Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Aku tidak bersalah Dear


__ADS_3

Nada menatap ke arah foto dirinya dengan Radit yang terpampang di dinding Kamar. Dilihatnya lekat lekat wajah Radit yang tampan.


"Kamu terlalu sempurna Yang, wajar saja masalalumu penuh dengan problem. Seharusnya memang aku disampingmu. Bukan memintamu menjauh dariku," lirih Nada.


Brak,


Suara dibalkon kamar membuat Nada terkejut. Nada melirik jam yang menunjukan pukul 21.00. Seketika Nada mengusap pelan lehernya yang tiba-tiba saja meremang. Nada berdiri menuju ke arah jendela. Diraihnya ponsel dan meminta satpam segera naik ke kamarnya.


Dengan langkah yang pelan Nada berjalan ke arah pintu yang menghubungkan dengan balkon kamar, disibaknya gorden kamar berwarna merah jambu itu. Tangannya mengambil tongkat kayu yang berada dipojokan ruangan.


"Siapa disitu?" tanya Nada. Kepalanya sedikit menyembul keluar, netranya mendapati sebuah telapak sepatu di lantai. Nada menghela napas panjang. Takut? Pasti. Nada juga melihat pot bunganya ambruk.


Nada keluar dari kamarnya, melihat sekitar balkon yang tidak menampakkan orang atau pun hewan. Langkahnya sedikit lebih pelan, netranya waspada melirik kesana dan kesini.


Nada melihat ke bawah, mungkin seekor kucing yang menabrak pot bunganya. Namun, tidak ada kucing di bawah sana. Nada memutar tubuhnya, ia terkejut manakala melihat bayang-bayang hitam yang yang ada di pinggiran balkon sedang bergerak gerak. Sepertinya bajunya tersangkut sehingga orang itu tak bisa melompat dengan sempurna.


Nada membelalakan matanya, berusaha untuk tetap tenang, Nada membungkam mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Dengan langkah hati-hati Nada menyodorkan tongkat kayu ditangannya.


Dengan ancang-ancang kekuatan maksimal Nada memukul punggung seseorang yang menutup tubuhnya dengan jaket tebal.


Bug bug bug


"Siapa kamu?"


"Mau apa kamu?"


Bug.... Bug....


"Pergi dan jangan mengganggu kenyamananku," teriak Nada.


Merasa keselamatannya terancam dan takut terjatuh, lelaki itu menarik paksa celananya yang tersangkut di duri duri pagar yang menghubungkan dengan balkon kamar Nada.


Wweekkk


Sepertinya celananya sobek sehingga menimbulkan suara. Nada tersentak kaget. Astaga, bagian mana yang sobek? Terus memukul atau menutup mata? Lelaki itu mengarahkan kedua telapak tangannya ke atas, melindungi wajahnya yang diserang Nada.


"Pak satpam, ada maling pak..." teriak Nada sambil memukul dan terus berteriak memanggil Pak satpam dibawah sana.


Saat itu seseorang membungkam mulut Nada. Orang itu mengangkat Nada dalam gendongannya. Nada terkejut, mencoba meronta. Tongkat kayu yang ada ditangan kanannya terjatuh karna gerakannya. Nada terkejut dan Nada terus memukul dada bidang lelaki yang mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Lepaskan aku, lepaskan aku!" ucap Nada.


"Diamlah Dear, ini aku. Radit," ucap lelaki itu sambil menatap ke arah Nada.


Nada menghentikan aksi memukulnya. Sejenak mata mereka saling menatap. Bola mata mereka saling beradu.


"Yang," gumam Nada.


Binar bahagia tampak dari kedua bola mata yang saling beradu. Rindu yang menggebu seakan sirna dengan mudahnya. Bayangan pertengkaran tadi siang menyelinap difikiran Nada, membuat dirinya sesak menahan gejolak rasa cemburu yang membakar hatinya.


Ya, setelahh berpikir jernih, Nada baru menyadari bahwa ia marah karna cemburu. Bahkan dirinya mengedepankan emosi karna terlalu cinta pada suaminya. Terlalu memikirkan perasaan Selena karna dia takut jika Radit berpaling darinya dan mencintai wanita itu dengan bayinya. Padahal semua berita itu belum juga benar.


"Turunkan aku!" ucap Nada sambil mencoba melompat dari rengkuhan Radit.


"Aku akan menurunkanmu, jangan bergerak gerak. Kasian baby kita Dear. Kenapa kau nakal sekali," ucap Radit dengan pelan. Nada tersentak kaget. jantungnya bergetar hebat mendengar ucapan Radit.


Dengan pelan Radit menurunkan Nada yang menampakkan wajah merah meronanya. Jadi ini suaminya? Kenapaa muncul dari pagar? Apa tidak bisa mengetuk pintu? Kenapa memanjat manjat? Jadi yang sobek celana suaminya? Nada mengamati celana Radit dari atas ke bawah.


"Apa yang kamu lihat Dear?" tanya Radit dengan penasaran. Nada memutar tubuhnya mengelilingi tubuh suaminya.


