
"Haruskah dia menjawab dengan jujur?" Nada tampak memejamkan matanya, menahan gejolak rasa sesak karna merasa cemburu.
"Apa yang kamu lakukan di sana hem?" tanya Radit lagi sambil memandang wajah cantik yang kini berbalut kerudung itu.
Nada tampak berpikir keras, bagaimana reaksi Radit jika tau bahwa dia adalah teman dekat dari Amara? Nada menghela napas dalam-dalam.
"Aku..." Nada menghentikan ucapannya dan menatap ke arah Radit dengan tenang.
"Sebelumnya, aku boleh bertanya?" Nada menatap wajah Radit yang ada di pangkuannya dan mengusap lembut wajah itu dengan tangan mulusnya.
"Kau bebas bertanya apapun Dear," jawab Radit dengan pelan.
"Masih adakah nama wanita lain di hatimu?" Nada memejamkan matanya. Bahkan dirinya masih meragukan cinta Radit? Aish, kenapa dia harus mempertanyakan cinta Radit? Bukankah semua sudah jelas? Melihat kedatangan Radit di kamar yang begitu dia benci adalah bukti jika Radit mencintainya. Lalu, apalagi?
Radit duduk dan menatap Nada dengan tenang.
"Masih meragukanku?" tanya Radit lagi. Nada menatap langit-langit kamarnya. Berharap Radit menjawab dengan jawaban yang melegakan hatinya. Tapi, kenapa Radit malah balik bertanya?
"Aku hanya memastikan, kamu tidak membayangkan wajah orang lain saat melakukan denganku," ucap Nada.
Deg, Radit menangkup wajah Nada. Bahkan tak ada bayangan wanita lain, lalu bagaimana bisa Nada tau jika dirinya selalu seperti itu saat dulu? Pikir Radit.
"Apa kau tau sesuatu?" tanya Radit.
__ADS_1
"Yang aku tau, kamu menyebut nama wanita lain saat mencoba memerko*a aku waktu itu," jelas Nada. Radit mengusap pelan pundak Nada dan tersenyum.
"Wanita itu bukan lagi apa-apa," ucap Radit.
"Kau, satu-satunya yang saat ini mengisi hatiku Dear," lanjut Radit dan mampu menerbitkan seluas senyum di bibir Nada.
"Serius?" tanya Nada. Radit mengangguk pelan.
"Okey, aku akan memberi tau kamu alasan kenapa aku ada di sana," ucap Nada.
"Hem, apa yang membuatmu ke sana?" tanya Radit.
Nada mengeluarkan ponselnya kemudian membuka galeri dan memberikan ponsel itu kepada Radit. Radit menatap Nada kemudian meraih ponsel Nada. Dilihatnya dua wanita cantik berdiri di depan sebuah butik ternama yang bertuliskan Sheyna bontique.
Radit membelalakkan matanya, menatap kedua gadis itu secara bergantian. Amara, gadis cantik yang dulu mengusik hatinya. Nada? Manusia yang saat ini berhasil merebut hatinya. Lalu, apa maksud dari semua ini?"
"Amara," lirihnya.
Deg, jantung Nada merasakan sesak. Mendengar Radit menyebut nama wanita lain membuat dirinya semakin sesak. Nada menurunkan kakinya dan menatap langit biru dari balik jendela.
Radit berdiri dan mengikuti langkah Nada. Radit melingkarkan tangannya di pinggang Nada. Kemudian mencium puncak kepala Nada. Mengarahkan pandangan mata Nada kepadanya.
"Amara, wanita yang pernah aku cintai, tetapi dia menikah dengan kakak angkatku," ucap Radit dengan tenang. Nada membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Jadi Radit adalah adik Micho?" batin Nada.
"Amara tau?" tanya Nada. Bahkan sedemikian mereka dekat, tak pernah sekalipun Nada mendengar Amara menyebut nama Radit.
"Aku hanya mampu untuk menyimpannya, bahkan dengan Amara pun aku tak sedekat itu," ucap Radit. Nada memejamkan matanya dan menatap ke arah Radit.
"Sepertinya kita sama, terjebak dalam cinta dalam diam yang menyakitkan," ucap Nada. Radit menautkan alisnya dan memandang istrinya.
"Maksudnya?" tanya Radit.
"Sebenarnya aku juga mencintai orang yang tidak tau akan perasaanku, dia kak Rafa kakak dari Amara," ucap Nada.
Radit mengusap wajah Nada dan mengangkat dagu Nada.
"Jadi, kamu dan Amara berteman baik?" tanya Radit dan diangguki oleh nada.
"No problem, aku mencintaimu dan akan selalu seperti itu, Dear," ucap Radit sambil mendekatkan wajahnya ke arah Nada.
"Lalu apa hubungannya kamu di bar dengan Amara" tanya Radit.
"Aku menjemput Amara, melihat Micho bersama orang lain membuat dia pristasi dan minum, aku menyusulnya dan bertemu denganmu," ucap Radit.
Radit tersenyum kemudian menyambar bibir merah muda yang menggoda. Memberikan ciuman pagi yang memporak porandakan hati Nada.
__ADS_1
Rafa? Jadi lelaki yang sempat di cemburuinya tak tau perasaan Nada? Aish, kenapa dirinya merasa bahagia? Bahkan, mungkin ini adalah jalan Tuhan memberi takdir yang sama kemudian mempertemukan keduanya.
😍😍😍😍