
"Kau pikir kau siapa? Kau bukan siapa-siapa, jangan melonjak Nona, kau harus tau posisimu," Radit melenggang pergi ke dalam. Nada menghela napas panjang.
Nada menyunggingkan seyumannya, tampaknya membuat Radit marah adalah kebiasaan yang sangat membahagiakan dirinya. Nada melangkah dan berhenti di depan Radit. Radit ke kanan, Nada ikut ke kanan. Radit ke kiri dan Radit ikut ke kiri.
"Apa yang kau mau, minggirlah. Aku harus pergi," ketus Radit. Mendadak emosinya meluap saat mengingat penampilan Nada yang memukau dan membuat banyak orang mengaguminya. Aish, bukankah itu bukan urusannya? Mau apapun yang di kerjakan Nada, Radit tidak perduli.
"Minggir aku bilang," ucap Radit lagi.
Nada terdiam kemudian minggir dari hadapan Radit. Radit melangkahkan kakinya.
"Yang," Nada memanggil Radit. Radit seketika menghentikan langkahnya dan menunggu Nada menghampirinya. Panggilan itu benar-benar panggilan maut yang mampu mengoyak hatinya. Setiap mendengar Nada memanggil dirinya seperti itu hatinya seakan merasakan hawa panas yang menjalar.
Kini Nada sampai di depan Radit. Nada mendongak kemudian mencium pipi suaminya.
"Jangan marah Yang. Kau tau, jika kau marah, aku sangat bahagia," Nada sengaja membisikkan ucapannya ditelinga Radit saat menciumnya. Dia pun berlalu pergi sambil tersenyum nakal.
Radit mengepalkan tangannya, melangkahkan kaki keluar kamar dan berdiri di balkon. Sepertinya dia tak sanggup untuk pergi. Radit meraih kopi yang sudah dingin, Radit meminum kopi itu sambil menatap langit yang memperlihatkan bintang yang indah. Nada, kenapa selalu membuatnya kelimpungan? Radit mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
Beberapa waktu berlalu, Radit melirik jam yang menunjukkan pukul 01.00. Radit melangkah ke dalam kamar saat merasakan hawa dingin menusuk pori-pori kulitnya.
Radit melangkah ke dalam kamar, netranya mendapati Nada yang tengah tertidur di ranjang. Radit menatap ke arah wajah Nada yang semakin dilihat semakin mempesona.
Radit menelan salivanya dengan kasar saat melihat tubuh indah Nada. Walaupun tertutup sempurna dengan pakaian, nyatanya masih mampu membuat nyawa yang di bawah sana tampak meronta. Radit menutup tubuh istrinya dengan selimut tebal, netranya menatap ke arah wajah yang terbungkus dengan kerudung.
Radit mengulurkan tangannya dan melepas penutup kepala itu. Meletakan kerudung di atas nakas. Dia pandang dengan lekat wajah yang imut dan sangat cantik itu. Ada desiran aneh yang tersalur di hatinya. Membuat kesesakan dan rasa memiliki.
Radit membuat usapan lembut di pipi Nada. Radit merasakan desiran rasa yang membara di dirinya. Nada bergerak miring, hingga kini wajah mereka begitu dekat.
Radit memejamkan matanya ketika mencium aroma wangi nan lembut dari manusia cantik di depannya. Semakin lama tubuhnya semakin panas. Radit tersadar dan segera mengalihkan dirinya dari hadapan makhluk cantik yang sebenarnya sah untuk di sentuh lebih dari yang dia lakukan saat ini. Namun, entah kenapa Radit seakan enggan memperlakukan Nada seperti wanita diluaran sana, padahal jelas-jelas Nada menyerahkan dan tidak menolak jika Radit memintanya. Alam bawah sadarnya mencoba menjaga dan menghormati Nada, atau justru dia merasa Nada adalah wanita yang sama dengan wanita bejat itu? Entahlah. Radit bergulat dengan pemikirannya sendiri l
😍😍😍
Pagi hari yang sejuk, sinar mentari menerobos ke dalam ruang kamar yang kini dihuni dua manusia yang saling memeluk.
Nada merasakan tidur yang begitu nyaman dan tenang. Merasakan hangat dan lelap. Nada membuka matanya, alangkah terkejutnya dia ketika melihat dia tengah berpelukan dengan manusia yang selalu membuat hatinya dag dig dug tak beraturan. Nada mengucek matanya, berharap Ini hanya sebuah mimpi. Namun nyatanya bayangan di depannya malah semakin nyata.
__ADS_1
Aaaaaaaa
Nada berteriak sambil mendorong tubuh Radit yang memeluknya dengan posesif.
"Apa tidak bisa diam?" suara serak Radit menggema.
Nada segera duduk dan mengamati tubuhnya yang masih dengan baju yang lengkap. Tapi kenapa kerudungnya terlepas?
"Kenapa kau disini?" ucap Nada sambil mendorong tubuh Radit kemudian memasang kerudung di kepalanya. Radit bangkit dan menatap Nada dengan sorot mata tajamnya.
"Lalu aku harus tidur dimana?" sentaknya.
Nada menghela napas panjang. Nada memutar pandangannya dan mengamati kamar besar nan indah ini. Yang benar saja, ini memang satu-satunya kamar di apartemen ini. Lalu, kenapa dia marah saat Radit di sampingnya?
Nada kembali menatap ke arah Radit. Dia ingat jika dirinya sekarang telah menjadi istri sah dari seorang Marvel Raditia Dika.
😍😍😍😍😍😍😍
__ADS_1
Hayok ritualnya 😍