Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 115


__ADS_3

Nada melepas pelukan kemudian menatap Radit. Mengenal Radit hampir dua bulan lamanya, baru kali ini dia melihat lelaki itu sesedih ini.


Radit kembali menatap ke arah Micel, dia memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya. Mira? Yah, wanita itu harus diberinya pelajaran. Sepertinya dia sudah tak sanggup lagi untuk melihat wajahnya.


Radit melangkah tergesa, Nada menarik lengan suaminya yang tampak emosi itu. Menatap wajah yang penuh dengan amarah.


"Apa yang akan kamu lakukan Yang?" tanya Nada dengan tatapan teduhnya. Tatapan yang selalu mampu melumpuhkan segala emosi yang menggerogoti jiwanya.


"Wanita itu harus mendapat hukuman Dear, dia harus mendapatkan balasan yang setimpal," ucapnya.


"Dia tetap ibumu," ucap Nada.


"Tapi dia tidak pantas disebut ibu. Maaf Dear, untuk saat ini aku tidak bisa memaafkannya, " bantah Radit kemudian keluar dari ruangan.


Nada memandang ke arah Micel dan mengusap pelan wajah cantik adik iparnya. Cantik? Micel sangat cantik, bahkan dia gadis yang sangat istimewa. Micel gadis yang sangat luar biasa.


Gadis mandiri dan tak pernah neko-neko. Gadis yang menguatkan dirinya dengan kelakuan manjanya. Gadis yang sebenarnya sangat dewasa dan sangat mempesona, siapapun yang memdapatkan cintanya adalah lelaki yang sangat beruntung.

__ADS_1



Nada segera keluar dari ruangan Micel. Radit kini berhadapan dengan Mira. Dia menatap lekat wajah Mira dan dan menyerahkan satu kunci apartemen yang letaknya dekat dengan MRD group.


"Aku hanya tidak ingin melihat wajahmu untuk saat ini, aku tidak mengurangi kebebasan apapun. Pergilah dan renungi segala kesalahanmu," ucap Radit.


"Tapi Marvel," bantahnya.


"Aku tidak mau mendengar apapun, kau bisa bekerja seperti biasanya. Aku tidak melarangmu, yang aku mau kau tidak memunculkan wajahmu. Aku muak dengan segala kelakuanmu, pergi sekarang juga." Radit sedikit meninggikan suaranya.


"Tolong beri mama kesempatan untuk bertemu Micel," lirihnya.


"Okey, mama tau semua ini karna wanita murahan itu yang menghasutmu. Mama tau, dia yang ada di balik semua yang terjadi, kau benar-benar munafik." sentak Mira bergantian menatap ke arah Radit dan Nada.


Nada memejamkan matanya, Radit mengepalkan tangannya. Kenapa Nada? Bahkan dia sendiri yang melakukan semuanya, apa pikirannya masih tidak sadar?


Radit mengangkat tangannya, hampir saja melayangkan satu tamparan keras. Namun, Nada segera mencegah suaminya.

__ADS_1


"Tolong jaga emosimu, Yang." Nada menyentuh lengan Radit dan kemudian menatap ke arah mama mertuanya.


"Maaf Ma, mohon kesadarannya untuk menjaga ketenangan. Disini rumahsakit, jadi tolong mama pergi dan jangan membuat kegaduhan," ucap Nada. Mira menghela napas panjang.


"Aku dan kau tidak jauh berbeda, kau saat ini memang mempunyai kekuatan karna Marvel membutuhkanmu. Tapi suatu saat nanti, aku yakin kau akan kembali pada tempat yang semestinya kau tempati," sentaknya kemudian melenggang pergi.


Nada memejamkan matanya, tempat semestinya? Radit bukankah sangat mencintai dirinya? Nada menatap lekat wajah Radit, Radit mengusap wajah sembab Nada.


"Jangan mendengarkannya Dear, tempatmu ada di sampingku," ucap Radit. Nada tersenyum di tengah kegelisahan. Dia berhambur ke pelukan suaminya.


"Marvel, Nada, sebaiknya kalian pulang. Ini sudah dini hari," ucap Kakek sambil melirik jam yang menunjukkan pukul 01.00. Nenek berganti menunggu Micel di dalam.


"Tapi bagaimana dengan Micel?" tanya Radit.


"Kakek dan nenek akan menjaga adikmu, kata Dani besok ada grand opening, sebaiknya kamu istirahat. Nada pasti juga sangat lelah," ucap Kakeknya, Radit mengangguk pelan.


"Kalau begitu kami pulang dulu, kakek jangan lupa istirahat juga," ucap Radit. Kakek mengangguk pelan.

__ADS_1


Radit melangkah diikuti langkah Nada dibelakangnya. Dani? Berbicara tentang Dani membuat Radit ingat tentang pemilik mobil itu, bagaimana kelanjutan kasusnya? Radit mencoba menghubungi Dani, tetapi tak ada jawaban.


😍😍😍


__ADS_2