Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2.Dimana Micela 2?


__ADS_3

"Vino, dimana lagi Micela? Bukankah tadi bersamamu?" bentak Mama Elina.


Papa Pradikta yang mendengar teriakan istrinya segera mendekat. Diraihnya ponsel yang dibawa istrinya itu.


"Vino, apa kau dengar? Dimana Micela? Apa yang terjadi? Apa kau menyakitinya?" tanya papanya panjang lebar. Vino menghela napas panjang. Tangannya bergerak gerak kesana kesini menggaruk badanya yang sudah sangat membengkak. Angin malam semakin memnyebarkan bintik merah yang menyakitkan.


"Maaf Pa, Vino tidak bisa menjaganya," ucap Papa Pradikta.


"Papa tidak mau tau, temukan Micela sekarang juga dan bawa dia pulang," ucap papanya kemudian menutup ponselnya.


Vino menghela napas panjang, ini semua salahnya. Kenapa dia menyakiti Micel?


Vino kembali mengarahkan orangnya untuk mencari keberadaan istrinya. Willy? Asistennya itu sudah bergerak dengan cepat. Vino menatap Rendi dengan tenang.


"Kakak pulang dulu," ucapnya pada Rendi.


"Aku ikut Kak, lihat badanmu. Pasti tidak baik baik saja," ucap Rendi. Walaupun saat ini dia merasa geram pada kakaknya itu. Dia berusaha untuk tetap tenang. Vino memejamkan matanya dan melangkah pergi diikuti oleh Rendi.


❤❤❤🌹🌹🌹


Vino dan Rendi telah sampai di Mansion Pradikta. Vino yang saat ini sedang alergi tampak kesakitan. Bahkan, tubuhnya bengkak dan sangat tidak nyaman. Semenjak tadi belum sempat meminum obat. Mereka berjalan ke arah pintu.


Betapa sangat terkejut saat dirinya melihat isak tangis Mama Elina, Papa Pradikta mengusap pelan pundak Mama Elina. Mereka tampak saling menguatkan, Vino dan Rendi mendekat ke arah mereka.


"Ada apa ini? "


Suara itu membuat mereka menoleh bersama, dengan pelan Vino melangkah mendekati kerumunan itu. Hentakan suara sepatu mahalnya terdengar nyaring ditelinga. pasalnya, suara tangis yang tadinya terdengar, seolah menghilang begitu saja. Tatapan yang seakan megintimidasi dirinya, ditampakkan oleh dua orang tuanya yang berdiri di depannya.


"Ada apa ini Pa?" tanya Vino. Papanya melemparkan foto foto Vino bersama dengan Asila di rumah sakit. Vino memejamkan matanya. Dia tampak pias.


"Pa, aku bisa jelaskan," ucap Vino.


"Apa lagi Vino? Tidak bisakah kamu bersyukur dengan apa yang kamu miliki? Kenapa masih memikirkan wanita yang jelas sudah meninggalkanmu? Kau pernah di buang bagai sampah. Dan sekarang kau mendekatinya lagi? Apa apaan ini? Dimana akalmu?" tanya Papa Pradikta panjang lebar. Vino terdiam.


Rendi mengambil foto foto mesra kakaknya itu. Rendi menghela napas panjang, mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa kakaknya bersama dengan wanita lain? Apa tidak bisa menghargai perasaan Micel? Pantas saja saat ini kakak iparnya itu entah ada dimana.

__ADS_1


Rendi dengan penuh kemarahan mendekati Vino. Rendi mengepalkan tangannya, entah kenapa dia seperti kesetanan. Memukul Vino tanpa Ampun. Vino diam, pikirannya terlalu terkejut karna keadaan ini.


"Kak kenapa kau seperti ini, rasakan ini, dari adik yang kecewa pada ulahmu," ucap Rendi setelah melemparkan satu pukulan di pipi kanan Vino yang memberikan bekas lebam di pipi Vino.


Bugg


"Anggap saja, ini dari Micel yang kecewa padamu dan juga yang Begitu menyayangkan perbuatanmu," ucap Rendi dengan mendaratkan bogem mentah di pipi kiri Vino.


Vino menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya. Teriakan Mama Elina yang histeris karena kejadian ini tidak mereka hiraukan, hingga pada akhirnya Vino yang telah babak belur melawan juga, setelah Rendi benar-benar hampir menghabisinya.


