Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 118


__ADS_3

"Kenapa mengganggu pikiranku gadis? Nanti siang kita bertemu," lirihnya. Vino mengambil beberapa foto dirinya dan mahasiswa kampus ternama semester akhir.


Vino yang saat itu sebagai bintang tamu Mengisi acara dengan memberi beberapa tips menjadi pembisnis hebat, salah satu mahasiswi akselerasi yang mengikuti dan berhasil mengundang perhatiannya adalah Micela Adelia, mahasiswi yang mampu menjawab pertanyaannya dengan baik, benar dan tepat sasaran. Gadis yang kemudian sering mengganggu dirinya dan meminta beberapa penjelasan dengan kelakuan yang membuatnya sebal.


Vino menghela napas panjang dan tersenyum singkat, gadis itu memenuhi pikiranya. Beberapa saat kemudian, waktu menunjukkan pukul 11.00. Waktu makan siang yang telah direncakan sudah di depan mata, segera Vino mengambil kunci mobilnya dan segera mengambil langkah menuju ke parkiran.


Vino membuka hendel pintu, bersamaan dengan Willi yang hendak masuk ke ruangannya.


"Bos, mau kemana? Ada beberapa berkas yang harus kau setujui sebelum pertemuan dimulai," ucapnya pada Vino yang tampak terburu.


Vino menghentikan langkahnya dan melirik ke arah Willi yang membawa beberapa berkas penting. Vino menghela napas kasar, andai saja Emyli bisa hadir pasti sudah membantunya. Sayang sekali, Emily membutuhkan istirahat di sela aktivitasnya menyelesaikan urusan kecelakaan yang menimpa. Bahkan, dia belum datang ke rumah sakit dimana korban kecelakaan berada.


"Okey," Vino meraih berkas itu dan membaca dengan detail. Tangannya terulur untuk menandatangani beberapa berkas itu.


"Willy, bagaimana urusan dengan keluarga korban?" tanya Vino pada Willy yang kini menatapnya dengan tenang.


"Maaf Bos, saya belum bisa kesana karna acara opening kita. Sedangkan Nona Emily juga masih butuh istirahat, jadi saya akan datang kesana setelah acara grand opening ini selesai," ucap Willy sambil mengambil kembali beberapa berkas yang di setujui Vino.


"Okey, aku kesana sekarang. Ada hal yang harus aku lakukan di tempat lain dulu," ucapnya dan diangguki Willy.


Vino mengambil langkah lebar dan segera menuju ke parkiran, Vino menancap gas mobilnya dan melaju ke arah Kafe Mawar yang tak jauh dari kantornya. Entah kenapa dia gelisah, bahkan suara musik yang biasanya membuat dirinya tenang kali iki tak merubah apapun.


Vino menambah kecepatan mobilnya hingga tak lama kemudian sampailah dia di depan Cafe Mawar.


Sorot mata tajam Vino memandang ke arah lalu lalang orang yang yang kini tengah berjalan ke arah Kafe itu. Segera Vino keluar dan berjalan masuk ke dalam.


Vino mengedarkan pandangannya, menatap seluruh penjuru kafe. Namun, tak ada seseorang yang di carinya. Sekali lagi dirinya yang berdiri di depan pintu mengedarkan pandangannya ke arah setiap penjuru, namun sayang sekali- dia tak menemukan yang dia cari.


Vino memejamkan matanya, hatinya bergemuruh sesak, gelisah. Vino melirik jam yang menunjukkan pukul 11.30 dan dipastikan penghuni kampus sudah keluar karena jam makan siang, tetapi kenapa gadis itu tak ada? Bukankah gadis itu sangat suka mengganggunya? Sangat mengidolakannya? Hais, bahkan di tengah kegelisahan yang melanda dirinya masih saja narsis.


"Kemana dia?" lirihnya.

__ADS_1


"Dasar gadis menyebalkan, disaat seperti ini malah membuatku tambah sebal." ucap Vino sambil berjalan ke arah salah satu bangku. Sengaja dia ingin menunggu gadis itu, barangkali sebentar lagi akan datang. Masih ada waktu 30 menit sebelum acara grand opening dimulai.


"Apa dia masih marah karena ucapanku?" ucapnya lagi.


