
"Yang sebaiknya kita ke rumah sakit," ucap Nada lagi. Radit menatap kotak P3K di mobil kemudian kembali naik ke mobil.
Radit meraih kotak itu dan mengambil pisau kecil di sana, Nada melirik suaminya. Apa yang akan dilakukannya?
"Yang, mau apa?" tanya Nada.
"Arggghhh," Radit mengerang kesakitan. Erangan Radit mampu menghentikan ucapan Nada. Nada panik dan segera memandang ke arah Radit.
"Arghhh," keluh Radit lagi yang tampak kesakitan sambil menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Nada. Radit memiringakan tubuhnya sehingga pundak yang terluka ada di atas.
Nada tampak panik saat melihat suaminya yang berteriak kesakitan.
"Yang, sebaiknya kita kerumah sakit!" ucap Nada sambil mengamati pundak suaminya dengan panik.
"Jangan, aku tidak papa. Sudah sering kali aku mengalaminya. Lakukan sesuatu untukku," ucap Radit sambil menahan sakit.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Nada.
Radit menyerahkan pisau kecil pada Nada.
"Untuk apa?" tanya Nada.
"Tolong ambil peluru ini," ucap Radit sambil membuka tali yang tadi melilit di lukanya.
Nada tampak tak percaya dengan ucapan suaminyw. Bagaimana bisa dia melakukan itu? bahkan dia ngeri melihat seperti ini.
"Mana bisa, sebaiknya kita panggil Kak Arfan kalau kamu tidak mau ke rumah sakit," protes Nada.
"Ini sudah malam Dear, lagi pula aku tak papa,!" ucap Radit di tengah kesakitannya. Nada menerima pisau itu.
"Aku takut Yang, bagaimana bisa aku mengambil peluru ini?" tanya Nada panik. Nada hanya menatap pisau dan luka berdarah itu bergantian. Nada menggelengkan kepalanya.
"Cepat, Dear. Aku tidak bisa menahan lagi," ucap Radit.
"Arghhh," keluhnya.
Nada yang ketakutan terpaksa mengarahkan pisau itu ke pundak Radit. Baju panjang Radit menghalangi aksinya. Nada memotong baju itu dan melepasnya.
Nada membuang baju itu dari tubuh Radit, sehingga menampakkan tubuh yang atletis dan six pack milik suaminya. Tubuh yang selalu memberikan rasa nyaman dalam benaknya. Nada terdiam dengan pemikirannya, ia mencoba menghilangkan segala pikiran liar yang menjelajahi otaknya.
"Tunggu apalagi Dear," ucap Radit. Nada menghela napas panjang.
__ADS_1
Setelah di rasa nyaman, Nada memandang luka tembak itu. Meski sebenarnya takut, Nada terpaksa harus membedah dan mengambil peluru itu dari pundak Radit supaya suaminya tak kesakitan lagi.
Tiba-tiba saja tangan Nada yang mulai panik karna memang takut, kini ditahan oleh seseorang. Nada menatap ke arah orang itu. Nada merasa lega saat melihat Arfan yang ternyata baru saja pulang.
"Kakak," ucapnya.
"Arghhh..." Radit mengerang kesakitan lagi.
"Ke belakanglah Nada, biar kakak yang menangani suamimu," ucap Arfan panik.
Nada mengangguk dan segera meletakan kepala suaminya. Nada turun kemudian naik ke belakang.
"Kak, apa tidak sebaiknya di kamar?" tanyanya.
"Kakak ambil dulu pelurunya, sepertinya cukup mudah. Tidak sampai menembus organ dalamnya," ucap Arfan yang mampu membuat Nada menghela napas lega.
Arfan mendudukan Radit dengan bersandar di kursi. Sedang dia sendiri masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Radit, mencoba mengambil peluru yang ada di pundak adik iparnya. Untung saja tidak terlalu dalam dan tidak membahayakan.
Arfan menggerakan pisau kasana kemari, sehingga darah merembes, membuat Nada berdesir ngilu saat melihatnya. Karna Arfan memanglah dokter bedah, tidak ada setengah jam pun dia sudah bisa mengeluarkan peluru itu dan bernapas lega.
Arfan membersihkan luka Radit dan memerban luka itu.
"Radit, Radit." Arfan merubah posisi Radit yang semula duduk menjadi berbaring. Radit tampak memejamkan matanya, membuat Arfan dan Nada semakin panik dan terkejut.
"Nada, tunggu sebentar. Kakak akan meminta bantuan untuk membawa Radit keluar dari sini," ucap Arfan kemudian keluar dari mobil. Nada mendekat ke arah wajah Radit, memandangnya dengan khawatir.
"Yang, bangun." ucapnya sambil menepuk pelan pipi Radit.
"Yang," ulangnya sambil menepuk pipi Radit lagi. Nada seakan lemas ketika melihat kondisi suami tercintanya. Nada memijat jempol suaminya, menekan dadanya tapi tak kunjung sadar. Mengoleskan minyak juga sudah dilakukannya
Nada memejamkan matanya, apa yang harus dilakukannya? sepertinya dia harus membuat napas buatan. Ya, napas buatan yang seperti di ajarkan saat pelajaran olahraga dulu.
