Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Dua pasangan Venomenal


__ADS_3

Nada menampakan senyuman indah pada Radit yang saat ini tengah menatap dirinya, memajukan tubuhnya, meraih pinggang Nada dan menggenggam tangan Nada. Kaki nya melangkah ke kanan, diikuti Nada. Melangkah ke kiri mengikuti alunan musik yang mengalun lembut.


Mereka tampak serasi dan sangat memukau, sangat hangat dan romantis. Radit menundukkan pandanganya, menatap ke arah Nada yang kini mendongak. Mereka saling menatap, larut dalam kehangatan.


Nada dan Radit terhanyut dalam alunan musik romantis yang menghiasi malam, keduanya hanya terdiam menikmati lagu dengan gerakan syahdu. Nada hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Radit sesekali melirik wajah yang tampak cantik di depannya. Wajah cantik dengan bulu mata yang indah, mata yang indah, hidung yang indah. Tidak ada cela untuk manusia yang telah menguasai hatinya. Wanita cantik yang pasti akan dirindukanya.


Di sudut taman, Micel tampak menatap ke arah Nada dan Radit. Dia merasa khawatir pada Nada dan Radit.


"Apa yang kau lihat?" ucapan Vino berhasil membuat Micel bereaksi, Micel menatap tajam ke arah Vino karna terkejut.


Micel memandang seorang yang berdiri tepat di sampingnya itu. Sejenak mereka saling berpandangan, pertemuan dua bola mata itu membuat desiran halus di hati Micel juga Vini. Vino segera mengalihkan pandanganya. Entah kenapa, sorot mata indah Micel mampu membuat hatinya bergetar.


"Melihat kakakku yang posesif dan romantis," ucap Micel. Vino tersenyum kecut, memang pasangan yang tengah berdansa di ujung sana tampak sangat memukau. Bahkan sangat sempurna. Lalu, apa dia juga harus melakukannya? Hais, kenapa dia kasihan pada gadis kecil di depannya?


"Ayo berdansa denganku," ucap Vino sambil mengulurkan tangan kanannya. Micel membelalakan mata indahnya dan menatap Vino dengan sorot mata yang berbinar.


"Benarkah?" tanya Micel.


"Sekarang atau tidak sama sekali," ketus Vino.


"Kau pikir aku akan mau?" tanya Micel.

__ADS_1


"Lalu, apa kamu berharap aku memohon padamu untuk berdansa denganku begitu? Jangan harap Nona," ucap Vino tegas.


"Aku hanya memastikan, jangan salah sangka Tuan Vino Pradikta" ucap Micel.


Vino melangkah maju, Micel mundur ke belakang, Vino maju lagi, mengikis jarak diantara keduanya. Micel hampir saja mundur, tetapi tangan Vino meraih Micel dan benar-benar keduanya tak ada jarak sama sekali. Micel mendongak Vino menunduk menatap wajah Micel kedua pasang mata itu saling beradu. Jantung Micel berdetak hebat, perasaan takut menyelimuti hatinya. Vino bisa merasakan detak jantung Micel yang tak beraturan. Kini dia tau, wanita di depannya merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.


"Jangan takut, aku tidak akan menciummu, lagi pula aku tidak berminat dengan gadis kecil sepertimu," ucap Vino.


Micel memejamkan matanya. ucapan Vino bagaikan goresan sembilu yang menoreh luka dalam di hatinya. Micel mencoba melepaskan dirinya tetapi Vino semakin kuat menekan tubuhnya seakan mengatakan jangan bergerak.


"Kau lihat, kakak ipar sangat romantis. Kau juga harus tau, Banyak orang yang menyaksikan kita dari atas sana, sebaiknya kau ikuti permainan ini. Kita berdansa," ucap Vino ditelinga Micela. Mica melirik ke atas, dan benar saja. Semua orang mengamati keromantisan mereka. Micel tersenyum sinis.


Micel menghela napas panjang. Harus berhadapan dengan manusia seperti Vino adalah ujian yang rumit baginya. Micel hanya diam, enggan untuk menjawab ucapan Vino yang hanya akan menimbulkan perdebatan. Mereka akhirnya berdansa mengikuti alunan musik.


Di atas sana Mama Elina dan Mama Mira saling berpandangan, melihat ke arah dua pasangan romantis dan fenomenal yang berdansa di bawah sana.


"Mereka sangat serasi," ucap Mama Elina.


"Hem, kau benar sekali jeng," ucap Mama Mira.


Vino segera menguasai hatinya, Micel yang merasa diawasi mendorong tubuh Vino. Micela melangkah mengambil jus yang ada di atas meja, jantungnya berdebar tak karuan. Rasa sebal dan geram seolah berkecamuk menjadi satu, dia mencoba menguasai hati dan pikirannya.

__ADS_1


Vino melangkah mendekat ke arah meja, dia mengambil satu gelas cofe yang terhidang di meja. Netranya memandang ke arah Micel yang memandangi bunga indah di taman.


"Sepertinya kamu sedang pencitraan?" ucap Micel. Vino menoleh dan meletakan gelas di atas meja. Vino menatap ke arah Micela dan tersenyum tipis.


"Dari awal aku ingin mereka melihat kita bahagia, meskipun kita belum saling mencintai," ucap Vino.


Vino terdiam kemudian menatap gadis di depanya yang benar-benar telah berubah. Tadinya biasa saja, semakin lama semakin memukau. Ada sedikit rasa kagum pada pesona gadis yang ada di hadapannya, gadis yang perlahan mengiang di otaknya.


Angin malam berhembus Kencang, membuat Micel memeluk dirinya sendiri. Netranya masih saja mengamati gemericik air yang indah di kolam hias. Vino tersentuh untuk membuka jaket yang dipakainya dan meletakan ditubuh Micel.


Micel mendongak, dilihatnya wajah tampan yang sibuk memasangkan jaket itu. Tiba tiba saja kepalanya terasa pusing. Micel terhuyung mundur, segera Vino meraih tubuh Micel dan menyambar ke dalam gendongannya.


Mama Elina dan Mama Mira saling berpandangan, mereka melihat adegan manis di bawah sana. Entah itu pura-pura atau nyata sekarang pemandangan di bawah sana membuat mereka tersenyum tipis.


"Aku berharap hubungan mereka baik baik saja, Aku berharap juga dua pasangan itu selalu bahagia," ucap Nenek Amy dan diangguki oleh Mama Mira dan Mama Elina.


"Kau pandai sekali berpura pura Tuan Vino" ucap Micel sambil melangkah mundur. Vino menghela napas panjang, dia juga bingung dengan ulahnya sendiri. Bagaimana bisa dia seperhatian itu pada Wanita di sampingnya? Padahal dia tidak sedang berpura pura.


"Diamlah, aku memang sedang berpura pura," ucap Vino kemudian kembali meraih Micel dalam pelukannya. Menikmati alunan lagu yang mengalun merdu.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2