Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Kekhawatiran Mama Elina


__ADS_3

"Vino, lalu bagaimana dengan hubungan kita? Apa aku masih kekasihmu?" tanya Asila dengan perasaan yang campur aduk.


"Bukankah kita tidak pernah putus, lalu apa aku dan kamu tetap menjalin hubungan jika statusmu adalah suami orang?" tanya Asila lagi.


Vino diam, apa hubungannya dengan Asila? Bahkan dia tak mampu menjawab.


"Asila, sebaiknya kita jangan membahas itu dulu. Yang terpenting aku akan selalu ada jika kamu membutuhkanku. Hubungan kita? Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Yang terpenting saat ini kau sembuh," ucap Vino.


Asila mengangguk, Vino menyuapkan satu sendok bubur lagi ke arah Asila, Asila membuka mulutnya.


Vino yang sedang menyuapi Asila mendengar deringan ponselnya berbunyi lagi. Beberapa kali memang ponselnya berbunyi dan dia mengabaikannya. Asila menatap Vino sambil mengunyah.


"Angkat saja Vino, aku tidak papa. Barangkali penting," ucap Asila. Vino mengulurkan tangannya dan mengambil ponselnya yang berada di saku celana.


"Mama?" lirih nya kemudian menekan tombol hijau dan meletakkan di telinga.


"Halo, asalamualaikum Ma. Ada apa Ma?" tanya Vino dengan sedikit hawatir.


"Kamu dimana?" tanya suara di sebrang dengan ketus.


"Vino di rumah sakit Ma," jawabnya.


"Siapa yang sakit? Apa Micela sakit?" tanya Mama Elina terdengar hawatir.


"Tidak Ma, bukan Micela. Tapi kawan lama Vino," sahutnya.


Jujur pada mamanya jika dia menemani Asila? Bahkan mamanya terlanjur tak suka dengan Asila karna Asila tak datang di acara yang digelar untuk membicarakan lamaran waktu itu dan malah menghilang. Lalu, masihkah ada maaf untuk orang yang sempat menjadi calon menantu yang yang belum pernah sekalipun bertemu dengannya itu?


"Micel bersamamu kan?" tanya Mama Elina dengan panik. Vino memejamkan matanya. Mamanya mencari Micela? Jadi, apa Micela belum pulang sejak siang tadi?


"Apa dia belum pulang ma? Kami berpisah di kantor siang tadi," jawab Vino.


"Siang? Jadi kau disitu sejak siang? Apa kau kebanyakan waktu sehingga disitu terlalu lama? Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Mama Elina dengan tegas.


"Ma, jangan marah marah." ucap Vino.


"Jangan marah katamu? Micela belum pulang dan jangan marah katamu?" tanya Mama Elina lagi.


"Ma, Dia sudah dewasa dan bukan anak kecil, pastinya dia tau arah jalan pulang," ucap Vino.


"Vino, Micela istrimu. Bukan orang lain!" ucap Mama Elina agak membentak.


"Vino tau Ma," ucap Vino.


"Tau? lalu dimana tanggung jawabmu sebagai seorang suami?" tanya Mama Elina.


"Vino akan mencari Micela Ma," ucap Vino kemudian mematikan panggilan dan menaruh ponselnya di saku kembali.


"Siapa?" tanya Asila.


"Mamaku, mencari menantunya," ucap Vino sambil menatap ke arah Asila.

__ADS_1


"Mencari istrimu?" tanya Asila dan diangguki oleh Vino.


"Sebegitu sayang mamamu pada istrimu?" tanya Asila lagi. Vino hanya tersenyum tipis.


"Asila aku harus pergi," ucap Vino setelah membaca pesan WA dari mamanya.


Cari menantu Mama, kau akan tau akibatnya jika Micela kenapa napa!


"Kamu mau meninggalkanku?" tanya Asila. Wajahnya yang tadinya secerah mentari kini meredup. Vino mengusap erat pundak Asila.


"Hubungi aku bila membutuhkan bantuanku," ucap Vino.


"Aku butuh kamu saat ini," ucap Asila.


"Mama juga membutuhkan aku Sila," jawabnya.


"Mama atau wanita itu?" desak Asila.


"Jangan mempersulit keadaan, aku akan kembali besok siang," ucap Vino kemudian melenggang pergi.


Asila hanya diam, menatap kepergian Vino sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.


❀❀❀❀


Vino menuju ke arah mobilnya, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tempat yang dituju adalah kafe mawar. Berharap istrinya ada disana. Namun, Micel tidak ada di sana. Vino menghubungi Mama Mira, Michel juga tidak di rumah.


"Kemana dia Nak? Apa kalian bertengkar?" tanya Mama Mira malah balik bertanya sehingga membuat Vino tampak tak enak.


"Kalau begitu terimakasih Ma, asalamualaikum," ucap Vino mengakhiri panggilannya dengan Mama Mira.


Vino memutar balik mobilnya masih saja berputar mencari keberadaan Istrinya, namun tak juga mendapatkan keberadaan Micela.


