
Setelah selesai menunaikan shalat subuh, Nada segera turun. Dilihatnya Radit di dapur sambil memotong beberapa buah dan menghaluskan cabe, garam, dan gula.
"Lagi apa Yang?" tanya Nada sambil menatap ke arah Radit yang tersenyum ke arahnya.
"Aku pengen makan rujak, ini mulut rasanya aneh banget." ucapnya sambil mencolekan buah mangga muda ke sambal.
Nada tampak menggelengkan kepalanya pelan. Ini kenapa suaminya aneh sekali?
"Ini masih pagi lo, makan nasi dulu kan enak. Nanti kamu sakit perut lo, Yang."
Ucapnya sambil meraih telur di lemari es. Nada membuat makanan pagi. Sedangkan, Radit menyalakan TV. Ditengah asiknya makan, telinganya mendengar gosib di salah satu stasiun TV yang dapat membuatnya membelalakkan mata.
Beberapa berita pagi ini membuat Radit terasa gerah, pasalnya foto-foto Nada bersliweran di sana. Foto Nada bersamanya, Foto Nada bersama dengan Gino. Yah, foto Nada begitu jelas, sedangkan foto dirinya dan Gino tampak disamarkan.
Bahkan, foto di Pradikta group juga menyebar luas. Nada yang berbincang dengan Vino, dan semua aktivitas Nada di atas panggung bersama dengan Radit.
Kejadian semalam saat bersama dengan Rafa juga muncul di sana.
Radit mengepalkan tangannya, siapa dalang di balik semua ini? Satu nama sudah mengiang di otak nya.
Dekat Dengan banyak pengusaha, Nona Cantik ini terkenal mendadak.
Bak wanita murahan dirinya yang cantik ternyata dekat dengan banyak pengusaha kaya.
Apa yang dicari Nona Cantik ini? Siapa gerangan dirinya?
Wanita cantik ini menjelajahi banyak pengusaha. Siapa yang akan menjadi pelabuhan cintanya?
Bak wanita murahan dirinya yang berkerudung ternyata mencoba meraih pengusaha sukses.
Wanita satu miliar, pantas saja dia bak istri konglomerat. Tarifnya dahsat.
Radit mengotak-atik canel TV. Banyak sekali artikel tentang Nada yang menjadi trending topik di TV. Radit melirik istrinya yang tengah memasak bersama dengan salah satu asisten rumah tangga.
Radit meraih ponselnya, alangkah terkejutnya dia saat melihat beberapa panggilan dari Nico, Delon, Arfan, Dani.
Segera Radit mematikan TV dan menghubungi Dani.
__ADS_1
Tak berselang lama, Dani mengangkat panggilannya.
"Halo Dan," ucapnya sambil berjalan ke balkon.
"Bos, Nada dalam bahaya. Kau sudah tau? Sebaiknya kau segera melakukan sesuatu. Aku disini tidak bisa melakukan apapun," ucap Dani.
"Iya Dan...."
Tut tut tut panggilan dari Dani kemudian terputus. Radit mencoba menghubungi lagi dan tak bisa. Mungkin Dani kehabisan batray, atau data, atau juga tak mendapat signal karena berada di desa terpencil.
"****, umpatnya. Lalu bagaimana? Dani yang selalu dia andalkan sekarang tak ada.
Radit mengambil langkah ke kamarnya, Nada tak boleh tau tentang ini. Dia takut istrinya kenapa napa. Radit mengambil ponsel Nada dan menemui salah satu kepala asisten di rumahnya.
"Pak Heru, aku harus pergi. Aku minta jangan biarkan Nona Muda keluar rumah untuk saat ini," ucapnya tegas.
"Baik Tuan Muda," sahutnya.
Dengan langkah tergesa Radit menuruni anak tangga, Nada yang kebetulan akan naik sudah mendapati suaminya turun sambil membenahi kemejanya.
"Yang, pagi sekali mau kemana?" tanya Nada sambil mengamati wajah Radit yang tampak khawatir.
"Ponselmu aku bawa, kau aku kasih ponsel yang hanya bisa menghubungiku tanpa paket data," ucap Radit sambil menatap ke arah Nada.
"Tapi ada apa?" tanya Nada lagi sedikit kesal.
"Menurutlah padaku nona, jangan banyak membantah." Radit kembali mencium puncak kepala istrinya.
"Hati-hati Yang," ucap Nada sambil mencium punggung tangan suaminya.
Radit mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Yang dia tuju saat ini adalah Delon, sahabatnya itu mungkin bisa membantunya menghentikan semua informasi yang beredar di media.
Radit mengambil ponselnya dan menghubungi balik Delon yang sempat menghubunginya.
"Halo Marvel, kau sudah tau kabar media?" tanyanya panik.
"Aku baru tau pagi ini, kau dimana?" tanya Radit.
__ADS_1
"Parah, udah tiga jam berlalu dan baru tau? Apa semalaman kerjaanmu main bola saja?" sentaknya. Radit membelalakkan matanya, bagaimana bisa Delon malah bergurau disaat hatinya khawatir?
"Jangan bergurau Delon, kau dimana? Bantu aku," ucapnya.
"Aku sudah mengunci semua akun yang menyebarkan di internet. Tapi pasti dampak dari beredarnya tiga jam lalu masih akan ada. Apalagi pada sikologis Nada, sebaiknya kau jangan dulu memperbolehkannya keluar." ucap Delon.
Radit menghela napas lega, ternyata Delon tau apa yang harus dia kerjakan.
"Terimakasih Delon, aku tak tau lagi harus bagaimana. Kau begitu tepat waktu," ucapnya sambil mengusap wajah kasar.
"Datanglah ke kantorku, kita bercengkrama di sini," ucap Delon dan diangguki oleh Radit.
🎀🎀🎀🎀
Nada yang penasaran dengan tingkah Radit segera ke atas, padahal nenek dan mamanya sudah dia masakkan. Bagaimana bisa dia dilarang keluar?
Nada mengambil ponsel Radit dan menghubunginya, namun sayang sekali Radit tak mengangkatnya. Alkhasil Nada menuliskan pesan untuk suaminya meski belum dibalas.
Nada mengambil tas dan turun, dia mau mengantarkan makanan ke rumah sakit. Nada mengambil rantang dan membawanya ke luar.
"Nona Nada mau kemana?" tanya salah satu pelayan yang kini berdiri di depannya.
"Aku mau ke rumahsakit sebentar Pak," ucap Nada.
"Tapi Pak kepala bilang Nona tak boleh keluar," ucap pelayan itu.
"Sebentar saja pak, aku tak akan lama. Lagi pula aku sudah mengirimkan pesan padanya. Aku hanya mau mengantar makanan untuk nenek dan pulang kembali," ucap Nada.
"Maaf Nona, tidak bisa. Nanti kami dimarahi pak kepala," ucapnya lagi. Kepala pelayan sedang ada keperluan di luar sehingga menitipkan pesan pada anak buahnya.
"Nanti aku yang akan mengatakan padanya kalau aku yang memaksa," ucap Nada.
"Tapi Nona... Kami bisa di pecat,"
"Tidak akan, aku yang akan bertanggung jawab," ucap Nada.
"Asalamualaikum," pamitnya.
__ADS_1
🎀🎀🎀