"Cukup, Hentikan!"


Suara papa Pradikta memecah keheningan. Suara itu benar-benar terdengar nyaring ditelinga mereka. Mama Elina terduduk sedih, sedangkan Vino dan Rendi masih saling mencengkram kerah, satu sama lain. Dengan gerakan pelan mereka melepaskan kerah baju secara bersamaan.


"Aku tau aku salah," ucap Vino tanpa basa-basi, mungkin terdengar memuakkan ditelinga orang-orang yang berada di depannya.


Papa Pradikta maju beberapa langkah, berdiri di depan Vino, melemparkan satu tamparan keras dipipi Vino. Vino memegang pipi nya yang terasa panas itu. Lengkap sudah pelajaran yang harus dia terima malam ini karna perbuatannya pada Micela.


Papa Pradikta memperlihatkan foto Vino dan Asila. Vino mengambil alih foto itu, memandang foto yang diambil seperti adegan romantis. Vino memandang Papa nya, merobek foto-foto itu dan menghamburkanya.


Perkataan Papanya membuat nya terkejut, matanya memerah, tanpa aba-aba Vino melangkah pergi ke atas, tampak mata Vino memerah menahan tangis.


Papa Pradipta hanya memandang punggung Vino yang menjauh, Mama Elina membelabakkan matanya. Air matanya juga lolos begitu saja. Pasalnya dia juga baru tau jika foto itu dari Micel sendiri. Sakit, saat semua ini terjadi. kecewa, sedih, semua menyesakan dadanya. Rendi beranjak dari tempatnya. Dia begitu sesak mendengar kenyataan, Dia tau perasaan Micela, mungkin sesak dan sangat menyiksa batinnya, tetapi dia juga tau perasaan Vino, Kakak yang bodoh yang selalu memunafikkan perasaannya.


"Micel, apa kamu pikir ini keputusan yang benar? Aku tau kamu hanya emosi semata, kalian benar-benar dalam kondisi yang masih dalam keegoisan masing masing. Sepertinya membiarkan mu menjauh sementara waktu itu lebih baik, biarkan Kak Vino menyadari kesalahannya dan benar-benar menyadari perasaannya. Ada kalanya kalian harus saling berjauhan, untuk meyakinkan diri seberapa besar cinta kalian untuk pasangan kalian," ucap Rendi pelan, ia memejamkan matanya. Dia berada dalam pilihan yang sulit, keduanya sama-sama orang yang berarti baginya. Dia menghela nafas panjang. kemudian melenggang pergi.


😢😢😢😢


Vino sampai di depan ruang kamarnya, Vino membuka pintu, segera Vino berjalan cepat menuju ke dalam.


"Micela, Micel,..."


Suaranya menggema memanggil Micela. Namun tak ada jawaban. Vino memejamkan matanya.


Vino menghela napas panjang, menatap setiap sudut ruang kamarnya, langkahnya pelan, pelan sekali, dadanya sesak menerima kenyataan yang begitu menguras pikiranya. Air matanya benar-benar tak terbendung. Dia membuka pintu, melangkah masuk ke dalam ruang ganti, bayangan Micel ada di sudut kamar ini. Tidak ada Micel di ranjangnya, tidak ada yang tersenyum padanya.

__ADS_1


Vino berjalan menuju ke arah lemari pakaian, Pakaian milik Micel masih tertata rapi di dalamnya. Vino mengusap kasar wajahnya. beberapa jam yang lalu, dia masih merasakan sentuhan lembut tangan istrinya, dekapan hangat dari istrinya, masakan lezat dari istrinya walaupun harus alergi seperti ini.


Vino berjalan menuju meja rias istrinya, kemarin Micel masih duduk disini memeluk foto pernikahannya. Vino mendaratkan bokongnya di kursi itu, mengulurkan tanganya mengambil bingkai foto pernikahannya dengan Micel. Dia menitihkan Air matanya, Mendekap erat Bingkai foto tersebut. Rasanya ingin menghukum dirinya sendiri atas semua kesalahannya, Vino merasa menjadi manusia yang bodoh, Micel pergi karna dirinya, dia tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, namun penyesalannya tak pernah Bisa mengembalikan Micel untuk hadir di depannya.


