
Pagi hari yang indah, Radit mengerjabkan matanya saat terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Belum sempat berdiri dan membuka matanya, dia melihat beberapa orang beserta Dani dan tentunya bersama dengan kakek dan nenek telah berdiri di samping ranjangnya.
"Kakek, nenek," Radit bangkit dari tidurnya dan berdiri sambil menatap beberapa orang yang telah rapi dan siap kerja. Radit juga melihat Pak Hendra telah membawa tas kerja.
"Kek, nek, kenapa membawa mereka kesini?" tanya Radit sambil mengamati Pak Hendra orang kepeecayaan kakek dan neneknya itu.
Dia juga menatap Dani yang menahan tawa melihat ke arahnya. Sudah di pastikan lelaki itu bahagia melihat kebingungan yang di rasakan oleh Radit.
Radit mengepalkan tangannya dan berjanji akan memberi pelajaran pada asisten pribadinya itu.
"Marvel, bukankan kakek sudah bilang kepadamu tadi malam, bahwa tugas kantor adalah tugasmu?" tanya nenek Amy.
Radit memejamkan matanya dan merangkul pundak neneknya yang kini duduk di ranjangnya.
"Nek, ada Dani ada Pak Hendra. Lalu apalagi?" sangahnya dengan tersenyum.
"Kau cucu laki-laki, kau harus terjun sendiri. Mereka juga akan membantumu, kau tenang saja!" ucap neneknya sambil mengusap pelan pipi Radit.
"Sekarang mandi, kakek dan nenek menunggumu sarapan di bawah. Ini adalah segala berkas penting perusahaan, kau adalah pemimpin yang harus terjun. Tidak hanya menyerahkan segala tanggung jawab pada Dani, Hari ini adalah acara penyambutanmu," ucapnya kemudian melenggang pergi diikuti oleh Pak Hendra.
Tinggal Radit dan Dani di dalam ruang kamar Radit. Dani tertawa melihat ekspresi Bosnya itu.
__ADS_1
Radit, dia sebenarnya adalah orang yang selalu menghendel dan memimpin perusahaan dengan baik meskipun keberadaannya jauh. Dia bertanggung jawab penuh, meskipun Dani yang menjalankan segala kinerjanya. Namun, sepertinya kakek dan neneknya bersekongkol memanfaatkan segalanya agar cucunya itu tetap berada di rumah.
Melihat gelak tawa Dani yang tiada henti, Radit melemparkan bantal pada Dani kemudian melenggang pergi ke kamar mandi.
"Lanjut saya ketawa, kau memang yang selalu bahagia di atas penderitaanku," ketus Radit.
Lelaki yang tampak pecicilan saat bersama dengan kakak angkatnya itu adalah sosok dingin ketika berada dalam lingkungan keluarganya. Sangat dingin bahkan sangat sulit untuk di pahami.
"Aku tunggu di bawah tuan muda, segera merapat dan jangan lama-lama," teriak Dani kemudian melangkah pergi.
Dani tersenyum dan menggelengkan kepalannya, rasanya seperti mimpi melihat bosnya itu berada di rumah. Nenek Amy dan Kakek Teh benar-benar bisa memegang kendali. Tanpa di kendalikan neneknya itu, satu jam melihat Radit di dalam rumah adalah hal yang sangat langka.
Radit mengguyur tubuhnya dengan air dingin di bawah shower, ia memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya. Berada di sini artinya hidupnya tidak bisa lagi bebas seperti bersama dengan Micho, dia harus bertanggung jawab penuh dengan segala kegiatan dan rutinitas yang ada dalam perusahaan.
Setelah selesai mandi, Radit segera memakai segala sesuatu yang telah di persiapkan oleh pelayan. Kini dia sudah siap dengan setelan jas mahal yang melekat indah di tubuhnya. Wajahnya yang memang sangat tampan tampak berseri. Radit melirik jam yang menunjukan pukul 06.00. Radit melangkah keluar menuju ke ruang makan.
🎀🎀🎀🎀
Suasana ruang makan yang tadi sedikit ramai tampak hening ketika melihat Radit berjalan dari atas tangga. Pandangan mata mereka seakan fokus pada satu objek yang sangat menyilaukan mata. Wajah tampan yang berkharisma dengan setelan jas mahal berwarna navy membuat penampilan seorang Marvel Raditia Dika tampak mempesona.
Seulas senyum terbit dari bibir seorang Mira, melihat putranya membuat dirinya bahagia. Tidak bisa di pungkiri, Radit sangat tampan seperti Almarhum suami pertamannya. Pernah ada sebuah penyesalan saat dirinya mengingat penghianatan yang dia lakukan beberapa tahun silam.
Micel, gadis 17 tahun itu menatap sosok tampan kakaknya. Kakak yang sulit untuk di jangkau, namun membuatnya selalu nyaman saat melihat keberadaannya.
__ADS_1
Aura dingin tampak menyelimuti ruang makan, Radit duduk di kursi utama kemudian menatap kearah kakeknya kemudian menatap tiga wanita yang ada di depannya. Tatapan mata dinginnya menatap ke arah Micel yang kemudian menunduk. Berlanjut menatap nenek yang tersenyum, terakhir tatapannya menatap ke arah Mira yang memandangnya dan mencoba untuk tersenyum.
"Selamat pagi Marvel," sapa Mira yang tak mendapatkan tanggapan yang berarti dari Radit.
Radit memilih menatap ke arah nenek yang terdiam melihatnya.
"Selamat pagi Marvel, sekarang sarapanlah," ucap Nenek Amy.
Beberapa pelayan bergerak maju menyiapkan makanan kesukaan Radit dan mengambilkan untuk tuan muda mereka itu. Sarapan pagi ini tampak hangat, hanya terdengar dentingan sendok yang begitu nyaring.
"Kau tau, di kantor akan ada penyambutan untukmu. Jadi, kita semua akan ikut serta mengantarmu," ucap Oma kakek dengan tenang.
"Hem, terimakasih kek. Aku akan menjadi apa yang kakek mau," jawab Radit sambil membersihkan mulutnya dengan tisue.
Nenek Amy tersenyum, begitupun dengan Kakek, Mira dan Micel.
"Hem, kabar yang membahagiakan. Mama harap kamu bisa lebih memajukan dan mengembangkang perusahaan ke depannya," ucap Mira dengan tersenyum.
"Hem, tentu saja. Aku juga akan menjaga kesetabilan perusahaan dari manusia munafik yang bisa saja menghancurkan masa depan perusahaan," lirih Radit sambil menatap sekilas ke arah Mira yang tengah menyelesaikan makannya.
Radit meremas tisue kemudian melempar ke sampah yang ada di dekatnya.
"Seperti tisue itu, akan berada dalam tempat yang semestinya," ucap Radit kemudian bangkit.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀🎀