Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 42


__ADS_3

Di sebuah mansion mewah, Mira, Nenek Amy, Kakek Rey dan juga Pak Hendra asisten kepercayaan Kakek Rey kini berada dalam ruang kerja.


Mereka tampak khawatir, karena sampai pada detik ini, tak ada kabar sedikitpun dari Radit. Bahkan, ponselnya tak bisa dihubungi. Dani? Mereka sama saja tak ada kabar.


Lalu, bagaimana jika MR Tan datang? Hanya tinggal 3 jam lagi, dan Radit belum memberikan kepastian. Zifana? Wanita cantik itu sudah siap siaga selalu berada di samping Mira. Dirinya sudah seperti perangko yang melekat pada ibu Raditl. Berharap akan menjadi pendamping Radit di keadaan yang genting ini.


Zifana tampak senang, bahkan sepertinya peluang untuk menjadi Nyonya Marvel terbuka lebar. 3 jam lagi, dia berharap MR Tan sahabat dari ayahnya segera datang dan meminta pernikahan itu.


🎀🎀🎀🎀🎀


Apartemen mewah Radit disulap bak Istana. Indah, begitu indah. Persiapan begitu matang, kamar yang berhias keindahan begitu terpampang nyata.


Dani berada di lantai Atas, melihat dari atas ruangan indah yang akan menjadi saksi hidup baru tuannya, Dani tersenyum, tidak dipungkiri hatinya begitu dag dig dug tak karuan membayangkan hal yang akan terjadi nanti malam.


Hatinya sedikit tersentak ,berharap apa yang direncanakan bisa berjalan seperti yang dia mau.


"Ya Tuhan, semoga semua berjalan dengan lancar," gumam Dani.


Dani mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi orang di sebrang sana.


"Lakukan semuanya dengan baik," titahnya,


kemudian kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


Radit keluar dari kamar tamu, sedari malam memang dia berada di sana. Dia mengerutkan dahinya saat menyadari apartemen mewahnya sudah seperti akan diadakan pesta saja.


"Apa yang kau lakukan? Kau pikir aku akan berpesta malam ini?" sentaknya saat berada di depan Dani dan mengamati sudut ruangan.


"Hari ini hari indahmu, aku pikir acara akan berada di sini tadinya, ya sudahlah sudah terlanjur juga," ucap Dani.


Radit menghela napas panjang. Radit menggeleng pelan, dia meminta ijab qobul dilaksanakan di Masjid Baitul Iman, seperti permintaan ayahnya dulu, yang masih terngiang di telinganya.


"Radit, Masjid ini papa bangun dan waqafkan disini. Papa ingin suatu saat nanti kamu menikah di sini, berbagi bahagia dengan penduduk kampung disini. Karna papa lahir dan besar di sini," ucap ayahnya kala itu.


Radit memejamkan matanya dan mengingat wajah papanya.

__ADS_1


"Papa, aku menikah. Meskipun tidak tau pernikahan macam apa ini, yang jelas aku ingin papa bahagia disana," lirihnya.


"Lalu, apa persiapan di masjid sudah selesai?" tanyanya.


"Sudah, seperti yang kau minta. Sebaiknya kau bersiap Tuan Muda Marvel," ucap Dani.


Radit melangkah ke atas dan masuk ke dalam kamarnya.


🎀🎀🎀🎀


Seusai Salad Dhuha, Nada memanjatkan doa kepada sang penguasa langit dan bumi. Bahkan sedari selesai salat qobliah subuh dan Shalat Shubuh tadi, dirinya tak henti terus berdoa dan terus menyebut nama Sang Pencipta. Berharap apa yang telah di putuskan mendapat keridhoannya.


Suara ketukan pintu terdengar, segera Nada bangkit dan membuka. Terlihat Segan membawa dua orang wanita yang tampaknya adalah petugas MUA.


"Nad, mereka akan melakukan pekerjaannya," ucap Arfan kemudian melanggar pergi.


Nada tersenyum dan menatap ke arah dua orang itu.


"Kami ditugaskan membantu persiapan anda, Nona," ucapnya ramah. Nada mengangguk pelan dan mempersilakan mereka masuk.