"Sekarang, kakak memintaku memberi kesempatan? Kesempatan yang keberapa? Kesempatan yang seperti apa? Aku yakin, ada orang lain di hati kakak saat ini. Jika memang pada akhirnya kakak tidak bisa mencintai aku. lalu kakak juga masih belum bisa melupakan dia. Sepertinya semua cukup sampai disini. Aku punya hati Kak, aku punya hati dan aku tidak bisa hidup dalam keadaan yang seperti ini. Jangan lagi bingung, dan jangan lagi kakak pusing karna ini. Bukankah aku bukan siapa siapa? Lepaskan aku, dan pertahankan dia," Ucapan Micel siang tadi menggema di telinganya.


"Baby, kemana kamu pergi? Kenapa kamu tidak memberikan kesempatan lagi? Apa benar tidak mencintaiku? Apa benar sudah tak lagi mau hidup berdampingan denganku? Apa benar begitu Micel? Kau tau, kehilangan Asila saat itu, tidak seperti aku kehilanganmu saat ini. Mungkin, aku terlalu yakin masih mencintai Asila. Tapi ternyata saat kamu pergi, baru aku menyadari bahwa aku sangat mencintaimu, Micela Adellia Dika. Aku sangat merasa kehilangan dan kecewa. Apa sakitnya seperti ini yang kamu rasakan setiap harinya? " lirih Vino.


Vino tertawa menertawakan dirinya sendiri, tetapi dia juga menangis ditengah tawanya. Kenapa baru kali ini dia menyadari perasaannya? kenapa baru menyadari semuanya? Penyesalan selalu membawa luka, Penyesalan juga tidak membawa keadaan seperti semula. Vino mengambil ponsel di dalam sakunya, mencoba beberapa kali menghubungi nomer Micel, namun tetap saja hanya memanggil. Vino memejamkan matanya, diikuti Air mata yang masih setia mengalir menemani kesedihannya.


Ponsel Vino berdering, hatinya bahagia, langsung saja dia mengangkat telepon itu. Dia pikir dari Micel. Hatinya merasa bahagia.


"Halo Sayang, dimana kamu? Dimana kamu? Kau tau, semua orang menghawatirkanmu," ucap Vino.


"Aku Asila, Vino," ucap Asila di sebrang.


Deg, rasa kecewa menyeruak di hati Vino, dia pikir itu istrinya. Vino melihat ponselnya. Yang Benar saja, itu nomer baru yang menghubunginya.


"Asila kita akhiri semua sampai disini, jangan lagi mengganggu hidupku Asila. Aku sudah beristri, dan aku baru menyadari bahwa aku sangat mencintai istriku. Pergilah, seperti waktu itu kamu pergi meninggalkan aku," ucap Vino kemudian mematikan panggilan.


Asila yang mendengar ucapan Vino mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak. Asila kembali mengambil ponselnya memanggil nama orang di sebrang sana.


"Temukan dia dan lenyapkan dia," ucapnya dengan emosi yang menggebu.


😢😢😢😢


Micela, gadis itu tersenyum lebar menatap keindahan pemandangan malam hari ini. Bangunan megah, di sekitar pegunungan tampak indah di malam ini. Di sebuah fila dia berada, memanjakan dirinya dengan menghirup udara yang segar dengan mudahnya, berbeda dengan di dekat Vino, udara saja sangat sulit di dapatkannya, sesak sekali rasanya.


"Terimakasih Kak Nicho," ucap Micel di ponselnya saat menelpon Nicho. Ya, dia tinggal di Fila Nicho yang tak jauh dari tempat tinggal Kakaknya. Davina melarang Nicho membawa Micel datang ke rumah lagi. Dia tak mau melihat keributan yang sama, jika Micel kembali di rumahnya. Apalagi saat ini, wajah Davina yang terkena bogem dari Vino juga masih belum membaik.


Micel menghela napas panjang.


"Selamat bersenang-senang tanpa Aku Kak Vino, aku hanya ingin bahagia. Jika tidak bersamamu, aku akan membahagiakan diriku sendiri, aKu harap kau juga bahagia nantinya," ucapnya pelan.


"Micel, kamu layak bahagia, pantas bahagia, dan harus bahagia." ucap Micel menyemangati dirinya.

__ADS_1


😄😄😄😄😄


__ADS_2