
Apa tadi? Memasak? Micel menghela napas dalam dalam.
"Ya Tuhan, aku baru saja bahagia dengan hangatnya perlakuan manis suamiku, kini harus sebak karena ucapan yang menyebalkan? Oke, jika itu maumu Kak Vino aku akan meladeni. Aku harus kuat, aku bukan wanita lemah. Aku yakin suatu saat nanti kau akan menyerahkan cinta mu untukku Kak, aku akan berusaha," ucapnya sambil memandang punggung Vino yang menghilang dibalik pintu.
Jam di dinding menunjukkan pukul 06.30 segera Micel melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari kamar, Micel mendapati Vino yang ternyata menghentikan langkahnya di depan pintu sambil membenahi dasi yang dia kenakan, Micel segera mendekati dan memasangkan dasi suaminya. Vino diam dan terkejut, akan tetapi dia hanya menampilkan wajah datarnya.
"Aku ingin membantu kakak, selain itu aku ingin menggodamu apa boleh aku melakukannya?" tanya Micel sambil menggerakkan tangannya membenahi dasi Vino.
"Menggodaku?" tanya Vino.
"Hem, bukankah semalam aku sudah bilang pada kakak jika aku mampu menggoda banyak lelaki? Target pertama adalah kakak. Lihat saja kakak akan jatuh cinta padaku dalam waktu tidak kurang dari lima hari," ucap Micel sambil tersenyum.
Micel sudah selesai memasangkan dasi kemudian berlalu begitu saja, namun Vino yang terusik dengan ucapan Micel menarik tangan istrinya.
"Apa kau berencana menggunakan dukun seperti di sinetron sinetron dan memberikan jampi jampi begitu?" ucap Vino sambil terkekeh.
Micel membelalakan matanya. Apa apaan ini? Dukun? Sejak kapan suaminya ini mengenal hal seperti itu? Micel menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah Vino yang masih terkekeh.
"Kakak meragukanku?" tanyanya.
"Kita turun sekarang, jangan banyak bicara baby. Aku akan melihat bagaimana kemampuanmu membuatku jatuh cinta padamu," ucap Vino dengan sisa kekehan tawanya.
Merasa di sepelekan, Micel terdiam. Dalam hatinya menggebu dan berjanji akan mengambil hati seorang Vino Pradikta. Vino menggenggam erat tangan Micel, menarik tangan wanita cantik itu berjalan menuju ruang makan.
"Selamat pagi kakak, selamat pagi kakak ipar. Selamat pagi Mama, Nenek dan Kakek," sapa Micel pada anggota keluarga yang kini tengah berkumpul. Vino melepas genggaman tangan Micel menarik kursi untuk wanitanya kemudian duduk di samping Micel.
"Pagi, Sayang," sahut mereka kompak sekali. Membuat Micel dan Vino
"Hari ini kakak jadi berangkat?" tanya Micel saat melihat koper yang berada di dekat pintu.
"Iya." jawab Nada. Nada dan Radit saling berpandangan, sepertinya keadaan rumah tangga mereka memang tengah di uji. Micel menghala napas panjang. Dia sudah mendengar berita yang berada di dalam koran. Dia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan oleh kakak iparnya.
"Ish, kakak itu, padahal aku masih ingin bersama Kak Nada di sini," ucapnya sambil membalikan piring di atas meja yang masih tengkurap.
"Kamu bisa main ke sana jika mau, "
jawab Nada dengan senyuman indahnya. Walau seperti apa perasaannya wanita itu tetap mencoba baik baik saja.
"Ye, aku akan kesana menyusul Kakak, kakak tenang saja," ucap Micel dan sanggup membuat Vino mengarahkan pandangannya pada wanita cantik di sampingnya.
__ADS_1
"Sayang, jangan berbicara terus. Apa kau tidak berencana mengambilkan makanan untukku?" tanya Vino yang sanggup membuat semua anggota keluarga itu terkekeh.
Micel menatap ke arah suaminya dengan sebal, tadi memintanya untuk memasak dan sekarang meminta untuk melayaninya? Micel mengambil makanan untuk suaminya, kemudian? mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Meraka makan dengan hidmad, hanya dentingan sendok yang terdengar. Radit dan Nada masih tampak berdiam. Menyelami samudera kesesakan yang mendera batin masing masing.
Setelah selesai sarapan mereka segera pamit. mamanya memeluk erat Micel dan Nada yang akan meninggalkan mansion MRD, Nenek dan Kakek juga melakukan hal yang sama. Nada dan Micel juga saling memeluk.
"Jangan sungkan bilang padaku kalau Kak Marvel jahat padamu Kak. Aku akan menghukumnya," ucap micel pada Nada dan membuat Nada tersenyum.
"Iya, Micel. Kakakmu sangat baik sekali padaku. Doakan semua berjalan dengan lancar, dan kami selamat sampai tujuan," ucap Nada.