Vino mengeluarkan ponsel dari sakunya, di bukanya galeri yang memperlihatkan beberapa foto bersama dengan gadis cantik itu. Foto dirinya dan Micel waktu itu. Foto yang membuatnya sebal karna Micel memaksa mengambil ponselnya. Foto yang pada akhirnya membuat dirinya sangat tak suka karna kelancangan gadis itu merebut ponselnya.


Namun, meskipun begitu anehnya dia tak menghapus foto itu. Bahkan saat ini foto itu mampu membuat kegelisahannya berkurang. Pikiran Vino melayang jauh memikirkan kejadian beberapa minggu yang lalu.


"Kak, aku minta foto," Micel mengarahkan ponselnya ke arah Vino. Gadis yang tampak bahagia dengan sorot mata berbinar itu mengambil ponsel Vino yang digenggam dan memunculkan kamera depan.


"Kenapa kau tidak sopan sekali?" sentaknya pada Micel yang hanya mengatupkan kedua tangannya.


"Maaf kak, aku bukan perampok. Aku kembalikan ponsel kakak, aku hanya memberikan satu foto di ponsel kakak agar kakak selalu mengingatku," ucapnya kemudian berlari.


"Oh iya kak, aku Micela adelia," teriaknya.


Vino menghela napas panjang dan mengusap wajah Micel yang tampak imut di ponsel itu. Ada Rasa bahagia, sebal, sesak, dongkol, semua berkumpul menjadi satu.


"Shitt," umpatnya.


Vino lagi-lagi menghela napas kasar. Dadanya semakin sesak saat mengingat nama Nada.


"Nada Aira," gumamnya pelan.


Vino mencengkram kertas menu dan membuatnya tak berbentuk lagi.


"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?" seorang pelayan mendatanginya dan membuat Vino sedikit terkejut. Vino menatap buku menu di tangannya. Pelayan itu hanya melihat buku itu tanpa berkomentar apapun.


"Maaf mbak karna ulah saya bukunya jadi begini, saya pesan kopi coklat," ucapnya sambil tersenyum. Pelayan itu mengangguk pelan dan tersenyum.


Sepeninggalan pelayan itu, Vino memejamkan matanya. Ada apa dengan hatinya? Ada apa dengan dirinya? Kenapa hatinya merasakan sakit? Kenapa dua wanita itu membuat dirinya gelisah?

__ADS_1


Vino menggeser lagi galeri di ponselnya, satu foto lagi yang memperlihatkan wajah Micel dan membuat dirinya tersenyum. Foto Micel sendiri, tampak sangat cantik dan mempesona.


"Kenapa disaat aku yang meminta pertemuan kau tak datang gadis? Sengajakah kau mempermainkan ku?" lirihnya.


Vino mengambil napas dalam-dalam, ketika seorang wanita mampu memporak porandakan hatinya tanpa kepastian. Dirinya harus segera bertindak untuk mencegah perasaanya agar tak terjerumus lebih dalam lagi. Dengan Nada harus dia selesaikan hari ini juga, Micel? Entahlah.


"Silahkan Tuan," pelayan tadi mengantar kopi pesanan Vino.


"Mbak, boleh saya tanya?" Vino menggeser tubuhnya dan menatap pelayan itu.


"Iya,"


"Apa mbak tadi melihat gadis ini?" Vino mengarah ponselnya pada mbak pelayan itu. Pelayan itu tampak berpikir sambil mengamati ponsel Vino.


"Mbak Adel?" tanya pelayan itu. Vino menautkan ekor matanya.


"Adel?" ucapnya lirih.


"Micela Adelia," sahut Vino.


"Denger-denger sih Mbak Adel terbaring di rumah sakit, tapi tidak tau juga mas kebenarannya. Soalnya belum ada informasi saya dengar lagi," ucap pelayan itu.


Deg, jantung Vino berdetak lebih cepat dari biasanya. Gadis itu sakit? Hais, kenapa dia peduli?


"Rumah sakit mana apa tau Mbak?" tanya Vino lagi.


"Kurang tau juga Tuan," jawab pelayan itu.


"Terimakasih atas informasinya mbak, ini untuk pembayaran kopi. Sisanya buat mbak saja," Vino tampak tergesa dan melangkahkan kakinya setelah menyerahkan selembar uang pada pelayan itu.


😊😊😊😊😋

__ADS_1


__ADS_2