
Nada tampak pias, ucapan Dani benar-benar membuatnya merasakan detakan jantung tak beraturan. Radit? Dia benar-benar datang? Nada memejamkan matanya. Kenapa segugup ini? Bahkan kegugupan hatinya melebihi kegugupan ketika akan berjumpa dengan Rafa.
Rafa? Ah, bahkan entah Nada beberapa hari ini seperti tak mengingat nama itu. Entah bagaimana, Nada tetap berdiri di depan pintu. Berusaha untuk menyambut kedatangan Arjuna yang saat ini mampu menggetarkan hatinya. Tak lama dari itu, dari ujung sana tampaklah seseorang tinggi tegap berjalan mendekat ke arahnya.
Deguban jantung begitu tak beraturan, hingga pada saatnya manusia tinggi tegap itu kini berhenti di depannya. Sejenak suasana hening, dua manusia itu mencoba menahan gejolak rasa yang mengganggu pikiran masing-masing. Nada menatap Radit kemudian mengulur tangan kanannya.
"Assalamualaikum," sambut Nada.
Radit melirik ke arah Nada, menatap ke arah Nada yang memperlihatkan wajah cantiknya. Bukan membalas ucapan Nada, Radit justru mengarahkan tangannya ke arah dagu Nada, mendongakkan dagu lancip itu. Mengamati bibir ranum merah muda yang begitu menguji nyalinya. Radit mendekatkan wajahnya, semakin dekat, dan semakin dekat, membuat debarang jantung Nada seakan maraton.
Nada melangkah mundur, terus mundur hingga keduanya masuk ke dalam apartemen. Nada yang semakin gugup seakan merasakan jantungnya hendak keluar saat dirinya kini sudah mentok di tembok, sedangkan Radit mengunci dirinya dengan ke dua tangannya.
Nada berdiri, namun badannya terasa lemah tak kuat untuk berdiri, berdekatan dengan Radit membuat Syarafya seakan tak berfungsi dengan sempurna. Nada memejamkan matanya. Saat itu tangan kokoh Radit meraihnya, sehingga keduanya tampak dekat dan merapat.
Mereka sangat dekat, bahkan hembusan napas Radit menampar wajah Nada.
"Tolong, tolong lepaskan aku," ucap Nada lirih.
Namun, ucapan Nada malah menerbitkan senyum seorang Radit yang notabenenya adalah pemain wanita.
__ADS_1
"Kau takut?" tanyanya sambil tersenyum. Bahkan sebenarnya entah mengapa jantung Radit sama berdetak hebatnya dengan jantung Nada. Nada seakan mengenali situasi, dia tau Radit mencoba mempermainkan hatinya.
"Takut? Bagaimana bisa aku takut, hari ini sudah halalkan? Kau tidak perlu memaksaku seperti tadi malam," jawab Nada kemudian mendorong tubuh Radit menjauh darinya. Radit mengepalkan tangannya dan mundur beberapa langkah. Bahkan ucapan Nada mampu mengoyak hatinya. Seakan tak terima, Radit menarik tangan Nada. Membuat wanita cantik itu terkejut dan terpelanting di rengkuhan Radit.
Nada terkejut dan menutup matanya, sesaat kemudian Nada membuka matanya, kini dia duduk menyamping di pangkuan Radit. Wajah mereka hanya berjarak lima centi. Mata mereka saling menatap. Nada yang tampak gugup segera bergerak untuk berdiri.
Namun, Radit seakan enggan melepaskannya, tangan pria yang telah sah menjadi suaminya itu melingkar di pinggang Nada, menariknya hingga posisi mereka semakin dekat dan merapat kembali.
"Marvel, bisa ditunda dulu? Kakek ingin berkenalan dengan cucu menantu kakek," suara di pintu membuat keduanya terkejut. Radit segera melepaskan tangannya. Nada segera berdiri.
Radit juga berdiri, dia merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia tampak tersihir dengan Nada dan imajinasi liarnya memenuhi otaknya? Amara? Oh tidak, kali ini bukan bayangan Amara yang membuatnya agresif seperti ini. Lalu apa? Entahlah.
"Kakek?" tanya Nada antusias. Kakek tersenyum dan menatap ke arah Nada. Kakek mengamati wajah ayu Nada yang begitu mempesona.
"Ya, aku Kakek Rey. kakeknya Marvel. Senang bertemu denganmu," ucap Kakek Rey sambil mengulurkan tangannya.
"Senang juga bertemu dengan kakek juga," ucap Nada Ramah.
"Siapa namamu?" tanya Kakek.
__ADS_1
"Aku Nada, Kek."
"Nama yang indah, seindah wajahnya," ucap Kakek Rey dan mampu membuat Nada tersenyum.
"Mari masuk kek. Kebetulan aku tadi masak banyak sekali, kita makan bersama kek," ajak Nada sambil menggandeng tangan kakeknya.
Radit mengerutkan dahinya. Kenapa dia tampak di cuekin? 🤣
Protes? Oh no, bahkan hanya untuk protes sepertinya dia tidak sanggup. Dia hanya mengikuti langkah kedua orang itu menuju ke arah meja makan yang menyediakan beberapa makanan yang menggugah selera.
"Nah, kakek duduk dulu. Aku mau shalat magrib dulu, atau kakek mau shalat bersama?" tanya Nada.
"Alkhamdulilah, kakek sudah shalat di bawah. Makanya kakek datang terlambat, sebaiknya kamu mengajak dia. Kalau dia belum shalat." ucap kakeknya sambil menunjuk ke arah Radit.
Nada menatap ke arah telunjuk kakek mengarah, sehingga dia bersitatap dengan Radit yang kini juga menata ke arahnya.
"Kamu belum shalat Yang?" Nada mengulas senyuman di depan Radit, membuat Radit terpaku. Panggilan Nada dan senyum Nada membuat fokusnya terbagi. Nada merasa puas, melihat gelagat Radit yang merespon panggilannya. Tapi justru Radit merasa geram karna tingkah Nada.
😄😄😄😄😄😄
__ADS_1