Micel tersenyum dan mengusap pelan perut Nada yang sudah membesar.
"Hay sayang, baik baik disini. Jaga Mama Nada buat aunty ya," ucap Micel kemudian menatap Nada, Micel berhamburan memeluk kakak iparnya.
"Kakak, sabar ya," ucapnya menyemangati. Nada tersenyum.
"Kami pamit dulu, Asalamualaikum," ucap Nada. Radit segera berpamitan pada Mama, Kakek, nenek, Micel dan juga Vino.
"Walaikumsalam, Marvel hati hati. Jaga Nada dengan baik," ucap Mamanya. Radit mengangguk. Mereka segera turun dan menuju ke parkiran. Vino dan Micel juga berpamitan dan juga turun ke parkiran.
Mobil Nada dan Radit melaju dengan kecepatan sedang menuju ke bandara, Nada terdiam, keduanya larut dalam kesunyian.
Micel dan Vino tengah berada di dalam mobil, melihat mobil Radit dan Nada yang menjauh dari pandangan mereka. Micel menghela napas panjang dan tampak bersedih.
"Doakan mereka baik baik saja, jangan ikut bersedih seperti itu," ucap Vino sambil melajukan mobilnya. Micel menatap suaminya dengan tenang. Vino telah mengetahui masalah yang dihadapi oleh Radit.
Semalam juga saat di dapur mereka membicarakan tentang itu. Ingin membantu, tetapi Radit sendiri dan Delon sudah melakukan hal yang terbaik sehingga Radit bilang akan meminta bantuan jika Delon dan dirinya belum bisa menyelesaikannya.
Tiga puluh menit berlalu, Vino dan Micel sudah sampai di mansion Pradikta. Vino membuka pintu untuk Micel. Micel keluar dari mobil dan mereka saling menatap.
"Aku ke kantor dulu," ucap Vino kemudian menutup pintu Mobil dan melangkah.
"Kak," panggil Micel.
"hem." jawab Vino dan menghentikan langkahnya. Micel mendekati suaminya, kemudian mencium tangannya. Ada desiran hawa aneh menjalar di hati Vino.
"Mulai nanti siang aku akan ke kantormu, aku akan membawa makan siang untuk mu Kak," ucapnya sambil tersenyum. Vino tampak tersenyum dan menatap ke arah Micel dengan tenang.
__ADS_1
"Oke, aku tunggu Nona Micel. Aku berangkat dulu," ucapnya sambil mengacak puncak kepala Micel.
"Ya sudah, Hati-hati di jalan Kak," jawab Micel. Vino mengangguk pelan. Vino melajukan mobilnya dan menghilang dari pandangan Micel.
"Bagaimanapun sikapmu, aku tau kakak akan berubah hangat, hanya perlu waktu untuk meyakinkan hatimu Kak, ucap Micel kemudian melangkahkan kaki menuju ke dalam mansion, seorang pelayan membuka pintu untuknya dan menunduk hormat dan mempersiapkan Micel masuk.
Tak ada penghuni di rumah besar itu, pagi seperti ini semua orang berada di kantor.
Micel menatap ke arah foto besar yang berada di dinding. Melihat foto keluarga yang menampilkan wanita cantik disana. Apa ini adik Kak Vino? Atau kakaknya? Tanyanya pada diri sendiri.
"Itu Nona Emely, Nona," ucap pelayan yang tadi membuka pintu untuk Micel.
"Oh, lalu dimana dia?" tanya Micel.
"Kurang tau, Nona Emely sudah hampir dua bulan tidak ada di rumah," ucapnya mencoba menjelaskan dan diangguki oleh Micel.
"Kalau ini?" tanya Micel sambil mengamati foto seorang anak lelaki kecil dan wanita kecil di pigora yang terhias sangat cantik.
"Itu foto den Vino semasa kecil dengan saudara kembarnya. Akan tetapi Nona Vani sudah meninggal dunia," ucap pelayan itu.
Micel memejamkan mata indahnya. Vani? Micel merasakan pusing mendengar nama itu. Segera Micel mencoba menenangkan pikirannya. Micel menatap ke arah pelayan itu.
"Nona baik baik saja?" tanyanya.
"Aku baik bi, bibi bisa membantuku?" tanya Micel dengan tenang.
"Apa yang bisa saya bantu Nona?" tanyanya.
"Bantu aku memasak," ucap Micel. Bi Ira tersenyum dan mengangguk.
"Nona mau memasak?" tanyanya.
"Lebih tepatnya belajar memasak. Aku ingin bisa memasak makanan kesukaan Tuan Vino," ucapnya.
"Baik Nona," ucapnya.
"Oke, aku ganti baju dulu."
Micel melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Micel tersenyum girang.
__ADS_1
"Oke Tuan Vino, lihat saja bagaimana aku bisa mengambil hatimu," ucap micel dengan semangat.
😍😍😍