dan menatap wajah Nada yang mampu meluluhkannya.


"Kita menyusul Micel sekarang," ucap Nada dan kemudian diangguki oleh Radit.


Nada dan Radit segera masuk ke arah mobil dan mengikuti mobil ambulans, nenek dan kakek dan juga Mira juga menuju ke arah sana.


Sedang di tempat kejadian perkara, suara teriakan banyak orang terdengar nyaring saat mereka mencoba menolong korban. Beruntung, yang ringsek sebelah kiri, dan pengendara yang ada di kanan tampak selamat. Hanya saja dia tidak bisa keluar karna ada yang rusak karna kecelakaan itu.


Banyak orang yang berbondong-bondong menolong hingga pada akhirnya mereka bisa mengevakuasi korban kecelakaan yang ternyata adalah seorang wanita.


Wanita itu memejamkan matanya, di keluarkan dari mobil dan di bawa ke petugas medis. Meskipun tidak apa-apa, masih tersimpan syok di dirinya yang mengakibatkan lemas.


Dani berhenti ketika melihat banyak kerumunan, dia pun terkejut sekilas melihat mobil disebrang jalan. Di kabari Nada jika Micel mengalami kecelakaan membuatnya bersedih. Micel sudah seperti adik kandungnya sendiri.


Dia sangat meyayangi gadis itu meski mereka selalu terlibat perdebatan. Sangat menyayangi gadis itu tanpa syarat apapun, sama seperti Radit sayang pada Micela adelia, gadis cantik seindah berlian kesayangan mereka yang selalu mereka jaga. Gadis hebat yang selalu menurut dan selalu mematuhi segala permintaan mereka.


Dani, dia segera turun mendekat ke arah mobil yang kini sudah tak berbentuk itu.


"Siapa pengendara mobil itu?" tanya Dani pada gerombolan orang yang kemudian menunjukkan telunjuk ke arah Wanita cantik yang diobati petugas medis.

__ADS_1


Dani mengepalkan tangannya dan menatap wajah wanita cantik itu dengan sinis.


"Siapa dia? Jangan harap bisa selamat dariku. Menyakiti Micel, sama saja mencari perkara denganku," ucap Dani kemudian mendekat. Namun, salah seorang polisi meminta dirinya untuk segera mengikutinya. Dani mengangguk dan mengikuti arah kemana polisi itu pergi.


❤❤❤❤❤


Emely yang masih tampak syok segera mengulurkan tangannya, mencari ponsel dan menghubungi nama Vino disana.


"Halo Emely, ada apa?" tanya suara di seberang.


"Kak, aku nabrak." ucapnya sambil memejamkan mata.


"Nabrak? Lalu bagaimana keadaanmu?" tanya suara di sebrang tampak khawatir.


"Aku baik-baik saja Kak. Tapi sepertinya korban aku terluka parah," ucap Emely prustasi. Air matanya mengalir. Kejadian yang begitu cepat itu terjadi begitu cepat.


"Astaga Em, kakak sudah bilang tidak usah ke proyek dan biar diurus Wili asisten kakak. Tapi kamu ngotot, jadi begini kan. Untung aja kamu selamat Em," terdengar suara Vino yang tampak begitu khawatir.


"Maaf kak, aku terlalu bahagia karena belajar di bidang yang baru," ucapnya. Ya, baru kali ini Emyli membantu Vino. Tapi ternyata musibah malah datang menghampiri.


Vino memejamkan matanya, dia berharap semua berjalan lancar. Ditengah kekhawatiran, kini Vino teringat pada sosok cantik yang besok akan bertemu dengannya. Entah kenapa bayangan itu berada di pelupuk matanya.


"Bos, ada apa dengan Nona Emely?" tanya Willy dengan tergopoh.


"Emely kecelakaan, kita harus segera kesana," ucapnya dan diangguki oleh Willy.


🎀🎀🎀🎀


Dua puluh menit berlalu, mereka sudah sampai dirumah sakit. Kedatangan mobil ambulans yang membawa tubuh Micel membuat suasana tampak gaduh. Beberapa orang masuk ke dalam Ambulan, beberapa lainya mengambil brankar dan beberapa membawa peralatan mereka medis.


Setelah berada di brankar, tubuh ramping Micel di bawa dengan tergesa di ruang UGD. Setelah beberapa saat, tampak kehebohan dari tenaga medis dan akhirnya Micel di pindahkan ke ruang ICU. Kehebohan itu membuat Nada, Radit, Kakek, Nenek, dan Mira tampak khawatir.


Radit menunggu di depan. Batinya mencerca Mira dengan kebencian. Radit melirik Mira seakan menyalahkan wanita itu.


"Kalau sampai terjadi apa-apa pada Micel, jangan harap aku mau melihatmu ada di rumah," sentaknya sambil menunjuk ke arah Mira.

__ADS_1


"Sudah Marvel, hentikan ! Jangan membuat keributan, yang penting kita berdoa sekarang,"


ujar kakek menenangkan.


Tak lama dari itu dokter keluar dari ruang rawat Micel, Radit segera mendekat dan menanyakan keadaan adiknya.


"Bagaimana keadaan adik saya Dok?" tanya Radit pada dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat Micel itu.


"Maaf kami harus mengatakan, Nona Micel banyak sekali kehilangan darah, untuk melewati masa kritisnya kita harus mendonorkan darah untuk nya," ucap dokter itu.


"Lakukan yang terbaik untuk adik saya Dok"


"Masalahnya, stok kantong darah yang sama dengan nona Micel habis, Nona Micel mempunyai golongan darah yang langka, mungkin dari pihak keluarga bisa mendonorkan?" tanya Dokter yang mempunyai Nama Andre yang terlihat di papan nama itu.


Radit tampak memejamkan matanya, kini dia melirik ke arah Mira. Satu-satunya orang yang mungkin bisa mendonorkan darah untuk Micel.


"Nanti segera hubungi pihak kami, saya permisi dulu," ucap dokter itu kemudian melenggang pergi.


Nenek dan kakek hanya saling memandang. Mira hanya terdiam. Micel, gadis cantik itu mempunyai golongan darah yang sama dengan Radit, juga suaminya. Lalu, apa dia harus mengatakan kebenaran? Mira memejamkan matanya, sudah dipastikan Radit akan semakin membencinya jika tau kebenaran ini.


"Apa kau tidak mau mendonorkan darah untuk Micel Nyonya?" ucapnya dengan begitu dingin.


Mira hanya diam, hanya lelehan tangis yang kini tampak di pelupuk matanya.


"Darah Micel berbeda denganku," ucapnya dan sanggup membuat Radit tercengang.


"Lalu siapa? Kau hubungi lelaki itu sekarang juga!" sentak Radit. Mira memejamkan matanya.


"Ayah Micel sudah meninggal," ucap Mira dengan diiringi tangis.


Radit pun juga terkejut dan menatap Mira dengan tatapan yang mengisaratkan kebencian.


"Lantas bagaimana kita bisa mendapatkan darah untuk menyelamatkannya?" ucap Radit prustasi.


Radit mengusap kasar wajahnya. Nada mencoba menenangkan suaminya dan menatap Radit dengan tenang.

__ADS_1


🎀🎀🎀🎀


__ADS_2