
"Okey, aku harus pergi. Lain waktu kita berjumpa lagi,"ucap Rafa sambil menatap ke arah Nada dan Radit kemudian berlalu pergi.
Radit memutar langkahnya, ia berjalan ke arah Nada yang berdiri di sampingnya. Entah kenapa Nada sepertinya merasakan lemas. Nada memijit pelipisnya, dengan gerakan cepat Radit menyambar tubuh Nada. Kini Nada ada di dalam gendongannya ala bridal style.
"Sayang, kita harus ke dokter. Aku rasa ada yang tidak beres denganmu," ucap Radit sambil mengamati wajah Nada yang tampak pucat.
"Aku tidak papa, Yang. Aku hanya perlu makan saja," sanggah Nada sambil mengamati kantong plastik berisi roti bakar itu. Radit menghela nafas panjang.
"Selalu saja keras kepala," keluh Radit.
"Okey aku menurut,"
Radit membawa Nada ke pinggir, mendudukkan Nada di sebuah taman kota. Radit membuka Roti yang di dapatnya dari Rafa, ia menyuapkan pada Nada. Nada membuka mulutnya dan mulai mengunyah Roti itu. Seketika ia tersenyum dan memandang Radit dengan bahagia.
"Terimakasih Yang, maaf aku merepotkan." ucap Nada sambil menatap ke arah Radit yang memandangnya penuh Cinta.
"Makan yang banyak, besok lagi kalau sampai kamu masih saja pucat seperi ini dan sering pusing, jangan harap aku masih mau menuruti kata-katamu itu untuk tidak ke dokter." ucap Tadit sambil menatap jam tangan yang menunjukan pukul 22.00.
"Hem, aku tau." ucap Nada sambil menatap Radit dan tersenyum.
"Dear," Radit membenahi duduknya dan menatap langit luas. Hampir dua bulan sudah dirinya menikah Nada, dan baru kali ini dia merasa sangat khawatir dan bahkan sangat mengkhawatirkan Nada.
Tidak biasanya melihat istri cantiknya itu sakit, dan ketika seperti ini ingin rasanya menyembunyikan istrinya itu.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, jadi aku mohon jangan membuat aku khawatir lebih dari ini," ucap Radit dan diangguki oleh Nada.
"Hem, aku tau Yang jika kamu sangat mengkhawatirkan aku. Tapi percayalah, aku tidak apa-apa," ucap Nada.
"Sebaiknya kita pulang saja, kau perlu istirahat. Aku tidak mengijinkanmu besok untuk pergi-pergi sampai keadaanmu sedikit membaik," ucap Radit sambil menatap ke arag Nada dengan bahagia.
"Okey yang, aku janji," ucap Nada sambil tersenyum ke arah Radit.
"Sebaiknya kita berpamitan pada Mama Mira, Nenek Amy dan Kakkek dulu," ucap Nada.
Radit sedikit terdiam mendengar nama Mama Mira di sebut. Di tatapnya wajah Nada yang teduh itu.
"Yang, apa yang kamu lakukan benar sekali, bagaimanapun seorang ibu, dia punya surga di telapak kakinya. Mungkin beliau pernah salah, tapi aku yakin beliau sangat menyayangi anak anaknya, coba buka lembaran baru. Hiduplah dengan baik dengan memperbaiki hubungan dengan Micel dan mama. Micel adalah adikmu, dia adik yang baik dan pekerja keras," ucap Nada sambil tersenyum.
Radit menatap ke arah Nada, keduanya berdiri dan saling memandang satu sama lain.
"Terimakasih Dear, bersamu aku lebih tau arti sebuah kebersamaan." ucap Radit sambil menatap ke arah Nada dan mengusap pipi mukus istrinya.
Nada tersenyum dan menggenggam tangan Radit yang ada di depannya.
"Sama-sama Yang, kita adalah calon orang tua juga, aku berharap kita menjadi orang tua yang mampu membimbing anak-anak kita nantinya ke jalan yang baik," ucap Nada sambil tersenyum.
Radit menghela napas panjang dan menatap ke arah Nada dengan senyuman. Dia menatap perut Nada dengan intens, membuat Nada mundur beberapa langkah.
