
Jantung Nada berdetak hebat, apa pernikahannya akan dilangsungkan di sini? Lagi-lagi ini seperti yang dia mau. Bayangan Radit menyelinap di otaknya.
Ya Allah apa ini rencanamu?
Bukan hanya Nada, Ayah, dan juga Arfan tampak terkejut. Sifa hanya bisa terkesima dengan apa yang terjadi.
Tepat di tangga masjid berlantai dua itu sudah ada beberapa ustadz penanggung jawab masjid beserta penghulu. Lalu, di dalam sana sudah banyak orang betkerumun menanti acara.
Nada merasa deg-degan sekali. Ini nyata? Bagaimana bisa lelaki jahat itu mengundang semua penghuni kampung untuk menghadiri pernikahannya di masjid yang megah ini?
Seketika Nada beserta rombongan segera turun, mereka di sambut hangat oleh pak ustadz dan penghulu. Kemudian mereka di persilahkan masuk ke ruangan yang tampak indah dan sudah tersedia meja kayu yang panjang dan terhias cantik.
Semua mata terpana dengan kecantikan pengantin wanita yang kini duduk menunggu sang arjuna.
Para penduduk yang memang sudah mengenal Radit tampak memuji, bagaimana keserasian antara dua orang yang tampan dan cantik ini.
"Wah, mereka pasangan serasi. Lihat, cantik sekali wanitanya,"
"Wah, Marvel pandai sekali mencari calon istri,"
"Semoga sakinah mawadah dan warohmah ya putranya alm Pak Handika,"
Suara penduduk kampung bersahutan, namun berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya di rasakan mempelai itu.
Tak lama dari itu, di sana tampak berhenti subuah mobil merah metalix. Jantung Nada berdetak hebat saat muncul sosok tinggi tegap yang tadi malam hampir saja mengambil kehormatannya. Nada mengingat ciuman Radit yang membuat luka di hatinya, tetapi memunculkan kenikmatan di jiwanya.
Pak ustad dan pak penghulu menyambut kedatangan Radit dan membimbing masuk ke dalam ruangan. Para penduduk begitu terkesima dengan kemunculan sosok tersebut, sosok tampan, tinggi tegap dengan jam tangan yang melingkar di tangannya. Sosok yang memakai tuxedo putih senada dengan gaun milik Nada.
Radit berjalan diiringi Dani kemudian rombongan itu duduk di tempat yang sama dengan Nada. Radit dan Nada duduk bersebelahan namun enggan saling memandang. Jantung keduanya tampaknya ingin keluar. Entah bagaimana, pernikahan ini seakan nyata dan bukan main-main.
"Apa sudah bisa dimulai?" tanya pak penghulu kepada Radit. Radit mengangguk. Nada hanya bengong. Ayahnya mengusap pelan pundak putrinya.
"Tuan Marvel Raditia Dika, Nona Nada Aira Azzahwa. Benar?" tanya pak penghulu memastikan data di dalam buku nikahnya. Nada dan Radit mengangguk. Nada lagi-lagi hanya diam terpaku, terkejut dan tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Baik, kita bisa mulai karna wali, saksi, dan mempelai sudah lengkap. Mari Nak Marvel," ucap pak Penghulu sambil mengulurkan tangannya.
Radit membalas uluran tangan pak penghulu dengan mantab, tangan Radit begitu dingin dan sedikit bergetar.
Nada Menahan sesak didadanya, rasanya seperti mimpi yang nyata.
"Menikah dengannya? Apa ini nyata?" Pertanyaan yang mengganggu di fikirannya.
"Bismilahirohmanirokhim,"
"Saya nikahkan dan saya kawinkan saudara Marvel Raditia Dika Bin Handika Raditia Dengan Nada Aira Azzahwa Binti Hasan Nugraha dengan mas kawin seperangkat alat shalat di bayar tunai." ucap pak penghulu.
Marvel tampak diam, diam dan begitu gugup, lidahnya bergetar seakan kelu dan tak sanggup berkata. Bayangan papanya seakan menari di otaknya. Nyatanya, julukan Casanova yang melekat padanya tak berpengaruh apapun dalam ijab qobul yang memang baru pertama kali dan tak ingin diulanginya lagi, karna yang dia mau hanya bermain-main dengan wanita .
