
Micel melangkah pergi setelah membuang pistol itu. Kini, ingatannya telah kembali. Dia telah menikah? Dengan Vino? Micel menghela napas panjang. Merasakan sesak yang bergelayut di dadanya.
Micel melangkah ke arah dua manusia yang telah selesai berkelahi itu. Micel memandang dua orang di depannya secara bergantian. Air matanya masih saja mengalir deras. Vino dan juga Nicho sama-sama mendekat disisi kanan dan kiri. Micel kini berada diantara mereka.
"Kak Nicho, Kak Vino. Hentikan perkelahian kalian, terimakasih telah perduli denganku. Saat ini aku sudah mengingat semuanya. Aku harap hubungan kalian tetap baik baik saja," ucap Micel kemudian melenggang pergi.
"Nicho?" tanya Vino sambil menatap ke arah orang di depannya. Orang yang memakai baju hitam berlogo Aster itu.
Nicho menghela napas panjang dan melepaskan penutup wajahnya. Vino terkejut, jadi Nicho adalah pimpinan geng Aster? Lalu, apa Micela anggotanya? Vino memejamkan matanya. Rasa sesak menggelayut di otaknya. Jadi karna ini Nicho selalu ada disaat Micel membutuhkan? Apa ada hal lain lagi?
"Apa kau mencintainya?" tanya Vino. Nicho tersenyum kecut.
"Sepertinya kau lebih pandai untuk menerjemahkan itu semua," ucap Nicho kemudian melangkah pergi.
"Micela Adelia Dika adalah istriku, jangan pernah berpikir untuk memilikinya. Dia milikku, dan selamanya akan seperti itu," ucap Vino dengan tegas.
Nicho yang tadinya melangkah menghentikan langkahnya. Menatap ke arah Vino yang memunggunginya.
"Saat ini memang milikmu, jika lain waktu kau menyakitinya, aku tak segan mengambilnya darimu," ucapnya kemudian melenggang pergi. Vino mengepalkan tangannya dan mengeratkan rahangnya.
__ADS_1
😊😊😊😊
Micela memandang danau indah di depannya. Hatinya sakit menerima kenyataan yang sesungguhnya. Micel mengusap pelan air matanya. Hingga sebuah tangan membawanya dalam pelukan hangat. Micel membuka matanya, dilihatnya Vino dengan luka memar diwajahnya kini duduk di sampingnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Vino dengan tenang. Tangan kokohnya mengusap pelan pundak Micela, Micel terdiam mencoba menenangkan gejolak rasa yang berkecamuk dihatinya.
"Apa yang membuatmu menangis,hem?" tanya Vino lagi. Micel melepas pelukan Vino, menatap lekat wajah tampan penuh luka karna melindunginya. Micel lagi-lagi meneteskan air mata. Micel mengalungkan lengannya dileher Vino.
"Micela Adelia Dika, dari dulu hidup kesepian. Tanpa kasih sayang, tanpa cinta dari orang tua bahkan kakaknya, dan sekarang harus menikah dengan keadaan yang sama? Apa tidak sebaiknya kita akhiri semuanya Kak?" ucap Micela, satu tangannya terulur mengusap air mata yang mengalir deras di pelupuk matanya.
Vino membalas tatapan teduh dari istrinya, memandang dua bola mata indah yang mampu memikat hatinya yang saat ini berderai air mata.
"Micel, tadinya aku memang menikah denganmu tanpa cinta. Bahkan aku hanya berniat menjagamu dari manusia jahat yang datang dari masalaluku, akan tetapi aku ingin memperbaiki semuanya. Kita buka lembaran baru mulai hari ini, apa kamu mau?" tanya Vino dengan mantap.
"Omong kosong macam apa yang kamu ucapkan, Tuan Vino?" tanya Micela, wajahnya mendongak karna Vino lebih tinggi darinya. Vino menyentuh pipi Micel. Senyumanya mengembang, namun hatinya perih karna cintanya diragukan.
"Aku tidak omong kosong, aku benar benar-benar ingin memulai dari awal Nona," ucap Vino.
"Bukankah ada wanita lain di hatimu Kak?" tanya Micel.
__ADS_1
Vino memejamkan matanya. Bagaimana cara meyakinkan seorang Micel bahwa mulai saat ini hanya Micel yang ada di hatinya?
Vino tersenyum tipis, tangan kananya mengangkat dagu Micel. Menatap wajah cantik itu dengan teduh.
"Percaya atau tidak, sejak aku memutuskan untuk memulai lembaran baru, sejak itu juga aku memutuskan hubungan dengan wanita itu. Aku hanya bertemu dengannya sekali. Itupun hanya kamu yang ada di otakku," ucap Vino. Micel menghela napas panjang. Percaya? Atau bualan semata?
"Apa benar begitu?" tanya Micel.
"Apa aku tampak seperti pembohong?" tanya Vino.
"Aku hanya ingin memastikan kesungguhanmu, Kak" ucap Micel sambil tersenyum.
Micel memejamkan mata indahnya, menikmati hembusan angin malam yang semilir. Vino menghela napas panjang dan menatap ke arah Micel.
Keduanya saling berhadapan, Vino mengusap pipi Micel dengan lembut.
"Micel, maafkan aku," ucap Vino. Micel memejamkan matanya. Vino meraih micela dalam dekap hangatnya.
"Aku akan berusaha menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, sekali lagi maafkan aku, Baby," ucap Vino dan diangguki oleh Micela.
__ADS_1
"Bismillah, jika itu memang keputusannya, semoga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah ke depannya, Aku akan mencobanya Kak," ucap Micel dan diangguki oleh Vino.
😀😀😀😀😀