"Kenapa mundur?" Radit maju, kembali mendekat ke arah Nada.
__ADS_1
Nada mengamati Radit dan tersenyum malu sambil menatap perut datarnya.
"Apa aku tidak perkasa, sudah dua bulan dan aku belum berhasil," bisiknya di telinga Nada. Nada memejamkan matanya, rasanya malu sekali.
Nada berhambur ke pelukan Radit, menyembunyikan pipi merahnya di sana. Membuat Radit merasa sangat hangat dan nyaman.
"Dua bulan memang, tapi kamu baru memulainya beberapa minggu yang lalu Yang, kau menolak melakukannya di awal pernikahan kita. Padahal aku tidak melarangmu," ucap Nada. Dipastikan wajahnya sangat merah, sehingga dia tetap pada posisinya di dada bidang Radit.
Radit tertawa geli dan mengingat itu, menikah dengan Nada kala itu adalah sebuah ketidak sengajaan yang ternyata sangat membahagiakan.
"Yang, maafkan aku yang waktu itu sangat jahat. Aku tidak punya pilihan lain. Tapi saat ini, jikapun kamu menolak aku akan tetap melakukannya," ucap Radit dan mampu membuat Nada tertawa.
"Kenapa tertawa? Kamu pikir lucu?" tanya Radit. Nada menggeleng pelan dan tersenyum pada manusia yang dulunya sangay sombong itu.
"Aku bahagia, kamu juga harus berterimakasih dengan asisten menyebalkanmu. Dia sangat berjasa dalam pernikahan kita." Nada terkekeh ketika membayangkan betapa menyebalkan asisten pribadi dari suaminya itu.
Radit tekekeh juga, dia mengingat perkataan Dani yang tadi menelponya.
"Dia sudaj mendapat karma," kekehnya. Nada menautkan alisnya dan menatap Radit dengan berbagai pertanyaan.
"Apa?" tanya Nada.
"Dia juga terjebak pernikahan, bahkan dia tidak bisa bekerja karna di tahan di desa itu sampai berkas pernikahan dan surat nikah keluar." ucapnya.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Nada. Radit mwnggeleng pelan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." ucapnya sambil memandang ke arah Nada.
Nada tersenyum dan melepas pelukan Radit. Dia mengamati wajah tampan suaminya dan mengusap pelan wajah Radit.
"Aku tau posisimu waktu itu, mungkin memang cara Allah SWTmempertemukan kita di memang harus dengan keadaan yang seperti itu. Jadi, kita harus bersukur, apapun itu Yang. Aku bahagia, meskipun kamu tidak mengumumkan sekalipun. Kamu mencintaiku seperti ini dan selalu menjagaku saja kebahagiaanya sudah lebih dari pengakuan di depan publik," ucap Nada sambil memandang Radit dengan tenang.
Terdengar ponsel Nada berbunyi dengan nyaring, segera Nada membuka ponselnya yang menampakan nama mama di sana. Tuhan, bahkan lama sekali dia tidak bertemu dengan mamanya itu. Rindu? Ya, sangat Rindu sekali.
Segera Nada menggeser tombol hijau dan mendengarkan suara di sebrang.
"Hallo, Assalamualaikum Ma," Nada tersenyum sambil menatap Radit dengan tenang.
"Walaikumsalam, Sayang. Bagaimana keadaan mu? Kamu tau, kami mengkhawatirkan mu. Kenapa tidak mengangkat telpon sejak kemarin? Ibu sangat merindukanmu Nak," ucap Ibunya panjang lebar.
Air mata di sudut Mata Nada kini terbendung dan hampir mengalir dari mata indah yang mampu menaklukkan hati setiap orang yang menatapnya itu. Mama? Dia juga sangat merindukan wanita paruh baya yang sangat menyayanginya itu.
"Maaf Bu, kemarin adalah hari yang sangat berat, adik ipar Nada kecelakaan dan Nada sangat sedih karena itu," ucap Nada.
"Iya, ibu tau dari kakakmu. Lalu bagaimana keadaan adikmu?" tanya ibunya.
"Alhamdulilah sudah membaik, Bu," ucap Nada sambil mengamati wajah Radit yang masih berdiam.
