Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 25.


__ADS_3

Nada melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Tampaknya dia harus menenangkan diri sejenak sebelum dia berangkat ke luar pulau.


Nada menghentikan laju mobilnya di sebuah panti asuhan. Ya, kegiatan rutinan untuknya salah satunya adalah mengunjungi panti. Berbagi rezeki yang dia punya untuk sesama meskipun berapapun jumlahnya.


Nada keluar dari mobil dan segera turun, di tatapnya panti asuhan dengan bangunan sederhana itu. Dengan segera Nada melangkah dan membawa beberapa paper bag yang telah di persiapkan tadi.


"Assalamualaikum ibu." Nada berjalan ke arah wanita paruh baya yang kini berdiri mematung menatap ke arah Nada.


"Neng Nada?" tanya ibu panti. Nada mengangguk pelan. Ibu Rohma tampak tersenyum dan mendekat ke arah Nada, memeluk Nada dan tersenyum.


"Ya Allah neng, ibu pangling lo. Masyaallah makin cantik saja sekarang, ayo duduk sini," sambut Bu Rohma antusias sambil mempersilahkan Nada duduk.


Nada, wanita cantik itu sedari dulu selalu menyisihkan uang untuk panti. Empat tahun selama dia berada di luar negri juga masih mengalirkan sedekah untuk panti ini. Empat tahun juga Bu Rohma tidak bertemu Nada membuat pengasuh panti itu tampak pangling.


"Bagaimana kabarnya Neng Nada?"


"Alkhamdulilah kabar baik bu, saya kesini membawa sedikit oleh-oleh untuk adik-adik," ucap Nada sambil menyerahkan paper bag pada Bu Rohma.


"Alkhamdulilah, semoga kebaikan Neng Nada dibalas oleh Allah SWT dengan kebaikan yang berlipat,"


"Amin, terimakasih bu. Kalau begitu saya langsung saja pamit,"


"Lho, kenapa buru-buru sekali neng?" tanya Bu Rohma.


"Iya bu, kebetulan saya ada kepentingan. Besok saya sudah harus berangkat lagi, jadi saya harus mempersiapkan keperluan," ucap Nada.


"O begitu, semoga Neng Nada selamat sampai tujuan,"


"Amin, terimakasih doanya Bu,"


Nada segera melangkah, tujuan terakhirnya adalah ke rumah Amara. Ya, dia harus menemui sahabatnya itu untuk berpamitan. Meskipun dia tidak sudah mengatakan dari pesan Wa, tetap saja itu tidak membuat dirinya lega dengan menemui Amara.


🎀🎀🎀🎀🎀


Nada telah sampai di sebuah mansion mewah milik keluarga Rusdiantoro. Dengan langkah cepat dirinya segera menapaki anak tangga menuju ke atas. Tak berapa lama kemudian, sampailah dirinya di depan pintu.


Pintu terbuka lebar menampakan wajah Amara yang tengah berbincang dengan papanya dan juga Mama Hana.


"Assalamualaikum," Suara Nada memecah keheningan. Semua mata menoleh ke arahnya.


"Nada," Amara menyambut kedatangan Nada yang kini berjalan ke arahnya.


"Tumbenan tidak bilang dulu," ucap Amara sambil menatap ke arah Nada.


"Iya, aku sudah tau kamu di sini makanya aku langsung aja ke sini. Aku sekalian mau pamit sama Tante Hana dan Om Rusdi," ucap Nada.


"Lho, mau ke mana Nad?" tanya Tante Hana antusias.


"Aku mau berangkat kembali mengurus butik di pulau X tante. Sepertinya Amara bakalan nggak ada waktu buat aku. Diakan udah punya suami, makanya aku berangkat aja lagi," ucapnya sambil mendekat dan bersaliman dengan Om Rusdi dan Tante Hana.


"Segera nyusul juga dong," canda Papa Rusdi.

__ADS_1


"Belum ketemu jodohnya om," sanggah Nada. Nada duduk di dekat Amara dan meletakan tasnya di atas meja.


"Itu kenapa enggak nikah sama Rafa. Makhluk satu itu kalau disuruh nikah begitu juga jawabannya, cocok tuh kayaknya," canda Papa Rusdi.


Deg,


jantung Nada seakan berdesir ngilu mendengar ungkapan papa Amara, jikalau Rafa yang meminta mungkin dirinya sangat bahagia. Namun, semua hanya angannya saja.


Nada menghela napas panjang. Dia harus mantap untuk pergi dan jangan berpikir ulang lagi. Rafa tetap akan menganggap dirinya seorang adik dan pastinya Nada akan selalu terluka setiap saat.


Amara yang menyadari Nada tengah termenung menatap tajam ke arah papanya.


"Apaan sih pa, mana setuju aku jika Nada sama Kak Rafa yang nggak peka itu. Biarin aja dia karatan nggak beristri," sungut Amara.


