Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 157


__ADS_3

Gino dan Tuan Sinatria tampak memegang pelipisnya dengan tegang, rasa marah menggebu di hatinya saat mendapat email tentang pengunduran diri yang dilakukan banyak investor yang menginvestaskan pada perusahaanya. 80 persen investor tiba-tiba memutus hubungan kerja padanya.


"Kenapa bisa begini?" sentak Tuan Sinatria pada Gino yang mencoba meminta kembali hubungan kerjasama terjalin.


Gino terdiam, bahkan tak satupun dari investor mau kembali menjalin kerjasama. Kali ini tak ada lagi dana untuk membangun bisnis keluarganya kecuali ada investasi dari perusahaan besar lainya. MR Tan? Untuk saat ini sahabatnya itu belum bisa untuk membantu dikarenakan masih bekerjasama dengan MRD group yang memerlukan dana yang begitu banyak.


Tuan sinatria mengepalkan tangannya, menatap ke arah putranya.


"Kau melakukan apa? Pasti ada hal yang terjadi diluar kendaliku!" bentaknya.


"Marvel Raditia, aku yakin ini ulahnya," ucap Gino dengan penuh emosi. Mengingat kemesraan Nada dan Radit membuat darahnya mendidih. Kemesraan Nada dan Radit di dalam mobil juga tampak jelas di matanya, bahkan Radit sengaja membuka kaca mobil saat itu dan memandang ke atas. Walau dia tidak tau jelas siapa orang yang ada di atas sana.


Bahkan, walau saat ini dia diambang kehancuran, keegoisan Gino masih saja melekat dalam benaknya. Jiwa angkuhnya masih ada dan malah membuat dirinya menggebu.


"Pa, kau harus minta bantuan dana pada Zifana. Aku pikir dia punya banyak tabungan untuk membantu kita," ucap Gino. Dengan menghela napas panjang, Tuan Sinatria melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Zifana yang tidak jauh dari ruang kerja.


Tok tok tok


Tuan Sinatria mengetok pintu kamar putrinya, bahkan kabar Zifana yang terjatuh dari lantai tiga gudang persembunyian itu sudah terdengar di telinganya dan sampai saat ini belum juga dirinya menjenguk putrinya.


"Zifa, ini papa." Tuan Sinatria yang begitu menyayangi putrinya itu mengetuk pintu dengan tenang.


"Masuk pa, tidak Zifa kunci," ucap Zifana sambil menatap ke arah pintu yang terbuka. Tampak wajah papanya yang tersenyum padanya. Tuan Sinatria segera berjalan ke arah Zifana dan duduk di samping Zifana yang baru saja selesai minum obat.


"Papa," Zifana berhambur ke pelukan papanya dan mencari kehangatan di sana.


"Apa putri papa baik-baik saja?" tanyanya sambil mengusap puncak kepala Zifana.


"Aku baik," jawab Zifana kemudian melelepas pelukannya dan menatap ke arah papanya. Wakah tua papanya tampak lelah, meski papanya terkenal licik dan serakah, namun nyatanya dia juga tak bisa membenci lelaki paruh baya itu.


"Tidak ada yang luka?" Tuan Sinatria mengamati setiap inci lengan tangan, wajah dan kaki putrinya.


"Tidak luka parah, hanya lecet saja. Tadi aku memang terjun bebas, untung saja tidak patah tulang atau mati sia-sia. Aku ditolong seseorang," ucap Zifana. Wajah sombongnya yang sumringah berubah menjadi redup karna mengingat ucapan Delon.


"Lalu, kau menyerah untuk mendapatkan Marvel?" tanya Tuan Sunatria lagi. Zifana menghela napas panjang, bayangan Nada menari di otaknya. Bahkan Nada tak pernah melakukan kesalahan apapun padanya dan dia selalu menyakitinya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa melakukan apapun lagi, Marvel dan Nada susah untuk di pisahkan. Bahkan saat ini mungkin aku dalam bahaya karna berani bermain-main dengannya," ucap Zifana prustasi.


"Bahkan dia sudah menghancurkan kita dengan menghentikan kepeecayaan investor papa, entah apa yang dilakukannya." ucap Tuan Sinatria.


Zifana menatap papanya tak percaya, begitukah? Zifana menghela napas panjang dan memandang ke arah papanya dengan terkejut.


"Jadi kita diambang kebangkrutan?" tanya Zifana dengan panik.