Nada memencet hidung suaminya dengan tangan kanannya, tangan Kirinya mengangkat dagu Radit kemudian mendekatkan mulutnya dengan mulut Radit. Meniupkan napas pada Radit, Nada semakin hawatir saat tak ada respon dari Radit.
"Yang bangunlah. Ini perintah dari istrimu, dan permintaan dari calon anakmu. Apa kamu berniat mati secepat ini dan membuatku menjadi janda secepat ini? Membuat bayi kita menjadi anak yatim?" tanya Nada di tengah kepanikannya sambil mengusap air mata yang tiba-tiba keluar dari matanya.
Nada Kembali melakukan hal yang sama, memencet hidung Radit dan menghembuskan napas di mulut Radit. Nada melihat gelagat yang tak beres. Radit tampak tersenyum di saat Nada panik? Oh, jadi dia sudah sadar? Nada tak tinggal diam dia menghentikan aksinya dan mendekatkan mulutnya di telinga Radit.
"Yang, bangunlah! Aku mohon. Aku tau diluaran sana banyak yang mau menggantikan posisimu. Banyak orang yang mau menjadi ayah buat baby kita. Okey kalau memang tidak mau bangun, aku mengikhlaskanmu," ucap Nada sambil menyunggingkan senyum di tengah linangan air mata. Nada memejamkan matanya sejenak, saat tak ada reaksi. Suaminya tak cemburu?
Nada terkejut saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Hembusan napas orang lain juga menerpa wajahnya. Nada membuka mata, Radit menatapnya dengan teduh. Keduanya saling berpandangan, entah sejak kapan Radit kembali dari pingsannya. Nada melepas tangannya dari hidung Radit dan melepas tangan Radit dari pinggangnya. Tak ada satu patah katapun yang terucap, Nada duduk di pinggiran Kursi.
__ADS_1
Radit bangun dan melingkarkan tangannya di pinggang Nada, mengangkat tubuh Nada ke pangkuannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu dimiliki orang lain, aku belum mau mati dan menjadikanmu janda, Nyonya Marvel," ucap Radit.
Nada menoleh wajahnya yang semula sedih dan tegang kini menahan senyuman yang membuat wajahnya merona merah. Nada mendorong tubuh Radit sebelum akhirnya berhambur dalam pelukan Radit dan menyembunnyikan wajahnya yang merona disana.
"Mana pasienya, kita harus segera mengangkatnya ke klinik," ucap salah seorang penghuni apartemen sambil membuka pintu.
Ketiga orang itu tampak terkejut saat melihat pemandangan di dalam mobil, astaga. Radit dan Nada tampak terkejut. Orang orang itu kembali menutup pintu dan menatap ke arah Arfan.
"Yang benar saja Dok kalau ngomong, ini bukan pingsan, tapi melayang," ucap salah satu dari mereka dan melenggang pergi.
"Lain kali jangan begitulah Dok," keluh yang lain.
Arfan mengusap kepalanya yang tidak gatal dan membuka pintu mobil, menatap Nada dan Radit yang masih di posisi yang sama.
"Kalian sepertinya suka sekali membuatku malu," ucap Arfan kemudian menutup mobil kembali. Nada dan Radit saling bepandangan.
"Ini salalahmu Yang," kesal Nada. Radit hanya tekekeh geli.
😍😍😍😍😍😍
Delon, mengamati Vino yang tampak kualahan menghadapi lawannya. Dua orang mendatangi Vino, dengan gerakan cekatan Vino menumbangkan dua orang yang menghadangnya dengan tendangan kaki nya.
Delon segera mendekat, melayangkan beberapa pukulan pada para preman. Bahkan, beberapa bodyguard yang dibawanya masih saja berkelahi dengan penjaga.
Delon terperanjat kaget ketika tiba-tiba beberapa orang menyerangnya. Delon segera mengambil gerakan gesit dan berhasil menumbangkan mereka. Delon kembali berjalan. Netranya menangkap bayangan wanita yang saat ini berada bersama dengan Gino diatas sana. Sepertinya mereka tengah bertengkar. Entah apa yang menjadi perdebatan dua orang di atas sana.
Delon menatap gelagat tak beres, saat wanita itu mundur dari atas lantai tiga itu. Wanita itu mundur, sedangkan sudah tidak ada pijakan, Delon dengan sigap berlari.
Zifana teekejut, saat dirinya harus mundur dan ternyata tak ada pijakan. Pertengkaran dengan Gino masih berlanjut saat Gino tak mau menghentikan pergulatan dan malah menembakkan peluru.
Zifana menjerit histeris saat bubuhnya terlempar dari lantai atas.
"Tuhan maafkan aku, jika aku harus mati saat ini," lirihnya sambil memejamkan mata.
Gino terkejut, maju dan mau menahan tubuh adiknyapun sudah tidak bisa. Netranya hanya bisa melihat tubuh Zifana yang teelempar ke bawah.
"Zifana," teriaknya.
❤❤❤❤❤
__ADS_1