Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 85


__ADS_3

Keduanya sampai di ruangan itu, Radit mendudukan Nada di salah satu bangku, kemudian dirinya duduk di depan Nada. Keduanya tampak canggung. Tak ada percakapan. Sehingga pada akhirnya Nada menatap ke arah suaminya dengan tenang.


Radit menatap kearah luka di tangannya.


"Sepertinya aku harus membersihkannya dulu," ucap Radit kemudian berdiri dan menuju ke arah whastapel.


Nada ikut berdiri kemudian mengambil kotak p3k yang berada di sudut ruangan. Nada segera berjalan ke arah Radit. Saat itu Radit memutar langkahnya bersamaan dengan Nada yang sampai dibelakangnya. Radit menabrak tubuh Nada.


Nada yang tidak mempunyai keseimbangan yang kokoh memejamkan matanya. Dia takut Akan terjatuh, tapi seseorang menahan dirinya.


Radit memandang wajah cantik didepannya, wajah seseorang di hadapannya yang memejamkan mata.


Sejenak Radit terpesona, senyum tipis menghiasi bibirnya. Wajah itu begitu cantik dan sanggup mendebarkan hatinya. Nada, tak salah lagi dia jatuh cinta. Jatuh cinta pada manusia yang sekarang ini telah sah menjadi istrinya.


Nada yang merasa menggantung di udara segera membuka matanya. Keduanya saling berpandangan, mata itu membuat Nada berbinar. Tapi Nada juga merasakan sesak yang mendera setelah memori otaknya menangkap sesuatu.


"Amara," lirihnya. Tapi hanya dirinya yang mendengar gumamannya.


Radit tersenyum dan mengangkat tubuh mungil Nada. Dia membawa Nada untuk duduk di sofa. Radit mengambil kotak p3k dari tangan istrinya dan mengambil betadin. Nada hanya melihat aksi suami sombongnya itu. Hingga pada akhirnya Radit merasa kesulitan.


"Apa tidak punya mulut? Kenapa diam saja?" Nada meraih perban dari tangan Radit dan membantunya. Dengan telaten Nada memerban luka di tangan Radit. Radit memandangi Nada yang kini fokus memandang luka itu.


Hampir dua minggu dirinya mempunyai istri secantik Nada, sebaik Nada, lalu kenapa dia baru menyadari saat ini? Terlalu tertutupkah hatinya? Kenapa tak bisa melihat sisi baik dari istrinya ini.


"Selesai." Nada mengangkat wajahnya, saat Radit memandangnya dengan tenang. Keduanya saling menatap, tatapan mereka beradu hingga Radit kembali tergoda dengan bibir merah muda bak buah ceri itu. Radit mendekatkan bibirnya.


"Kau itu mau apa?" ucap Nada sambil mendorong pelan dada Radit. Nada melangkah pergi, senyumannya mengembang sedangkan Radit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengusap wajahnya kasar.


"Ya Tuhan, nikmat mana yang tlah ku dustakan?" ucap Radit pelan.


Tadit mempercepat langkahnya mengikuti Nada yang terus berjalan menuju ke pinggir pagar di balkon ruangan itu.


Malam ini begitu sepi, berbeda dengan hati Nada yang ramai sekali seperti genderang. Nada menarik nafas panjang, merentangkan tangannya lebar-lebar. Menikmati tamparan demi tamparan angin yang begitu membuai dirinya, Nada memejamkan matanya. Bahagia, sesak semua tumpah ruah dalam hatinya.


Sebuah pelukan hangat mendarat di pinggangnya. Radit yang memang lebih tinggi dari Nada menempatkan dagunya di atas pundak Nada, tangannya melingkar sempurna di pinggang Nada. Istrinya yang cantik dan sangat mepesona.


Hati Nada terasa hangat, ketenangan dan kenyamanan tercipta di dalam dirinya .Tidak ingin menghindar, Nada sangat menikmati momen ini.


"My favorite place is inside your hug." ucap Radit tepat di telinga Nada. Membuat Nada memejamkan matanya dan merasakan kebahagiaan yang mendalam

__ADS_1


"Tempat yang paling aku sukai adalah berada di pelukan kamu," lirih Radit lagi.


Nada terdiam, menghela nafas panjang. Senyumannya mengembang, Nada menggenggam erat tangan Radit yang berada di pinggangnya, tatapanya masih saja mengarah pada langit malam yang menampaka n sejuta bintang yang berkelip indah.


