
"****," umpatnya sambil menatap punggung kakek yang menjauh darinya. Mau tidak mau pada akhirnya Radit kembali ke dalam rumah megah itu.
Kakek Rey tersenyum kemudian mengikuti langkah Radit ke atas, begitu pun dengan Dani, lelaki tampan itu juga mengikuti langkah Radit.
Keduanya menghampiri Radit yang berada di taman belakang. Memang sedari tadi malam Radit belum menginjakkan kaki di kamarnya.
"Marvel, ini tanggung jawabmu. Bukan lagi tanggung jawab Dani, Dani akan membantumu tetapi kamu harus menghendelnya sendiri."
Kakek Rey mengambil beberapa berkas penting dari dalam tas kerja yang dibawa Dani, kemudian meletakkan di atas meja ber-arsitek mewah.
Radit melirik berkas itu tanpa menyentuhnya sedikitpun. Ini namanya pemaksaan, rutuknya.
Kakek Rey memegang dagu Radit dan menghadapkan kepadanya, membuat kedua mata mereka saling bertemu.Radit tampak geram sekali.
"Apa lagi kek? Sudahlah biar aja disitu," ucap Radit lagi.
"Kamu ke kantor mulai besok, Biar Dani mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut Ceo MRD grup besok. Ingat Mervel, tidak ada penolakan," ucap kakeknya kemudian melangkah pergi.
"Oh iya, satu lagi." Kakek kembali ke depan Radit sambil menepuk pundak Radit, membuat lelaki itu menatap tajam ke arah lelaki lanjut usia itu.
"Apa lagi kek? Kau belum puas memberikan beban ini kepadaku?" tanyanya sinis.
"Kau sudah saatnya menikah. Bawa wanitamu kesini, atau kakek yang akan mencarikan wanita untukmu," ucap kakek tegas kemudian melangkah pergi.
Radit memejamkan matanya. Wanita? Bahkan dirinya sangat membenci makhluk itu dan tak berfikir untuk menikah setelah tau Amara milik kakaknya. Lalu, bagaimana bisa kakeknya memintanya untuk segera menikah?
Dani tampak mengamati wajah kesal seorang Marvel Raditia Dika. Dan tersenyum melihat bosnya itu.
"Kenapa tersenyum?" sentak Radit.
Dani tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Radit mengibaskan jaketnya dan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Dengan langkah pelan Radit membuka hendel pintu kamarnya, kamar yang telah dia tinggalkan sepuluh tahun ini.
Kamar yang mengingatkannya pada sosok ayah yang sangat menyayanginya. Ayah yang meninggalkannya dan tak akan pernah kembali sejak sepuluh tahun yang lalu.
Radit melangkah pelan, menyalakan lampu kamar yang tidak pernah dia injak itu. Dia mengedarkan Pandangannya.
Suasana di kamarnya masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, tidak berubah sedikitpun.
Yang sangat menyakiti hatinya adalah ketika pandangan matanya melihat photo di dinding yang memperlihatkan kebahagiaan keluargannya dulu.
Dirinya dan ke dua orang tuanya. Tanpa Micel, apalagi papa tiri yang sampai saat ini dia enggan untuk menatap wajahnya. Salah satu alasan dia enggan masuk ke kamar ini adalah melihat foto ini.
Radit mengusap pelan poto ayahnya, matanya berkaca. Ada setitik air mata yang terbendung di pelupuk matanya.
"Papa, Kakek dan nenek yang meminta Radit kembali. Radit tidak bisa menolak, bahkan Radit tidak sanggup untuk menolak keinginan mereka. Radit akan memastikan, jika Radit tidak akan pernah mengijinkan keparat itu berada di sini. Papa jangan khawatir, lelaki itu tidak akan pernah mendapatkan tempat di hati Radit," ucap Radit sambil mengepalkan tangannya.
Radit mengarahkan kepalan tangannya ke dinding. Memperdengarkan suara hantaman yang mengakibatkan tetesan darah yang mengalir dari tangannya.
"Marvel, mau sampai kapan kamu seperti ini? " Nenek Amy mengusap air matanya. Dia yang ingin menenangkan Radit nyatanya melihat kesedihan yang dirasakan cucunya selama ini. Hancur? Nenek Amy bahkan sama hancurnya seperti Radit.
ππππ
Nada melirik penselnya dan menyimpan nomer ponsel Radit di kontaknya. Menghubunginya? Ah, bahkan uang untuk membayar hutangnya masih belum cukup.
Alhasil, Nada menghubungi nama kontak Kak Arvan, kakak kandungnya. Berdering, dan sebentar kemudian layar ponselnya menampakan wajah tampan seorang dokter muda yang terpaut usia 6 tahun darinya.
" Assalamualaikum, good morning sister,"
"Waalaikumsalam, morning juga kak,"
"Ada apa? Tampaknya sayangnya kakak sedang tidak baik-baik saja," Arvan menggoda adik tercintanya.
"Iya, benar sekali. Aku sedang perlu bantuan, kakak bisa membantu?" tanya Nada. Arvan menghela napas panjang.
__ADS_1
"Selagi kakak mampu, tak ada masalah. Apa yang kamu butuhkan?" tanya kakaknya.
"Aku butuh dana," ucap Nada.
"Emm, bukankah apartemenmu sudah lunas dua hari yang lalu? Kemarin kakak mau bantu kamu tolak," ucap Arvan sambil tersenyum.
"Apartemen memang sudah lunas, maka dari itu aku butuh uang. Aku butuh uang 1 M, sedangkan tabunganku sudah terkuras hanya menyisakan separuhnya saja," ucap Nada.
"Jadi kau butuh setengahnya lagi?" tanya Arvan.
"Hem, apa kakak bisa membantu?" tanya Nada.
"Untuk apa uang sebanyak itu?" tanya Arvan penuh selidik.
"Ceritanya panjang, kak. Aku berhutang dengan seseorang. Dan rasanya aku tidak bisa tenang sebelum mengembalikan uang itu," ucap Nada prustasi.
"Sepertinya masalahnya sangat rumit, okey kakak akan mentrasfer separuhnya." Arfan mengambil ponselnya yang lain dan menekan tombol di sana.
"Sudah," ucapnya.
"Aku akan segera mengembalikannya, kak,"
"Hem, itu sebenernya uang yang sudah ada anggarannya. Tapi proyek kakak masih di tunda sampai bulan depan, jadi kamu bisa menggunakannya dulu,"
"Terimakasih, Kak. Tapi jika jadwalnya berubah kakak bilang saja. Nanti Nada akan berusaha untuk mengembalikan secepatnya," ucap Nada.
"Hem, kakak tunggu ceritanya, sekarang kakak harus bekerja. Lovee you sayang, Assalamualaikum," ucap Arvan kemudian menutup ponselnya.
"Wa'alaikumsalam," Nada menghela napas panjang. Sepertinya dia harus menemui Radit sekarang juga.
ππππ
Kalo pada bingung kenapa nama kakek berubah. Nama panjang kakek Reynaldi. Kadang otornya suka lupa. Kadang Rey kadang Aldi nulisnya. Nanti aku revisiπ€£π€£π€£
__ADS_1
Lik komen jangan kendor yak