
Nada kembali menatap ke arah Radit. Dia ingat jika dirinya sekarang telah menjadi istri sah dari seorang Marvel Raditia Dika.
Radit bangkit kemudian menuju ke kamar mandi, Nada segera bangun juga kemudian menyiapkan beberapa pakaian untuk Radit.
Tak beberapa lama kemudian, setelah selesai mandi dan menyelesaikan ritual dapurnya. Nada memoles cantik wajahnya dengan make up naturalnya.
Sedangkan Radit baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melingkar di pinggang nya. Seketika Nada menutup matanya. Radit tersenyum sinis.
"Kenapa kamu menutup mata mu? Bukankah kau seharusnya suka melihat ku yang tampan ini?" ucap Radit sambil meraih baju yang sudah disiapkan oleh Nada, Nada membuka kedua matanya dan menatap Radit dengan tenang.
"Iya, aku memang sangat suka melihatmu yang tampan. Tapi aku tau kamu masih menyimpan jejak orang lain di hatimu, aku tidak terima jika hanya melihat tetapi tidak bisa memiliki, jadi aku akan menghilang kan jejak orang itu, baru aku akan menguasai mu Tuan suami," ucap Nada sambil menepuk dada Radit.
Radit tampak pias dan mengalihkan perhatiannya, Nada benar-benar bisa membuatnya merasakan perasaan yang campuraduk.
Nada mengambilkan dasi dan memasangkannya dileher suaminya. Radit memandang wajah cantik istrinya, Nada mendongak dan mendapati Radit memandangnya, iapun tersenyum tipis.
"Yang, baru satu hari aku menjadi istrimu. Jangan bilang kamu mulai jatuh cinta padaku," ucap Nada sambil tersenyum puas.
Radit mengalihkan pandangannya kemudian berlalu setelah Nada selesai memasang kan dasinya. Nada menghela nafas panjang.
"Ya Tuhan, kenapa aku seperti wanita penggoda seperti ini," ucap Nada sambil memejamkan matanya.
Nada melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Beberapa menu telah tersedia di sana, setelah shalat Subuh dan mandi tadi, Nada sengaja memasak untuk sarapan bersama suaminya.
Nada menapaki anak tangga, sambil membenahi tatanan hijabnya. Radit yang ternyata sudah berada di ruang makan kini menatap ke arah pemandangan cantik yang terpampang dari atas.
"Kenapa lama sekali?" ketus Radit.
__ADS_1
"Aku,"
"Jangan banyak bicara. Ambilkan!" titah Radit.
Nada menurut dan mengambil makanan untuk Radit kemudian memberikannya. Nada juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri, netranya melirik Radit yang melahap makanan dengan tenang.
"Ambilkan minum," titah Radit lagi.
Nada meletakkan sendok dan mengambil minum untuk Radit. Hatinya terasa panas dan ingin memberontak, namun sepertinya dia enggan merusak suasana makan pagi ini.
setelah sarapan, Radit segera membersihkan mulutnya dengan tisue. Dia memandang ke arah Nada yang kini merapikan meja makan.
"Aku harus berangkat," Radit berdiri dan menatap Nada dengan tenang.
"Iya, hati-hati," ucap Nada sambil menghentikan aktivitasnya. Nada mendekat ke arah Radit dan meraih tangan suaminya itu. Nada mencium telapak tangan Radit. Radit terdiam dan menatap Nada dengan tenang.
Radit merogoh sakunya kemudian membuka dompet nya, ia menyerahkan kartu tanpa batas kepada Nada. Bahkan pekerjaan Nada apa, dia juga enggan bertanya.
"Itu untuk keperluan mu, gunakan sesukamu," ucap Radit.
"Apa maksud kamu aku harus berhenti bekerja?" tanya Nada tampak bingung.
"Aku tidak menyuruhmu berhenti, aku hanya menjalankan nafkah lahir untukmu," ucap Radit sambil menatap ke arah Nada.
Nada tersenyum tipis, bahkan Radit memikirkan nafkah lahir untuknya? Aish, jangan bahagia dulu Nada. Bukankah Radit memang sangat royal?
"Kalau kamu tidak melarang aku bekerja, maka aku akan tetap bekerja. Tapi kamu tenang saja, kamu tetap prioritas utama bagiku," ucap Nada sambil meraih kartu tanpa batas itu dan memasukkannya ke dalam dompet nya.
__ADS_1
"Aku trima nafkah lahir darimu Yang. Aku harap kamu juga akan memberimu nafkah batin juga,"
celetuk Nada kemudian melenggang pergi.
Radit menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nada. Astaga, kenapa kelakuan Nada benar-benar mengalihkan dunianya?
"Kita lihat saja nona, sampai kapan kemampuanmu bertahan di dekatku," ucap Radit kemudian melenggang pergi.
❤❤❤❤❤
Pagi hari diruang makan keluarga Marvel sudah mulai sibuk, beberapa pelayan menyiapkan menu makanan kesukaan mereka.
Kakek Aldi, Nenek Amy, Nyonya Mira dan juga Micel telah duduk di tempat masing-masing.
Nenek Amy tampak menatap ke arah makanan yang berada di atas meja. Tidak ada selera makan di benaknya.
"Bu, kenapa hanya dilihat saja? Mau aku ambilkan?" tanya Mira sambil meraih piring Nenek Amy.
"Tidak, aku ingin makanan seperti yang di bawa papamu tadi malam, Mir. Makanannya sangat lezat," ucap Nenek Amy sambil menatap ke arah suaminya.
Mira menghela napas panjang dan menatap ke arah papanya.
😍😍😍😍😍😍
Ritualnya jangan lupa ya readers yang berbahagia... 😍😍🙏.
Sepertinya kali ini aku berhenti m-alak dulu. Tetapi berharap keikhlasan kalian. wkwkwkwk
__ADS_1