Vino mencoba menghubungi kontak Micel dan nihil Micel tidak menjawab telfon dari Vino. Hal yang paling menyebalkan yang sering dilakukan Micel adalah tak pernah mengangkat panggilan dari suaminya itu.


"Sial ! Kemana kamu pergi? Suka sekali membuatku emosi," gumam Vino.


Vino menancap gas mobilnya, rasa marah, kesal dan khawatir seakan tumpah menjadi satu. Satu jam sudah mencari keberadaan istrinya namun tak juga menemukannya.


Vino yang biasanya sabar seakan emosi. Micela wanita itu pandai sekali membolak balikan perasaannya.


Beberapa menit kemudian, Vino sudah berada di parkuran kantor. Dia mencari keberadaan Micela dan juga tidak ada tanda-tanda ada Micela di sana.


Vino berlari ke arah ruangan Rendi dan Willy. Mereka tampak sedang menyelesaikan sebuah berkas yang akan digunakan untuk meeting besok pagi.


"Kakak. Ada apa? Kenapa tampak panik?" tanya Rendi sambil mendekat ke arah kakaknya.


"Apa kalian Tuli? Kenapa tidak ada yang menjawab panggilanku?" sentaknya.


"Maaf Kak, kami terlalu sibuk," ucap Rendi yang saat ini melihat sepuluh panggilan tak terjawab di ponselnya.


"Kemana perginya Micela siang tadi?" tanya Vino pada kedua asistennya dengan tegas. Rendi dan Willy saling menatap, mereka mengerutkan keningnya. Jadi Nonanya belum pulang sejak siang?

__ADS_1


"Coba hubungi ponselnya, Kak," ucap Rendi.


"Sudah seribu kali," jawab Vino ketus sambil berjalan ke arah jendela.


"Aku akan menghubungi mama," ucap Vino lagi yang tampak panik.


Vino membuat panggilan untuk mamanya. Berharap setelah satu jam, Micel sudah berada di rumah.


"Halo Assalamualaikum Vino. Bagaimana?Apa ada kabar dari mantu mama?" tanya mamanya dengan nada panik.


Vino memejamkan matanya, Micel belum pulang juga? Tak sanggup mengatakan jika ia kehilangan jejak Micela.


"Vino, apa kalian baik-baik saja? tanya Mamanya lagi. Vino menghela nafas panjang.


"Temukan Micela, dan jangan pernah kembali jika belum menemukan keberadaannya," ucap Mamanya kemudian menutup ponselnya.


Vino tersentak kaget mendengar ucapan mamanya. Sorot mata tajam Vino memandang ke arah lalu lalang orang di bawah sana yang yang kini tengah menikmati malam dengan indah.


"Willy, kau ku tugaskan untuk menjaga Micela siang tadi. Kemana dia?" tanya Vino sedikit emosi. Willy terdiam.


"Willy, apa kau tak punya mulut?" sentak Vino. Willy mengambil ponselnya dan mengirim rekaman CCTV siang tadi.


Vino memejamkan matanya, hatinya bergemuruh marah melihat vidio itu.


Vino mengeluarkan ponsel dari sakunya, di bukanya galeri yang memperlihatkan beberapa foto bersama dengan Micel. Foto pernikahan dan foto yang diambil Micel waktu itu. Vino menghela napas panjang dan mengusap wajah Micel yang sangat imut di sana. Ada rasa bahagia, sebal, sesak, dongkol, semua berkumpul menjadi satu.


"Kenapa kau suka sekali membuat darahku mendidih?" Vino mengusap kasar wajahnya. Bayangan wajah cantik istrinya tengah memenuhi otaknya.


"Shitt," umpatnya.


Vino lagi-lagi menghela napas kasar. Dadanya semakin sesak saat mengingat nama Nicho.


"Micela," gumamnya pelan. Vino mencengkram gelas yang berada di tangannya hingga pecah. Tetesan darah mengalir bercampur dengan air dari tangannya. Perih? Luka itu tak sebanding dengan hatinya yang merasakan sesak dan entah di sebabkan oleh apa.


Entah perasaan yang bagaimana, benci, sayang atau bagaimana Vino tak sanggup mengartikannya.


😍😍😍😍😍


Micel tertawa lepas saat melihat kelakuan dua bocah kembar yang sangat lucu itu.


Beberapa kali Kontak yang bernama Kak Vino memanggilnya, Mama Elina, Mama Mira juga memanggilnya.


Micel memejamkan mata indahnya, mengingat Vino membuat dadanya sesak sekali.


"Sayang, angkat saja. Kenapa dibiarkan?" ucap Davina.


Davina melirik ke arah ponsel Micel yang menampakan kontak Mama Elina dan menampakan sebuah foto yang mencur◾️ perhatian Davina.


Tangan Davina terulur untuk mengambil ponsel Micel, tetapi orang di sebrang mengakhiri panggilannya.


❀❀❀❀

__ADS_1


__ADS_2