
Di sebuah universitas ternama, suasana bahagia tercipta diantara semua mahasiswa. Kelulusan dengan nilai baik yang menjadi sebuah impian bagi mereka sekarang telah terwujud.
Kebahagian benar-benar telah menjadi sebuah kenyataan di depan mata. Wisuda kelulusan telah terlaksana dan berjalan dengan lancar. Diantara banyak mahasiswa yang berbahagia saat ini salah satunya adalah Micela Adelia Dika.
Gadis cantik yang terkenal pandai, dan sangat ramah di kalangan angkatannya. Gadis cantik dengan usia paling muda yang mendapatkan gelar sarjana.
"Selamat, Sayang," ucap Nada pada Micel yang kini memakai baju toga dan memeluknya dengan erat. Raut bahagia ditunjukan Micel, gadis itu tersenyum sambil menunjukan sertivikat kelulusan pada kakak iparnya itu.
"Selamat, Sayang," sahut Nenek Amy dan Mama Mira sambil menepuk pundak Micel. Micel memejamkan matanya, melepaskan pelukan Nada kemudian memeluk ibu dan neneknya dengan bahagia.
"Hai gadis, selamat ya. Sukses selalu," ucap Radit, kakak tercinta sambil memberikan kecupan singkat di kening Micel. Micel tersenyum bahagia atas kedatangan Kakak yang disayanginya.
"Terimakasih Kak," Micel menatap teduh ke arah Radit dan tersenyum.
"Mau hadiah apa?" Radit menatap pula ke arah adiknya. Akan tetapi tangan kanannya meraih pinggang Nada dan mengusap perut Nada yang sudah terlihat sedikit berisi diusia kandungan yang mencapai 7 minggu itu.
__ADS_1
Nada merasakan desiran lembut yang menyusup di hatinya, membuatnya terbuai dan pada akhirnya menggenggam jemari suaminya yang jahil itu. Radit melirik Nada sambil mengedipkan matanya, membuat pipi Nada merona merah.
Micel menutup kedua matanya, mata sucinya selalu ternodai ketika harus bersandingan dengan dua manusia yang sedang mabuk asmara itu.
"Bisa dikondisikan mesranya? Aku harap kalian tau tempat," ucap Micel sambil melirik kedua orang di depannya lewat sela jari yang menempel di wajahnya.
Radit dan Nada tampak terkekeh kemudian menatap Micela yang terlihat cemberut.
"Bilang aja sirik," ketus Radit. Micel tampak sebal dan menatap ke arah Kakeknya.
"Biarkan, mereka sangat bahagia. Kakek beeharap, kamu sama bahagianya dengan Kakakmu," ucapnya. Micel menyandarkan kepalanya di pundak kakeknya kemudian menghela napas dalam dalam.
"Kau bersedih?" tanya Radit sambil mengamati wajah Micel yang memerah. Micel tersenyum dan melenggeleng pelaan.
"Jangan kau pikirkan dia. Kau tenang saja, Micel. Kakak yakin dia akan datang," Radit mencoba meyakinkan. Bahkan sebenarnya dirinya juga Ragu. Kabar Vino masih sulit dihubungi, dan Radit takut terjadi apa apa dengan sahabatnya
__ADS_1
"Kakak akan pulang, lain waktu berkunjunglah ke apartement," ucap Radit sambil mencium kening Micel, micel tersenyum dan mengangguk pelan.
"Iya Kak. Aku akan datang dan akan membawa Mama Amy dan mama Mira untuk ikut jalan-jalan." jawabmya.
Micel duduk sambil melirik ke arah kakaknya. Radit mengacak rambut Micel dan tersenyum tipis.
"Asalamualaikum," ucapnya pada Micel.
"Waalaikumsalam," sahut Micel. Nada dan Radit melenggang pergi. Micel menatap ke arah dimana Radit dan Nada menghilang. Micel tersenyum sambil mengusap dadanya yang terasa sesak.
Saat ini, bayangan Vino menari di otaknya, dua hari sudah dia tidak melihat manusia tampan yang dirasa sangat dia rindukan itu. Manusia yang mampu membuat dirinya sangat rapuh. Micel memejamkan matanya, pantaskah lelaki itu dia tangisi?
Disaat yang bersamaan, matanya terasa ditutup seseorang dari belakang.
😆😆😆😆
__ADS_1