
"Tetap di tempatmu Nona," suara itu membuat Nada terkejut. Diliriknya lelaki yang kini membenahi posisi Radit di atas ranjang. Dia juga membersihkan luka dan memberi perban diatas luka Radit. Entah, melihat Radit telah mendapatkan pertolongan pertama membuat Nada merasa lega.
Tak lama dari itu, lelaki itu tampak berjalan ke arah Nada dan menatap Nada dengan tajam. Netranya mengamati ujung kaki dan berakhir di ujung kepala berkerudung Nada, kemudian menatap sorot mata teduh Nada yang menampakan ketakutan.
"Bukankah wanita ini yang saat itu berada di vidio itu? Lalu, kenapa dia disini? Ada hubungan apa dengan Marvel?" Dani tampak berfikir hingga senyum sinis terbit di sudut bibirnya. Dia mengambil ponselnya. Dani merencanakan sesuatu.
"Aku harus pergi Tuan, biarkan aku pergi," pinta Nada.
"Setelah melakukan percobaan pembunuhan kau pergi begitu saja? Jangan harap bisa keluar sebelum kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu, Nona!" ucap Dani sambil memasukan kembali ponsel di sakunya.
Nada terkesiap kaget? percobaan pembubuhan? Sesadis itukah? Dia melakukan semua ini karna membela dirinya, lalu kenapa lelaki di depannya seakan mengancamnya?
"Aku tidak bersalah," ucap Nada.
"Aku rela bersaksi bahwa kau memang melakukannya, aku sudah mengantongi bukti yang kuat untuk sekedar memasukanmu kedalam jeruji besi. Bahkan, mempersulit hidupmu dan keluargamu adalah hal yang sangat mudah bagiku, Nona!" tegas Dani sambil melirik kearah patahan botol yang masih berserakan di lantai.
Nada memejamkan matanya, cobaan apa lagi yang menimpa hidupnya? Kenapa semua ini bisa terjadi? Ingin menolong, kenapa justru malah mempersulit keadaanya?
"Aku juga bisa melakukan hal yang sama, aku bisa mengadukan perbuatannya," ucap Nada tak kalah sinis.
Dani mengambil ponselnya dan tersenyum ketika melihat data diri seorang yang ada di depannya. Bukan hal yang sulit, hanya sekedar mencari informasi bagi Dani. Setelah beberapa waktu yang lalu memerintahkan bawahannya untuk mencari informasi. Kini informasi itu telah dia kantongi.
"Nada Aira, 23 tahun, mempunyai kakak seorang dokter. Ayah salah seorang staf perusahaan, dan ibu mempunyai riwayat penyakit jantung," ucap Dani membaca informasi yang berada dalam ponselnya.
"Apa yang akan kau lakukan? Jangan melibatkan mereka!" Nada seolah tertekan ketika mendengar kebenaran keluarganya di sebutkan. Dani tersenyum sinis kemudian menatap ke arah Nada yang mengusap air matanya.
"Aku bisa saja membuatmu hancur sekaligus keluargamu, saat ini juga," ucap Dani sambil tertawa.
"Kau pikir kau siapa? Aku tidak bisa kau belenggu dengan keadaan ini!" bentak Nada lagi.
"Kau meragukanku? Bukankah Kakak dan ayahmu sekarang ada di bandara?" tanya Dani.
Nada membelalakkan matanya. Apa ayahnya sudah sampai di sini? Nada melirik jam yang menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Mungkin saat dirinya keluar dari apartemen kakaknya, kakaknya juga keluar seusai shalat, untuk menjemput ayahnya.
__ADS_1
"Aku bisa menghancurkan mereka sekarang juga!"
Dani mengambil ponselnya dan menekan tombol panggilan.
"Halo, lakukan pemecatan secara tidak hormat pada Dokter Arfan husain dari posisinya sekarang. Dan persulit juga husain Muhammad karna..."
"Cukup!" Teriak Nada.
Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa lelaki di depannya? Kenapa bisa dia melakukan semua ini? Jika sesuatu terjadi pada kakaknya dan juga ayahnya. Hancur sudah hidupnya, karna pasti ibunya juga akan menderita jika mendengar kabar tak enak terjadi pada suami dan anak-anaknya.
Dani tersenyum ke arah Nada dan meletakan kembali ponselnya.
"Apa yang kau mau?" tukas Nada.
Dani tersenyum tipis kemudian menatap ke arah Nada dengan melemparkan sebuah berkas ke arah Nada.
Nada antusias menerima dan membaca detail berkas di tangannya. Nada menggelengkan kepalanya. Air matanya mengalir deras, ketika membaca deretan permintaan pernikahan kontrak bersamaan dengan konpensasi yang dia dapatkan.
1.Pihak kedua menyetujui pernikahan
Menuruti semua kemauan pihak pertama
Pernikahan berlangsung selama pihak pertama masih membutuhkan status pernikahan.
Pihak kedua boleh melakukan apapun selama pihak pertama setuju.
Kebutuhan batin tetap berlaku sesuai keinginan pihak pertama.
Nada memejamkan matanya, kebutuhan batin? Tanpa harus diminta semua akan dilakukan untuk suaminya, jika dalam pernikahan itu mereka saling mencintai. Lalu sekarang, pernikahan macam apa yang akan dia jalani? Lelaki mana yang akan mengucapkan kata sakral ijab kabul itu? Pernikahan bukanlah mainan dan orang di depannya mengaturnya seakan mempermainkannya. Nada menghela napas kasar.
__ADS_1
"Aku tidak mengenalmu dan kau meminta pertanggungjawaban yang tidak masuk akal. Aku tidak berbuat salah padamu!" bentak Nada.
Dani mengernyitkan dahinya, wanita itu pikir pertanggungjawaban itu padanya?
"Siapa bilang untukku? Kau harus melakukan pernikahan pada atasanku. Tuan Marvel Raditia Dika," ucap Dani sambil melirik ke arah Radit yang masih terbaring. Namun, wajahnha tak sepucat tadi.
Nada memejamkan matanya, melilik ke arah Radit. Menikah dengan Radit? Lelaki yang bertemu dengannya dan sangat mesra dengan perempuan? Lelaki yang pernah menyisakan lipstik wanita di kemejanya waktu itu? Lalu, lelaki yang diketahuinya sering meminum alkhohol. Apa lelaki seperti itu yang akan menjadi imamnya?
Nada tampak syok dan mundur beberapa langkah. Berkas itu luruh ke lantai. Air mata Nada mengalir deras.
"Astagfirullah," lirih Nada sambil memegang dadanya yang merasakan sesak.
Brak...
Dani dan Nada menoleh saat suara itu terdengar. Dilihatnya Arfan dan ayahnya masuk ke apartemen itu.
"Ayah," ucap Nada. Pak Hasan mendekat ke arah Nada dan memeluk putrinya. Mengusap pundak Nada dan menciumi puncak kepala Nada.
"Nada, kamu tidak papa Nak?" tanyanya khawatir.
Pak Hasan dan Arfan yang tiba di apartemen dan tidak menemukan Nada segera mencari keberadaan Nada. Mereka meminta rekaman CCTV yang memperlihatkan Nada mengikuti langkah seseorang dan pergi ke salah satu unit apartemen.
Arfan terkejut saat melihat Dani, Dani yang disegani banyak orang. Bahkan, Dani terkenal sebagai tangan kanan MRD grup yang bisa melakukan apapun yang dia mau. Lalu, kenapa adiknya bisa berada di sini? Apa yang akan terjadi selanjutnya?
"Apa yang dilakukan adiku? Bisakah kami membawa dirinya pergi?" tanya Arfan lada Dani. Arfan mencoba tenang dan tak menggebu.
"Boleh membawa dia, asal kalian menyetujui berkas di lantai itu," ucap Dani.
Arfan, Nada dan ayahnya melirik berkas yang berada di lantai. Arfan mengambil berkas itu dan tampak syok membacanya.
🎀🎀🎀🎀🎀🎀
Like, komen, hadiah yokk
__ADS_1