Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Menuju mansion MRD


__ADS_3

Micel hanya bisa menatap tenang ke arah Vino. Sepertinya Vino memiliki dua kepribadian, kadang kala kejam seperti penjahat dan kadang kala lembut seperti kakaknya.


Micel melirik goresan luka di lengan Vino, Vino yang menyadari itu langsung menatap ke arah Micel.


"Apa tawaran untuk mengobati luka masih berlaku?" tanya Vino. Micel menghela napas dalam dalam, memandang ke arah mobil dan melirik kotak P3K di sana.


"Itu terserah padamu, jikapun masih berlaku tetapi kakak tidak butuh juga sama saja." Micel menjawab. Vino menatap Micel yang masih tampak sebal padanya.


"Oke, obati sekarang." Vino masuk ke dalam mobil, Micel masih tampak mematung hingga Vino menatap Micel dan menarik tangan gadis cantik yang sudah dah menjadi istrinya itu.


Micel terkejut, segera dia meraih kotak P3K. Mengambil kapas dan alqohol. Dibersihkannya luka goresan akibat benda tajam itu. Sesekali Vino merasakan perih yang mendera.


"Apa sakit Kak?" tanya Micel. Vino melirik Micel yang tampak menghawatirkannya. Dipandangnya gadis imut itu lekat lekat. Gadis cantik yang selalu merusuhi hidupnya sejak pertemuan pertama di seminar.


"Tidak sebanding dengan sakitnya terluka karena di tinggal kekasih," ucap Vino sambil menatap gadis cantik yang telah dah berstatus sebagai istrinya itu. Cantik? Cantik sekali, bahkan jika di perhatikan, Micel tampak lebih cantik dari Asyla.


Micel yang semula fokus dengan luka Vino, kini menatap Vino dengan tenang. Apa maksud dari suaminya ini? Siapa wanita yang dimaksud Vino? Keduanya saling menatap, menyelami perasaan yang entah apa itu.


"Apa ditinggalkan kekasih membuat kakak sesak napas?" tanya Micel mengalihkan pembicaraan. Micel tidak mau fokus pada rasa sakit yang nantinya hanya akan menyakiti dirinya sendiri.


"Ya, aku sesak napas," jawab Vino santai.


Micel menghela napas panjang, segera dia menyelesaikan aktivitasnya. Memerban luka Vino kemudian mengembalikan kotak P3K di tempatnya.


"Untung saja tidak mati muda, aku pasti sangat bahagia jika tidak bertemu dengan manusia aneh seperti Kakak," ketus Micel kemudian membuka pintu mobil dan hendak melangkah pergi. Akan tetapi, Vino menahan lengan Micel sehingga Micel terhenti.


Micel menoleh ke arah Vino dan menatap lelaki tampan itu.


"Kenapa menahanku Kak? Ini sudah jam tujuh, dan makan malam digelar jam delapan. Sebaiknya kita segera kesana," ucap Micela.

__ADS_1


"Tetap disini, kau ikut aku!" ucap Vino sambil meletakan ponsel.


"Aku membawa mobil sendiri," ucap Micel.


"Aku sudah menghubungi Willy untuk mengambilnya. Kau tenang saja, mobilnya aman disini. Tutup pintu dan kita berangkat sekarang," ucapnya sambil menyalakan kontak mobil. Bagai hipnotis, segera Micel menutup pintu.


Vino menancap gas mobilnya, tak ada pembicaraan di dalam mobil itu hanya keheningan malam yang menemani keduanya melalui jalanan yang sepi itu.


Tak berselang lama, Vino menghentikan mobilnya di di sebuah salon. Dia melirik Micel yang kini juga memandang dirinya dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa berhenti di sini Kak?" tanya Micel pada Vino yang tampak santai dan terdiam. Tak lama kemudian, suara ketukan kaca terdengar. Vino membuka kaca.


Tampak seorang kurir membawakan paper bag pada Vino. Vino menerima dan memberikan satu paper bag pada Micel dan satu lagi di letakan di sampingnya.


"Apa ini Kak?" tanya Micel lagi.


"Kau punya mata? Punya tangan? Apa tidak bisa kau membuka dan melihatnya sendiri?" ketus Vino. Micel menghela napas panjang. Sepertinya dekat dengan Vino harus siap kesabaran yang berlipat.