"Yang, aku tadi mendengar sobekan kain. Lalu apa yang sobek?" tanya Nada sambil menggigit bibir bawahnya menahan tawa. Radit tampak sebal sekali, dia menarik Nada dalam rengkuhanya. Radit memutar langkah dan dia bersandar di dinding. Bokongnya bolong karna tersangkut. lalu bagaimana? Apa dia harus memperlihatkan? Ini lagi, kenapa istrinya malah tertawa?


"Aku malu Dear, kenapa mengejekku?" sebalnya.


Keduanya saling berpandangan kembali, kini tangan Radit merengkuh Nada dalam pelukannya. Nada tak bisa berkata apapun. Yang jelas dia bahagia bisa bertemu dengan manusia yang sekarang tengah memeluknya.


"Hei apa kamu merindukan aku?" tanya Radit tepat di telinga Nada. Nada memejamkan matanya, lelehan air mata membasahi pipinya. Tak mau menjawab, Nada terus saja memeluk suaminya.


"Aku Minta maaf Yang," ucap Nada.


Mendengar ucapan Nada membuat hati Radit berdesir ngilu. Dia tau hati Nada sangat sakit karna Selena.tapi kenapa dia malah minta maaf? Bukankah itu bukan kesalahannya?


"Dear, kenapa minta maaf, ini bukan salahmu?" ucap Radit sambil mengusap pelan pundak Nada.


"Aku minta maaf karna memintamu pergi, harusnya aku ada di sampingmu untuk menyelesaikan persoalan ini," ucap Nada. Radit terkekeh pelan. Dia bahagia, Nada selalu berpikir positif. Bahkan, ketika dia marah pun itu wajar sekali.


Radit terus memeluk istrinya, Rasa sesak menyeruak dihatinya.


"Terimakasih telah menjadi istri terhebat Dear, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," ucap Radit

__ADS_1


"Aku ada kabar untukmu," ucap Radit.


"Kabar apa Yang? Apa sangat penting?" tanya Nada sambil menatap ke arah mata Radit.


"Itu begitu penting untukku, Nona Nada yang terhormat," ucap Radit.


"Apa? Coba katakan," ucap Nada sambil melepas pelukan Radit.


Radit menatap ke arah istrinya dengan tersenyum. Nada merasakan aura kebahagiaan di dalam diri Radit. Radit mendekat ke arah Nada. Radit mengangkat dagu Nada dengan lembut. Bahagia, cinta, terharu semua tumpah ruah dalam benaknya, membuat istrinya itu merasakan tubuh Radit bergetar luar biasa.


Nada merasakan deg degan. Air mata Nada mengalir deras, apa yang nantinya akan disampaikan oleh suaminya? Nada menghela napas panjang.


"Katakan sekarang," ucap Nada lirih. Radit mendekatkan wajahnya ke arah Nada mencondongkan wajahnya.


Dengan gerakan cepat Radit meraih dagu Nada. Membungkam bibir Ranum milik Istrinya dengan ciuman lembut dan kuat. Seketika Nada melongo dan Mendorong pelan tubuh Radit yang menekan perutnya. Radit tersenyum tipis. Mengusap perut Nada dan menciumnya dengan sayang.


"Apa Daddy menyakitimu, Baby?" lirihnya.


"Katakan sekarang, atau aku akan pergi? " tanya Nada membuat bibir Radit terkekeh dan kembali berdiri.


"Cium sekali lagi Dear," ucap Radit sambil kembali memajukan wajahnya sehingga membuat Nada mundur beberapa langkah.


"Stop! Jangan mendekat lagi. Kenapa kamu itu membuat sebal?" tanya Nada. Radit tersenyum tipis, ia maju dua langkah dan meletakkan dua tangannya di pundak istrinya.


"Katakan sekarang!" ucap Nada lagi.


"Oke, aku akan mengatakan, tapi ijinkan aku menengok putra kita nanti," ucap Radit. Nada menautkan alisnya.


"Apa maksudmu Yang?" tanya Nada sambil membelalakan mata indahnya.


"Kamu tidak paham?" tanya Radit. Nada menggelengkan kepalanya.


"Apa mau memberikan ciuman untukku lagi?" tanya Radit. Nada sedikit geram, ia mendorong pelan tubuh Radit dengan pelan.


Radit tersenyum tipis. Dia maju beberapa langkah mendekati Nada. Nada mundur, hingga ia terkunci oleh dinding dan terkunci oleh lengan kokoh Radit. Radit menatap lekat wajah di depannya. Nada tidak bisa bergerak, ia tidak bisa menghindar. Kini wajahnya benar-benar dekat dengan Radit


"Aku tidak bersalah Dear," ucap Radit tepat disamping telinga Nada. Napas Radit terasa ditelinganya. Aroma wangi tubuh Radit membuat jantung Nada berdetak tak beraturan. Ditengah rasa kaget atas ucapan Radit, Nada memejamkan matanya. Mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.


🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2