"Ya, papa kesini untuk meminta bantuan dana padamu. Papa yakin kamu bisa membantu," ucap Papanya. Zifana menghela napas panjang. Bahkan butiknya kalah saingan dengan Sheyna bontique. Zifana menghela napas panjang. Satu-satunya cara untuk kembali memasarkan butiknya adalah dengan meminta bantuan Sheyna bontoque. Dia harus menemuo ounernya, bekerja sama supaya bisa membantu kesulitan papanya.


"Zifa akan usahakan pa, nanti Zifa kabari," ucapnya. Tuan Sinatria mengangguk pelan dan peegi meninggalkan Zifana setelah mencium puncak kepala putrinya.


"Terimakasih sayang, papa pergi dulu. Selamat malam, selamat beristirahat," ucap Tuan sinatria.


Zifana menatap punggung papanya dan meraih ponselnya, menghubungi asisten pribadinya.


"Selamat Malam Bu Zifa,"


"Malam Lusi, aku mau kamu membuat proposal pengajuan kerjasama dengan Sheyna bontique. Kau atur jadwal pertemuan, dengan asisten pribadi ounernya kemudian segera kabari aku," ucap Zifana dengan suara tegas yang cenderung memaksa itu.


"Lusi, kau dengar aku?" sentaknya.


"Iya Bu," jawab Lusi sedikit gugup.


"Segera kerjakan! Aku tidak mau kau berlama-lama," sentaknya kemudian menutup ponselnya.


"Ya Tuhan, semoga aku bisa menjalin kerjasama dengannya," ucap Zifana lirih.


😍😍😍😍


Radit mengambil langkah seribu, hingga tak memperhatikan apapun. Suara Nada yang memuntahkan isi perutnya membuatnya menuju ke toilet.


Braakkk...


Pintu yang dibuka Radit menimbulkan suara sehingga mengagetkan makhluk yang kini ada di dalamnya. Nada yang terkejut segera membersihkan mulutnya, ia memutar langkahnya.

__ADS_1


Netra Nada mendapati Radit yang berdiri di depanya. Dengan gerakan cepat Nada mencoba berjalan. Namun kakinya yang ternyata tiba-tiba kesemutan membuatnya hampir saja tersungkur. Nada yang terkejut memejamkan matanya.


"Bukalah matamu," ucap Radit. Nada perlahan membuka matanya, kini dia berada di gendongan Radit, mengalungkan tangannya di leher suaminya. Mata mereka saling bertemu, sebuah perasaan bahagia menjalar di hati keduanya.


"Maaf Yang, Kamu bisa menurunkan aku jika keberatan," ucap Nada.


Radit tersenyum kemudian membawa Nada berjalan dan duduk di sofa. Nada kini berada di pangkuanya. Wajah mereka sangat dekat, bahkan Radit bisa melihat dengan jelas rona merah wajah istrinya.


"Sejak kapan dirimu disini, hem? Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Radit pelan. Napas Radit terasa di telinga Nada dan sanggup, membuatnya merinding.


"Baru saja," ucap Nada. Rasa gugup menguasai hatinya.


"Lain kali bangunkan aku, jangan sendirian menghadapi ini," ucap Radit kemudian mengangkat Nada dan mendudukannya di sofa sampingnya. Nada masih mengamati mulut Radit yang mengomelinya. Radit mendongak menangkap tatapan teduh istrinya.


"Ayo ke kamar," ucap Radit.


"Aku masih mau di sini," ucap Nada.


"Kau masih harus mendapat hukuman karna keluar rumah tanpa seizinku!" tegas Radit. Nada membelalakkan matanya.


"Aku minta maaf," ucap Nada. Radit menghela nafas panjang.


"Maafkan Aku," ucapnya lagi. Radit mengusap pelan pipi Nada.


Radit berdiri, melangkahkan kakinya. Nada menarik tangan Radit. Radit menghentikan langkahnya, kemudian berdiri di depan Nada. Memandang Nada dengan sorot mata teduhnya.


"Aku memaafkanmu, tapi kau tetap harus di hukum," ucap Radit. Radit melingkarkan tangan kirinnya di pinggang Nada, tangan kanannya mengangkat dagu Nada. Keduanya memejamkan matanya.


Aku titipkan Dia, lanjutkan...perjuanganku..


Terdengar deringan ponsel Nada. Keduanya membuka mata dan melirik ponsel Nada yang memperlihatkan Nama Sifa. Nada menatap suaminya yang tampak sebal. Nada tersenyum tipis.


"Pending dulu ya yang," ucapnya seolah mengejek Radit. Radit hanya menghela napas dalam.


🎀🎀🎀🎀

__ADS_1


Maafkan author telat up..wkwkwk. dunia nyata padat sekali.😆😆😆. Tapi tetap diusahakan kok. Mohon dimaklumi. wkwkw


__ADS_2