Tak berapa lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Arfan membuka pintu dan melihat ke arah orang yang berada di depan pintu. Netranya menangkap seorang wanita cantik dengan kerudung indah yang menghias wajahnya.


"Assalamualaikum," ucapnya. Namun, keterpesonaan Arfan tampaknya masih melekat sehingga masih termenung dan tak menanggapi ucapan wanita itu.


"Assalamualaikum, apa benar ini apartemen kakaknya Nona Nada? Saya Sifa, asisten Nona Nada," ucapnya. Arfan tampak terkejut dan mengangguk pelan.


"Ya benar, silahkan masuk dan langsung saja ke atas Nona Sifa," ucap Arfan dan diangguki oleh Sifa.


Sifa berjalan menapaki tangga dan masuk ke kamar Nada.


Ceklek,


Sifa membuka pintu, netranya mendapati Nada yang berdiri sudah siap dengan Riasan cantik beserta pakaian gamis putih yang sangat cantik sehingga menampakan aura kecantikan dari seorang Nada Aira yang selama ini tampil ala kadarnya. Kerudung putih bertengger di kepalanya, meski begitu wajah ayu itu semakin terpancar di sana


"Nona Nada," sapa Sifa. Nada menelpon asisten nya untuk menemani dirinya. Nada tersenyum kemudian melangkah maju dan memeluk Sifa.

__ADS_1


Sementara dua petugas MUA segera memberesi peralatan mereka.


"Sifa, temani aku. Aku takut," ucap Nada terdengar parau. Tapi, sebisa mungkin Nada mencoba untuk tidak menangis.


"Nona bisa bercerita denganku nanti," ucap Sifa.


"Hanya kamu yang aku punya, jadi tolong anggap aku temanmu. Ayu juga kau bisa menganggapku sahabatmu. Biarkan kita dekat dan aku merasa kuat," pinta Nada. Sifa mengangguk pelan.


"Baiklah, Nada. Kau adalah sahabatku sekarang, tenanglah! Aku akan menemanimu," ucap Sifa.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang, mobil yang kamu minta sudah bersiap di parkiran," ucap Sifa. Nada mengangguk, mereka berjalan keluar diikuti dua petugas MUA yang tadi membantu.


Nada keluar dari kamar di iringi oleh Sifa, ayah dan Arfan yang berada di bawah tampak tersihir dengan kecantikan Nada. Mereka hanya bisa mematung menatap penampilan Nada yang sangat menakjupkan. Akan tetapi sayang sekali tak ada senyuman di wajah nan ayu itu.


Nada tampak cantik dengan gaun putih yang dikirimkan oleh Radit. Bahkan, keinginannya untuk merancang sendiri gaun pernikahannya hanya sebuah mimpi karna pernikahan dadakan ini. Namun, tak bisa di pungkiri gaun yang dia pakai saat ini adalah selera yang dia mau. Radit, apa kita memang mempunyai selera yang sama? Aishhh apa apaan ini? Kenapa aku memikirkan pria jahat itu? 😀


"Ayah, Kakak, sebaiknya kita berangkat sekarang," ucap Nada dan menyadarkan ayah dan kakaknya dari lamunanya.


Ayah maju ke arah Nada dan meletakkan kedua tangannya di pipi kanan dan kiri Nada.


"Kamu akan menikah. Ingat Nada, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri seperti ibumu. Jadilah wanita kuat, jika kamu mampu raih hati suamimu dan baerbahagialah di hari yang akan datang," ucap ayahnya mencoba menguatkan meski hatinya juga rapuh.


Nada mengangguk pelan dan memeluk ayah tercintanya.


"Baiklah, ayo kita berangkat! Ibu sudah tau kabar ini, dia sangat bahagia. Nanti kita menghubunginya," ucap Arfan.


Ke empat orang itu segera berjalan, dan Petugas MUA pun segera pamit karna telah menyelesaikan pekerjaannya.


Beberapa saat kemudian, Nada tampak bengong saat mobil berhenti di sebuah masjid yang megah. Jantung Nada berdetak hebat, apa pernikahannya akan dilangsungkan di sini? Lagi-lagi ini seperti yang dia mau. Bayangan Radit menyelinap di otaknya.


🎀🎀🎀😍😍😍


Eng ini eng...


Lik komen hadiah dong untuk pernikahan mereka 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2