"Sayang apa terjadi sesuatu Nak? Apa kamu menangis?" tanya Ibunya ketika menyadari suara parau Nada.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Nada baik-baik saja." jawabnya.
"Ibu harap kamu selaku baik. Oh iya, kapan kamu berencana pulang? Tidakkah kamu merindukan ibu? Tidak jugakah berencana memperkenalkan suami tampanmu pada ibu?" tanya Ibu dengan panjang lebar. Membuat Nada tersenyum dan tertawa geli sambil mengamati wajah suaminya.
Hampir dua bulan menikah dan dia belum mengenalkan suaminya pada ibunya, astaga sungguh sangat keterlaluan. Nada mengalihkan panggilan pada VC. Nada mampu melihat wajah ibunya. Begitu juga sebaliknya.
"Ibu, dia suami aku. Namanya Mas Marvel Raditia Dika," ucap Nada sambil mengarahkan ponselnya pada Radit.
Radit mengambil ponselnya dari Nada dan tersenyum.
"Asalamualaikum bu," Radit mengamati wajah cantik berhijab yang pernah di lihatnya dari foto milik Nada.
"Waalaikumsalam Nak," ucap Ibunya.
"Ibu. Saya Marvel, sualmi Nada. Suami tampan yang sangat menyayanginya," ucap Radit dan mampu membuat ibunya terseyum melihat kenarsisan menantunya.
"Iya waalaikumsalam Nak. Kau memang tampan sekali, seperti ayah Nada." ucap ibunya.
Ayah yang berada di samping ibu tampak tak suka, dia merebut pinselnya dan mengamati wajah Radit. Radit terkejut saat melihat wajag ayah mertuanya.
"Mana ada tampan seperti ayah, masih tampan ayah kemana-mana Bu." ucap ayahnya dan mampu membuat kekehan di mulut Nada dan ibu.
"Asalamualaikum Yah," sapa Radit pada mertua yang ternyata sangat hangat itu.
"Waalaikumsalam," ucap Ayah sambil tersenyum.
"Kapan kalian pulang? Kami merindukan kalian," ucap ayahnya sambil merangkul pundak ibunya.
"Ayah dan ibu merindukan putri cantik ibu dan aku? Kami juga sama ayah mertua. Kami sangat merinduka kalian, tapi kami belum bisa pulang dulu. Lain waktu kami akan menjemput ibu dan ayah untuk ke sini," ucap Radit. Ayah terdengar menghela napas panjang dan tersenyum.
"Kami tunggu hari itu, ayah dan ibu bahagia jika melihat kalian bahagia. Marvel, kami titip Nada. Bahagiakan putri kami, jika di waktu kecil kewajiban ayah dan ibu untuk menjaga. Saat ini, dia sudah menjadi istrimu, semua tanggung jawab ada di pundakmu," ucap Ayah dan membuat Radit mengangguk.
"Iya Yah, doakan kami," jawab Radit.
"Hem, meskipun bagaimana kalian menikah. Ayah berharap kalian akan bahagia selalu. Sukur Alhamdulilah jika kalian cepat memberi cucu, ayah dab ibu malah bahagia sekali." ucap Ayahnnya sambil tersenyum.
"Doakan kami yah, sebenarnya aku juga selalu berusaha di malam hari. Tapi belum rezeki," ucap Radit dan sanggup membuat ayah dan ibu mertuanya terkekeh.
"Doa kami menyertaimu Nak, bahagia selalu," ucap Ayahnya dan diamini Nada dan Radit.
"Sudah malam, kalian istirahat. Kesehatan itu penting, jangan mengabaikan apalagi menyepelakan." ucap Ayahnya dan diangguki oleh Radit.
"Siap yah, ayah dan ibu juga harus jaga kesehatan," ucapnya.
"Iya Nak, kalau begitu ayah akhiri. semoga bahagia, asalamualaikum," ucap ayahnya.
"Waalaikumsalam," jawab Radit.
Radit menyerahkan ponsel Nada, keduanya hampir melangkah. Tapi, keduanya tampak terkejut ketika mendapati dua orang ayah dan anak berdiri di depan mereka.
__ADS_1
"Om Pradikta, Vino. Ada apa?"
🎀🎀🎀🎀🎀