"Amara, dia kakakmu lo," ucap Mama Hana sambil tersenyum. Amara dan Rafa memang selalu bertengkar meskipun keduanya saling menyayangi. Mama Hana dan Papa Rusdi sudah tak heran jika Amara bertingkah seperti itu.


"Salah siapa ma, dia selalu menutup hati dan matanya, dia hanya memikirkan orang yang belum tentu juga memikirkan dirinya. Ngeselin kan?" sewot Nada.


Mama Hana dan Papa Rusdi hanya geleng kepala mendengar penuturan putrinya.


"Apaan sih Ra, Kak Rafa punya hak untuk itu. Udah ah, jangan ikut campur. Hati tidak bisa dipaksakan," ucap Nada.


"Nah, bener itu apa kata Nada, Ra," ucap mamanya.


"Ya udah, mending sekarang kita ke belakang aja Nad. Disini ada mama dan papa bakalan ngrecokin kita berdua," ucap Amara sambil menarik tangan sahabatnya menuju ke taman belakang.


Nada tersenyum ke arah Papa Risti dan Mama Hana kemudian menuruti keinginan Amara untuk bercengkrama di taman belakang.


"Jadi kamu beneran mau tinggal di pulau X dan mengurus butik yang di sana?" tanya Amara.


"Hem,"


"Tidakkah ada keinginan untuk berubah pikiran?kenapa tidak mengurus yang di luar negeri sekalian?" tanya Amara.


"Iya aku urus semua Ra, tapi aku menetap di pulau X aja. Pengen aja suasana baru," ucap Nada.


"Ini semua karna Kak Rafa?" tanya Amara lagi.


"Ini kemauanku, bukan karena Kak Rafa atau orang lain," jawab Nada.


"Sebetulnya berat sekali ketika aku harus jauh dari kamu," ucap Amara. Nada tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Ingat, kamu sudah bersuami. Kita bukan lagi anak SMA atau Mahasiswa, jadi rasanya tidak bisa seperti dulu jugakan?" ucap Nada.


"Hem, kau benar Nad. Kita memang bukan lagi anak SMA atau mahasiswa. Kehidupan terus berlalu, dan suatu saat nanti kau pun juga akan menikah," ucap Amara.


"Masih lama juga, bahkan aku baru mau mencoba untuk move on," ucap Nada.


"Mana tau, Tuhan bisa saja merencanakan pernikahanmu besok, lusa atau beberapa hari lagi," celetuk Amara.


"Apaan sih Ra," Nada mendorong pundak Amara. Keduanya saling menatap dan tersenyum.

__ADS_1


"Kau tau, beberapa hari yang lalu aku sempet ngobrol sama suami aku. Dia bilang adik angkatnya mau pergi, di hari berikutnya kamu bilang mau pergi. Sempat terpikir mau menjodohkan kalian, tapi kami berfikir Tuhan pasti akan menunjukkan jalan jika kalian berjodoh. Tanpa kami menjodohkan kalian," ucap Amara.


"Tampaknya kau menganggapku tak laku, sampai mau menjodohkanku segala," ucap Nada. Amara hanya tersenyum.


"Nad, kamu baik-baik sajakan?" tanya Amara. Nada mengerutkan keningnya.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Nada.


"Sepertinya kamu memikirkan sesuatu, aku tau dan tebakanku pasti bener," ucap Amara. Nada terkekeh dan menatap ke arah Amara.


"Kamu begitu pandai menebak,"


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Hutang," ucap Nada. Amara mengerutkan keningnya.


"Kau memikirkan hutang? Mau aku membayarnya?" tanya Amara.


"Seharusnya, ini karna ulahmu," canda Nada. Amara membulatkan matanya.


"Karna aku?" tanya Amara. Nada terkekeh sendiri dan menggelengkan kepalanya. Nada menceritakan kejadian yang di alaminya tempo hari dan membuat Amara tampak terkejut.


"Maafkan aku, aku tidak tau kalau kejadiannya bisa sampai merugikan mu," pinta Amara.


"Ya ini bukan salahmu, ini takdir," ucap Nada.


"Lantas bagaimana? Dia tidak ada, dihubungi juga tidak bisa?" gerutu Amara.


"Entahlah, tapi suatu saat aku pasti akan mengembalikannya,"


"Hubungi aku jika waktu itu tiba, aku juga harus terlibat untuk membayarnya," ucap Amara.


"Aku bercanda kali, kenapa diambil hati," ucap Nada.


"Kewajiban aku," sahut Amara. Nada tersenyum tipis.


"Udah sore aja Ra, aku harus pulang," pamit Nada.


"Besok aku ikut mengantarmu,"


"Hem, boleh. Tapi jangan mewek," ucap Nada sambil terkekeh. Amara mendekap hangat Nada sejenak.


"Hati-hati Nad,"


"Hem, aku pamit dulu. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Keduanya berjalan ke depan. Nada melajukan mobilnya dan menghilang dari pandangan Amara.


🎀🎀🎀🎀🎀

__ADS_1


__ADS_2