
Tangan Nada menggerayangi tangan yang kini memegang matanya dan terus berjalan entah mengajak kemana, hatinya was-was memikirkan Radit yang hanya diam. Radit? Benarkah? Nada semakin was-was ketika mendapati jam tangan di tangan kanan orang itu.
Bahkan dia tak mengenali jam tangan itu. Radit, jam tangan yang dipake Radit berada di tangan kiri, dan dia tau betul dan sangat yakin jika tangan itu bukan tangan milik Radit suaminya. Lalu, tangan itu milik siapa?
"Yang, ini mau kemana?" tanya Nada lagi ingin memastikan, dan lagi lagi tidak ada sahutan.
Fik ini bukan Radit. Nada menghela napas panjang. Jika dia mau selamat, dia harus tau yang diinginkan orang yang kini menawannya.
Nada mencoba tenang dan menghela napas panjang, mencari aman dengan bertindak tenang dan tidak gegabah. Apa ini ulah Zifana? Atau bahkan manusia jahat yang pernah menjualnya?
Nada hanya diam, berusaha untuk mencari aman untuk dirinya. Nada semakin terkejut saat orang itu membuka pintu mobil, terdengar seseorang mengulirkan sesuatu. Yang benar saja, orang itu menutup mata Nada dengan kain. Mengikat tangan Nada dengan tali, dan terakhir membungkam mulut Nada dengan lakban.
Mereka mendudukan Nada di mobil bagian belakang. Nada tak sanggup berbuat apapun. Hanya lantunan dzikir yang kini mampu terus di lafadzkan dalam batinnya.
"Kita bawa kemana Nona ini?" tanya orang itu.
__ADS_1
"Gudang sepi di pinggiran kota, sesuai dengan keinginan Nona Zifana," ucap salah satu dari mereka.
"Okey, kita kesana sekarang," ucapnya.
Deg, jantung Nada seakan bergetar hebat. Setelah meletakkan Nada di belakang, salah satu dari mereka itu ikut duduk di depan. Nada menghela napas panjang, tangan Nada yang kini ada di depan bisa menjangkau ponsel Radit tanpa paket data yang tadi dibawanya.
Sayang sekali, dia tak bisa melihat karna matanya yang tertutup Rapat. Kini Nada mulai berpikir bagaimana cara untuk bisa melihat dahulu.
"Zifana, mungkin kau pandai. Tapi aku jauh lebih pandai darimu, aku bersama cinta Radit. Bahkan Allah SWT selalu ada di sampingku," batin Nada mencoba untuk menguatkan dirinya.
Radit yang baru saja selesai menerima panggilan dari MR Tan segera kembali. Mega proyek yang dikerjakan dengan Mr Tan sejak dua bulan yang lalu kini hampir usai. Mereka membahas segala sesuatu yang belum lengkap dan harus segera diselesaikan.
Radit menuju ke toilet, dilihatnya pintu toilet terbuka dan tak ada istrinya disana. Segera Radit melangkah tergesa ke kamar Micel. Dilihatnya nenek, kakek dan juga Mama Mira tampak bercengkrama di depan ruangan Micel.
"Nek, Kek, Ma. Nada ada di dalam?" tanya Radit dengan suara paniknya. Ke tiga orang yang diajak bicara langsung menoleh.
__ADS_1
"Nada? Bukankan dia bersamamu?" tanya Mama Mira tampak khawatir.
"Nada tidak ada bersamaku," jawab Radit.
Kakek Rey tampak panik juga, kenapa masalah silih berganti? Dani belum kembali dan sekarang Nada menghilang? Kakek Rey segera meminta bantuan pada Tuan Hendra asisten pribadinya untuk mencari Nada.
"Tenanglah, kita cari Nada sama-sama," Delon yang ternyata masih disana menepuk pundak Radit dengan tenang.
Radit mengangguk, Delon dan Radit segera melangkah pergi. Yang dia tuju adalah salah satu file penyimpanan rekaman CCTV.
Radit yang masih saja hawatir mencari keberadaan Istrinya, kini hanya mengikuti langkah Delon.
"Sial, kenapa aku meninggalkannya? Kemana kamu pergi Dear, suka sekali membuatku khawatir," gumam Radit prustasi.
😍😍😍😍😍
__ADS_1