"Seberapa yakin dirimu tentang ucapan yang kamu lontarkan Yang?" Nada membalikan tubuhnya hingga keduanya saling menatap. Radit tersenyum dan menangkup kedua pipi Nada


"Seyakin seekor ulat yang akan berubah menjadi kupu-kupu yang indah di kemudian hari," ucap Radit. Nada tertawa, ia melingkarkan tangannya kearah leher Radit. Wajahnya merah merona. Bahkan dirinya masih dalam keraguan.


"Seekor ulat?" Nada mengulang, Radit tersenyum.


"Iya," ucap Radit sambil mengusap pelan wajah Nada


"Aku akan berproses mencintaimu dengan sempurna, My Lovely wife," lirihnya. Nada memejamkan matanya. Masihkah dia ragu? Malam ini berapa kali Radit mengakui dirinya. Sangat membahagiakan.


"Aku Mencintaimu Nada Aura Azzahwa," ucap Radit. Nada tersenyum dan mengusap sudut bibir Radit yang membiru.


"Bagaimana denganmu? Masih sanggupkah kamu berdiri disampingku? Menyertai langkahku?" tanya Radit.


Deg, jantung Nada seakan bermaraton. Bagaimana dia harus menjawab?


"Apa kau mempunyai perasaan yang sama?" tanya Radit. Nada terdiam. Hampir saja dia membuka mulutnya, akan tetapi Radit menempelkan telunjuknya di bibir Nada.


"Terimakasih Yang," ucap Nada.


"Kenapa berterimakasih?" tanyanya.


"Terimakasih untuk cintamu," ucap Nada. Radit terkekeh dan mengusap puncak kepala berhijab Nada.


"Dear," sapa Radit. Nada mendongak.


"Ya," jawabnya.


"Aku berharap kamu menjadi pendamping hidupku untuk selamanya," ucap Radit. Nada tampak berbunga. Netranya berbinar indah.


Radit menghadap kearah Nada, mengeluarkan sebuah Kotak perhiasan dari saku celananya. Radit meraih kotak itu dan membukanya. Dilihatnya sebuah kalung yang berinisial MN.


Nada menautkan kedua alisnya dan menatap ke arah kalung itu.


"NM?" tanyanya.

__ADS_1


"Hem, Nada dan Marvel." jawabnya. Nada memejamkan matanya. Air matanya mengalir deras. Tadi mengusap Airmata yang berlinang tanpa di pipi Nada. Mulutnya bungkam tanpa berkata.


"Maaf, bahkan baru sekarang aku memberikan hadiah untukmu." ucap Radit lagi.


Nada sesenggukan, bahagia, sedih terkejut, semua bercampur menjadi satu. Nada tersenyum ditengah isak tangisnya.


"Yang, boleh aku memelukmu?" tanya Nada. Radit menatap ke arah Nada. Senyumnya mengembang, mendengar sematan kata Yang yang diucapkan oleh istrinya selalu membuatnya terbuai. Radit mengangguk.


Radit merentangkan dua tangannya. Nada menenggelamkan wajahnya di dada Radit. mereka saling membalas pelukan, deguban jantung terasa sangat berdetak lebih cepat.


"Pelukan dilanjut Nanti, kau tau aku sangat lapar. Sebaiknya kita makan, lalu kita akan menghabiskan malam panjang," bisik Radit di telinga Nada. 😀😀


Nada memejamkan matanya, tampaknya wajahnya merah merona.


"Dear," sapa Radit.


"Ya," jawab Nada.


"Tadi othor curhat," ucap Radit. Nada melepas pelukannya dan menatap ke arah Radit.


"Kenapa yang? Kenapa othor ramah dan tersayang kita?" tanya Nada.


"Dia di palak," jawab Radit.


"Siapa? Siapa yang malak?" tanya Nada.


"Lihat aja di kolom komentar,"😂😂😂.


"Aku penasaran,"


"Cus kesana nanti, orangnya cantik-cantik, readersnya pelabuhan cinta sang cassanova," ucap Radit. Nada membelalakkan matanya.


"Dasar, mata keranjang," ucap Nada sambil mencubit pinggang Radit.😀😀😝.


"Trus gimana keadaan otor?" tanya Nada.


"Othor yang baik hati mau aja di palakin, dia kasih satu bab malam ini," wkwkwkkw.


😝😝😝😝

__ADS_1


asekk..... like komennya yak.


__ADS_2