Nada tampak sangat gugup saat Radit tak segera mengucapkan qobul pernikahan. Air matanya mendesak keluar. Jantungnya berdetak hebat. Kenapa? Apa Radit juga gugup seperti dirinya? Atau sengaja dia ingin mengacaukan semuanya? Entahlah, biar dia yang berfikir sendiri. Toh bukan masalah untuknya.
"Nak Marvel," ucap Penghulu.
Radit tersadar, ia mengangkat wajahnya. menatap pak penghulu, pak penghulu juga menatap kearahnya. Pertemuan dua bola mata itu membuatnya semakin gugup.
Dani yang sedari tadi dek-dekan mendekat dan memberikan segelas Air untuk Radit. suasana tegang tidak ada senyum sedikit pun.
Radit menerima gelas itu dan meminum airnya, mencoba menenangkan fikirannya.
"Kau gugup? Apa perlu aku menggantikan?" tanya Dani berbisik sontak membuat Radit tersedak udara.
"Uhuk-uhuk,"
Nada tampak terkejut dan mengambil air yang tadi di letakkan Radit di meja.
"Minum dulu, Yang..." ucap Nada sambil mengarahkan gelas di mulut Radit. Keduanya saling menatap. Jantung Radit bergetar hebat. Bahkan di panggil Yang saja jantungnya seakan rontok.
Nada memejamkan matanya, tadinya dia mau bilang minum yang banyak. nyatanya perkataannya tercekat di tenggorokan karna ke grogiannya dan malah mengundang guru-hara karna semua mata kini memandangnya.
__ADS_1
Mata Dani melebar, seluas senyum muncul di bibirnya melihat ke arah Nada dan Radit. Ayah tampak tersenyum, sedang Arfan tampak tegang sekali.
"Tarik Nafas dulu, Nak Marvel," ucap penghulu lagi. Radit menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.
Nada memberikan gelas pada Dani. Ditatap oleh Nada membuat senyuman Dani memudar. Dani segera mengambil gelas itu dan berlalu, kata-kata Nada tadi malam seakan masih menjadi kata horor baginyaπ€£.
"Sudah siap, Nak Marvel?" tanya pak penghulu lagi. Radit mengangguk, pak penghulu kembali mengulurkan telapak tangannya.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap pak penghulu. Radit menghela nafas panjang.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan saudara Marvel Raditia Dika Bin Handika Raditia Dengan Nada Aira Azzahwa Binti Hasan Nugraha dengan mas kawin seperangkat alat shalat di bayar tunai." ucap pak penghulu sambil sedikit menyentak tangan Radit.
"Saya trima nikah dan kawinya Nada Aira Azzahwa dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai," sahut Marvel dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu lagi.
"Sah," jawab para saksi.
Pak penghulu memberikan doa dan diamini oleh para hadirin yang datang di sana. Suasana yang tadi sedikit tegang menjadi suasana yang bahagia dan lega.
"Amin,"
Para hadirin serempak mengaminkan setelah doa selesai dibacakan, berharap kedua mempelai menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah dari dunia hingga akhirat kelak. Dari detik ini sampai maut memisahkan mereka.
Radit dan Nada saling berpandangan. Setitik air mata mengalir dari sudut mata Nada. Sampai saat ini, tidak ada kata yang sanggup keluar dari bibir indahnya. Wanita yang biasanya ceria itu benar-benar menjadi pendiam saat ini.
Radit mengulurkan tangannya atas perintah poto grafer, Nada mencium telapak tangan Radit. Beberapa tetesan air mata jatuh disana membuat jantung Radit kembali berdetak hebat. Suasana sangat haru dan khusuk.
Pada akhirnya Radit mengusap air mata dari pipi wanita yang telah resmi menjadi istrinya, Nada mendongak keduanya saling berpandangan entah perasaan yang bagaimana yang saat ini dirasakan yang jelas Radit kemudian mencium kening Nada. Haru, suasana begitu haru, tangis ayah pecah, menyaksikan hal sakral di depannya.
Anak kedua yang lahir dari istrinya itu telah menikah, dan itu membuat hatinya bahagia.
πππππ
__ADS_1
Hayok Hadiah buat pernikahan mereka dong, Lik komen jok kendor... biar otor updet lagi π€£π€£π€£