
Micel menatap ke arah Vino dan mengalihkan pandanganya kemudian mendorong pelan tubuh Vino yang kini dekat merapat kepadanya agar sedikit menjauh darinya.
"Bagaimana bisa kakak disini?" ucap Micel lemah. Vino sedikit beraksi dan duduk di ranjang Micel, membuat gadis cantik itu beringsut mundur. Entah, Micel yang merasa jika Radit tak suka jika dia dekat dengan Vino mencoba untuk menekan perasaanya.
Perasaan yang sulit untuk dijelaskan, perasaan yang yerkadang suka. Terkadang jengkel, terkadang entah bagaimana.
"Pergilah Kak,! Tidak ada orang lain disini, aku takut akan menjadi fitnah," ucap Micel dengan tenang.
Vino merasa geram, jadi dia diusir? Melihat Micel seakan malah menguji kesabarannya. Tadi baik, sekarang jutek. Nanti kekanak-kanakan, sebenarnya dia hilang ingatan atau tidak? pertanyaan yang mengiang di otaknya.
Vino menatap ke arah Micel dan merasa terkejut ketika melihat Micel yang mencoba bangkit.
Dengan cepat Vino menahan bahu Micel dan menekannya agar tetap di posisinya. Hal itu membuat Micel terkejut, bahkan bayangan Vino yang membuatnya sedih kala itu menghantui otaknya. Bayangan Vino berputar di otaknya, bertengkar, baikan, menyebalkan.
Tubuhnya bergetar hebat, tatapan matanya tajam Micel memandang Vino dan mencoba memberontak.
"Apa yang kakak lakukan disini? Pergi aku bilang!" tegas Micel lagi.
Vino menghela napas panjang, apa yang ada di ingatannya kenapa dia seakan membencinya?
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu," ucap vino tegas dengan tatapan yang mengintimidasi.
Micel yang merasa aura dingin yang kuat tampak di wajah tampan Vino tampak terpaku.
Micel menghentikan gerakannya memberontak. Mata mereka saling menatap, saling beradu, hingga Micel menitihkan buliran Air mata yang jatuh tanpa diminta. Vino? Apa yang sebenarnya terjadi diantara keduanya?
Vino merasa sedikit panik saat buliran air mata Micel terus saja mengalir dengan sorot mata yang masih saja tajam, Vino mengusap air mata Micel dengan lembut.
Micel merasakan detak jantung nya tak beraturan, sakit, sebal, semua bercampur menjadi satu. Micel mencoba menguasai pikirannya. Sebenarnya apa yang terjadi antara dirinya dan Vino?
Micel kini menatap wajah Vino. Wajah tampan yang kini sangat dekat denganya. Deruan Napas Vino terdengar di telinga Micel. Hembusan napas Vino juga terasa di wajahnya. Micel mencoba memejamkan mata indahnya, merasakan hal apa yang sebenarnya di rasakan oleh hatinya.
__ADS_1
Vino yang tersadar akan posisi mereka saat ini begitu dekat segera melepaskan pegangannya, Vino berdiri dan berjalan ke arah jendela. Tangannya memegang dinding, sedang tangan yang satunya berada di saku celananya. Netranya memandang gedung yang menjulang tinggi di luaran sana.
Micel berdiri, namun badannya yang lemah tak kuat untuk melakukannya. Micel merasa pusing, tubuhnya terpelanting. Micel memejamkan matanya. Saat itu tangan kokoh segera menangkapnya, Micel melingkarkan tangannya di leher orang itu.
Mereka sangat dekat, hembusan napas Vino menampar wajah Micel. Micel membuka matanya, kini dia duduk menyamping di pangkuan Vino.
Wajah mereka hanya berjarak lima centi meter saja. Mata mereka saling menatap tajam. Micel menyadari posisinya, ia menekan dada Vino dan melompat turun dari pangkuan Vino.
Namun, Vino seakan enggan melepaskannya, tangan pria yang kini memangkunya itu melingkar sempurna di pinggang Micel, menariknya sehingga posisi mereka semakin dekat dan merapat.
"Lepaskan aku, Kak." lirih Micel.
Vino tersenyum menang kemudian berdiri, Vino mengangkat tubuh Micel dari pangkuannya dan membaringkan tubuh Micel di tempatnya lagi.
"Apa yang kakak lakukan? Kenapa masih ada disini?" tanya Micel ketus.
Vino maju beberapa langkah hingga jaraknya dengan Micel hanya beberapa centi saja.
Vino meletakkan kedua tangannya di pundak Micel. Wajah mereka kini semakin dekat, membuat jantung Micel memompa lebih cepat. Jantungnya bergetar hebat.
"Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan," ucapnya sambil menatap wajah Micel yang tampak cantik di depannya meskipun sedikit pucat.
Micel melirik ke arah Vino dengan banyak pertanyaan.
"Apa yang akan kakak bicarakan?" tanya Micel dengan ketus.
"Pernikahan, aku ingin kita menikah segera mungkin," ucap Vino dan mampu membuat gadis cantik itu melebarkan pandangannya. Menikah? Berapa umurnya sekarang?
Micel meenggelengkan kepalanya pelan, apa orang di depannya sedang mabuk?🤣🤣🤣
"Apa aku harus mau?" tanya Micel dengan wajah yang tak menentu.
__ADS_1
"Apa lagi yang kamu tunggu? Kau sangat mencintaiku, tapi sayangnya kau hilang ingatan," jawab Vino.
Micel memejamkan matanya, apa benar begitu?
❤❤❤❤❤
"Rasanya aku ingin selalu memelukmu, entah bagaimana aku tidak ingin melepaskanmu," lirih Radit.
Tangannya masih memeluk erat Nada, merasakan kenyamanan dan ketentraman hati. Nada bagaikan mood boster baginya.
"Dear," ucap Radit sambil melepaskan pelukannya dari Nada.
"Hem," jawab Nada pelan sambil menatap ke arah Radit.
"Kamu harus dihukum karena jadi istri yang membangkang," ucap Radit sambil menatap Nada dengan intens.
"Membangkang?" tanya Nada penuh pertanyaan.
"Hem, kamu keluar rumah tampa seizinku. Pingsan, membahayakan diri sendiri, kenakalanmu tidak bisa dimaafkan untuk hari ini," ucap Radit lagi.
Nada terkekeh, bahkan dia memang tidak mengindahkan permintaan Radit pagi tadi.
"Maafkan aku," ucap Nada sok imut sambil mengatupkan ke dua tangannya.
"Tak ada maaf bagimu, para pelayan harus memerima hukuman karna membiarkanmu pergi," ucap Radit.
"Ini salahku. mereka tidak salah Yang," ucap Nada.
" Kau pun juga harus dihukum," ucapnya sambil mencium pipi Nada kemidian melenggang pergi.
❤❤🤣🤣
__ADS_1