Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 142


__ADS_3

Nyonya Mira segera melangkah menuju ke arah tenaga medis yang membawa Nada.


Para wartawan yang hampir saja keluar tercengang melihat Nyonya Mira Handika mendekat ke arah wanita cantik itu. Mereka berhenti dan menatap interaksi antara Nyonya Mira dengan salah satu petugas.


"Sebenarnya ada teka-teki apa, antara Nada dan keluarga MRD group?" tanya salah satu wartawan pada temannya.


"Entah, tapi sepertinya kita tidak bisa masuk kali ini, kita bisa ditegur lagi oleh pihak rumahsakit," ucap teman satunya.


"Kalau begitu sebaiknya kita ke kantor dulu," ajak yang lainnya.


"Ide yang baik, kita tau bahwa Nona cantik itu hamil. Akan menjadi sebuah trending topik untuk besok lagi," ucap salah satu dari mereka kemudian melangkah pergi.


Mereka berbondong meninggalkan pelataran rumah sakit. Zifana tampak mengepalkan tangannya. Tapi dia juga tersenyum sinis, berita kehamilan Nada pasti akan menggemparkan dunia bisnis. Imeg Nada akan hancur, Nada akan semakin terpuruk dan perlahan menyerah untuk tetap bersanding dengan Radit.


Zifana mengambil ponselnya dan menuliskan pesan untuk kakaknya.


Nada ada di rumahsakit, dia tengah hamil Kak. Banyak wartawan di sini, cobalah untuk datang dan kau harus membuat mereka berpikir bahwa kau adalah ayah dari anak itu. Kirim.


Zifana tersenyum kemudian memutar langkahnya, alangkah terkejutnya dia saat mendapati Nyonya Mira ada di belakangnya.


"Tante Mira," kejutnya saat menatap ke arah Mira.


Mira tersenyum kemudian menatap Zifana dengan tenang, kabar di televisi bahkan di media sudah di dengar Mira sejak pagi. Kedekatan Nada dengan beberpa orang di foto yang tersebar diapun tau siapa orangnya.


Salah satu wanita yang tau tentang pernikahan Nada dengan Radit hanyalah Zifana. Dan salah satu dari foto yang di sebar adalah Gino sinatria, lalu siapa lagi pelaku kejahatan pada Nada kalau bukan mereka?


Mira mengedipkan matanya dan tersenyum singkat.

__ADS_1


"Tante, kebetulan sekali tante keluar, aku mau menjenguk Micel dan aku kebingungan mencari ruangannya," ucapnya sambil memegang pundak Mira. Sebenarnya ada kegugupan yang menyelimuti. Dia kesini hanya untuk mengikuti Nada dan tak berniat menjenguk Micel sedikitpun.


"Ikutlah dengan tante," ucapnya sambil tersenyum. Zifana mengangguk pelan dan bernapas lega. Mereka melangkah bersama-sama.


"Zifana tolong hentikan berita tentang Nada," ucap Mira dengan tenang. Namun, ucapan Mira bagaikan telak yang mematikan bagi Zifana.


Zifana menghentikan langkahnya kemudian menatap ke arah Mira dengan mata yang berkaca. Harus kecewa? Dia harus kecewa dan menangisi keadaan?


"Apa maksud tante?" tanyanya dengan menatap ke arah Mira penuh tanya.


"Apa masih kurang jelas Zifa? Tante minta hentikan pemberitaan tentang Nada," ucap Mira lagi dan mampu meluruhkan air mata di pipi Zifana.


Bagaimana bisa Mira berubah secepat ini? Bahkan dirinya belum sedikitpun memdekati Marvel Raditia Dika, dan restu dari ibu Radit sudah tiada? Zifana mundur beberapa langkah dan menatap Mira dengan Rasa kecewa.


"Jadi tante menyuruhku untuk berhenti mengejar Marvel? Setelah memintaku mendekatinya, tante memintaku menjauh darinya begitu?" tanyanya penuh dengan kekecewaan.


Mira menghela napas panjang, rasa bersalah bersarang di hatinya. Dia mengecewakan Zifana? Benar, tapi ini jauh lebih baik dari pada dia harus menyakiti dua hati yang saling mencintai. Toh, belum tentu juga Zifana bahagia bila bersama dengan putranya.


"Tapi aku mencintai Marvel tante, apa yang dikatakan wanita itu sehingga tante luluh padanya? Apa yang dilakukan wanita itu tante?" teriak Zifana.


Mira memejamkan matanya, bahkan Nada tak mengatakan apapun, Nada tak melakukan apapun. Zifana mundur beberapa langkah, menatap ke arah Mira dengan sorot mata yang tajam.


"Lihat saja tante, wanita itu tak akan pernah bisa tenang," ucapnya kemudian melenggang pergi.


Mira hanya mampu menatap kepergian Zifana, apa lagi yang akan dilakukan wanita itu? Bahkan dia telah menghancurkan nama baik Nada karn berita itu.


Mira segera masuk kembali ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


🎀🎀🎀🎀🎀


Tiga puluh menit berlalu, jam menunjukkan pukul 11.00. Radit menghentikan mobilnya di depan mansion mewah milik keluarganya. Ingin segera dia memeriksakan istrinya ke dokter.


Dengan tergesa-gesa Radit masuk ke dalam mansionnya. Langkahnya terhenti ketika melihat Pak Heru tampak memaki bawahanya.


"Apa yang kalian kerjakan? Kenapa tidak becus menjaga Nona Muda?" sentak Pak Heru yang terdengar di telinga Radit. Radit mengepalkan tangannya.


"Dimana Nona Muda berada?" tanya Radit sambil menatap tajam ke arah Pak Heru dengan sorot mata tajam yang mengintimidasi.


Pak heru menoleh, alangkah terkejutnya dia saat mendengar suara bariton itu mendekat ke arahnya. Rasanya sudah seperti mau dipenggal lehernya.


Pak Heru mendongak menatap Radit, sedangkan ke empat bawahanya hanya terdiam menunduk.


"Maaf Tuan," ucap Pak Heru dengan sorot mata tajam yang mematikan.


"Maaf? Kerja begitu saja tidak becus, lalu apa yang kau kerjakan selama ini? Kau mau dipecat?" sentaknya. Pak Heru menggeleng pelan.


"Nona Nada ada di rumah sakit. Kata beliau, mau mengantar makanan untuk Tuan dan Nyonya besar serta nyonya Mira." Radit berucap.


Pak Heru menghela napas sesak, apa yang harus dia lakukan? Bahkan, dia tak bisa melakukan apapun untuk saat ini, dadanya terlalu sesak menerima bentakan dari Radit.


Mendengar ucapan Pak Heru, Radit segera memutar langkahny kembali. Dia menatap ke arah Radit yang menajamkan penglihatannya.


"Kau lihat saja, kau akan mendapat hukuman," sentaknya kemudian melenggang pergi.


Radit melebarkan langkahnya hingga dia berpapasan dengan seorang wanita cantik di depan mansion. Radit menatapnya dengan tenang.

__ADS_1


"Zifana," lirihnya.


🎀🎀🎀🎀😊


__ADS_2