"Sekarang masuklah dan membersihkan dirimu, kau juga harus memoles wajah jelekmu itu," ucap Vino sambil menatap Micela dengan tenang.


Micel membelalakan matanya, jelek? Bukankah wajahnya sangat imut dan sangat cantik? Micel memejamkan matanya, membuka lagi dan melirik ke arah Vino.


"Tunggu sebentar, kakak akan melihat kecantikanku nanti," ucap Micel kemudian turun dari mobil. Menutup mobil dengan keras, membuat Vino menampakkan senyuman di bibirnya. Membuat Micel sebal sepertinya suatu kebahagiaan tersendiri baginya.


Vino meraih paper bag di sampingnya, mengambil setelan baju yang sama dengan baju yang dipakai oleh Micela nanti. Sesekali dirinya merasakan denyutan sakit di lengannya yang terluka. Vino turun dari mobil dan menuju ke toilet untuk ganti baju.


Tak berselang lama, Micel yang sudah rapi segera melenggang keluar dari salon kecantikan itu. Dering ponsel membuatnya tak fokus berjalan, sehingga Micel mengambil nya dan melihat kontak Mama di sana. Saking tak fokusnya, Micel melewatkan satu anak tangga yang membuatnya terkejut dan hampir saja terpeleset.


Namun,tangan kokoh berhasil menahan tubuhnya, bola mata mereka saling bertemu. Sebuah rasa menyelinap masuk. Vino yang sengaja menunggu di depan kini bisa melihat kecantikan dari Micela. Wajah cantik tanpa cela itu. Sedetik kemudian Micela segera bangkit kemudian memperbaiki baju yang sedikit berantakan.

__ADS_1


Micel menatap ke arah Vino dan tersenyum canggung.


"Ponselmu merusak pendengaranku kalau dibiarkan terus berbunyi, apa kau tidak berniat mengangkatnya?" tanya Vino.


Micel segera menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan dari sebrang.


"Asalamualaikum, halo ma," Micel menyapa.


"Waalaikumsalam, Sayang. Dimana saja? Kami sedari tadi menghubungimu Nak. Kami menghawatirkanmu, ada masalah?" tanya Mama Mira tampak panik.


"Micel masih diperjalanan bersama Kak Vino juga di sini, mama tidak usah menghawatirkan Micel," ucap Micel sambil menatap ke arah Vino yang mengamatinya.


"Cepatlah datang, kita makan malam bersama. Kakakmu juga baru saja datang, kita akan menunggu kalian," Mama Mira menjelaskan.


"Iya Ma, kami akan segera datang. Sepuluh menit lagi kami sampai di mansion." ucap Micel dengan tenang.


"Okey Sayang, kami tunggu. Hati hati jangan ngebut," ucap Mama Mira di sebrang terdengar sangat bahagia.


"Iya Ma, Asalamualaikum," jawab Micel lagi.


"Waalaikumsalam Sayang,"


Micel menutup ponselnya dan meletakkan kembali ke dalam tas. Vino menatap istrinya dengan mata yang tak berkedip. Dipastikan Vino terpesona dengan wajah cantik seorang Micela Adelia Dika yang sangat menawan itu.


Micel mengerutkan keningnya, ditatapnya lelaki yang kini mengenakan baju yang sama motif dengannya itu. Micel tersenyum, ada kebahagiaan sendiri di hatinya. Micel mengibaskan satu tangannya di depan Vino. Membuat lelaki tampan yang berselisih umur sembilan tahun darinya itu tampak sedikit terkejut.


"Kak, apa aku terlalu cantik sehingga memandang seperti itu?" tanyanya kemudian melenggang pergi. Vino mengusap kasar wajahnya. Bersama Micel adalah kebahagiaan tersendiri. Bahkan Nama Nada sepertinya sudah tak lagi diingatnya. Asila? Entah, nama itu sulit untuk di lupakannya.


Vino mengikuti langkah Micel ke mobil, masuk ke dalam mobil. Ada rasa canggung yang menyelimuti. Tak ada percakapan diantara keduanya, tak mau berlama lama, Vino segera menancap gas mobilnya menuju mansion MRD.

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2