Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 44


__ADS_3

Anak kedua yang lahir dari istrinya itu telah menikah, dan itu membuat hatinya bahagia.


Pak penghulu memberikan berkas dan harus ditandatangani kedua mempelai, dengan cekatan Radit menandatangani. Sedangkan Nada masih saja termenung melihat kearah buku nikah yang menampilkan namanya disana.


"Sudah, Nona Nada? " tanya pak penghulu. Nada menoleh dan segera menggerakkan tangannya membuat tanda tangan dan menyerahkan kembali pada pak penghulu.


"Oke terimakasih, saya harus pamit dulu. Selamat menempuh hidup baru," ucap pak penghulu, mereka saling berjabat tangan dan pak penghulu pun melenggang pergi.


Dani segera memberi intruksi kepada semua warga untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia di ruang resepsi sana. Arfan tampak membantu Dani, manusia yang tadi malam tampak kejam itu nyatanya mampu berbuat baik.


Sedang Ayah berada diantara Nada dan Radit. Ada pula pak ustad yang tampak tersenyum ke arah dua mempelai yang tampak canggung itu.


"Mas Marvel, sudah halal." Pak ustadz yang memang sudah kenal pada Radit tampak menggoda. Radit menerbitkan senyuman, dan tak sengaja Nada menangkap senyuman itu dan mampu menggetarkan hatinya.


"Mbak Nada, Allah mengumpamakan para istri sebagai ladang atau tempat untuk bercocok tanam. Sebagaimana ladang yang menghasilkan buah-buahan saat ditanami pepohonan, begitu pula dengan para istri yang menghasilkan keturunan. Jadi, layani suami dengan baik," ucap Pak Ustad menasehati tetapi seakan menggoda kedua mempelai.


Nada memejamkan matanya. Ya walau bagaimana Radit menganggap pernikahan ini, yang jelas Nada meniatkan untuk beribadah.


"Surat Al-Baqarah ayat 223 adalah ayat yang memuat perumpamaan tersebut, Bismillahirohmanirohim," ucap pak ustad lagi.


نِسَاۤؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ


...223. Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman....


Mendengar ucapan pak ustadz membuat Nada bergidik ngeri, tapi justru membuat Radit bahagia. Entah bagaimana, hati Radit seakan merasakan ketenangan.


"Kalau begitu, saya harus pamit. Sakinah, mawadah dan warohmah untuk kalian sampai akhir hayat nanti," ucap pak Ustad.


"Amin," ucap Nada dan Radit serempak. Ayah mengantar pak Ustadz ke depan.

__ADS_1


Sedangkan kini di dalam ruangan itu tinggal Radit dan Nada. Keduanya saling menatap, bahkan sedari tadi duduk berdampingan, baru kali ini Radit menatap intens ke arah wajah cantik Nada yang kini telah berstatus sebagai istri sahnya itu.


Menatap wajah cantik yang kini mampu membuat gejolak di hatinya.


"Aku," ucap keduanya bersamaan.


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini," ucap Radit tampak dingin


"Tapi, bagaimana dengan acara ini?" tanya Nada dan dibalas tatapan tajam Radit. Nada menghela napas panjang.


"Oke kita pergi," ucap Nada mengalah.


"Kau harus tau, aku menikah denganmu karna keterpaksaan untuk menyelamatkan perusahaan. Bahkan aku tidak mengakuimu di khalayak dimana sebenarnya aku berdiri, disini hanya karna aku melakukan permintaan papaku, jadi kau harus tau posisimu. Kau hanya istri sementara sampai proyekku selesai, dan salahmu sendiri tidak mau menandatangani berkas kontrak kemarin, jangan salahkan aku jika nanti kau tak mendapatkan apapun," ucap Radit panjang lebar dan mampu menusuk ulu hati Nada.


"Kau tenang saja Tuan Marvel Raditia Dika, aku tau posisi dimana aku berdiri," ucap Nada kemudian melangkah pergi diikuti langkah Radit.


Keduanya keluar dan menuju ke parkiran, Radit membuka pintu untuk Nada, tampak begitu sangat manis dan serasi. Pemandangan itu disaksikan warga kampung. Namun, sayang sekali kemanisan yang tampak tak seperti kenyataan.


Di dalam perjalanan mereka saling terdiam,


hingga Nada memberanikan diri membuka pembicaraan.


"Kita mau kemana Tuan Radit yang terhormat?" tanya Nada dengan penuh selidik.


"Apa Tidak ada panggilan yang lebih baik? Bukankah kau tadi memanggiku berbeda," ucap Radit. Tatapan matanya tetap ke arah depan sana tanpa menoleh ke arah Nada.


Nada menghela nafas panjang kemudian memandang ke arah suaminya. Suami yang menganggap pernikahan mereka hanya sementara.


"Lalu aku harus memanggil apa?" tanyanya Jutek. Radit tersenyum tipis. Kenapa melihat kelakuan istri yang belum sempat berkenalan dengannya itu membuat dia bahagia? Padahal tadi dia sangat emosi.

__ADS_1


"Ya panggil aku sayang seperti tadi, itu lebih baik dan terdengar mesra," ucap Radit, Nada mengernyitkan dahinya.


"Aku akan memanggil mu sayang, tapi tidak gratis," ucap Nada. Radit tampak antusias dan menatap ke arah Nada.


"Lalu?" tanya Radit.


"Kau dilarang bermain dengan wanita dan menyebabkan lipstik mereka tertinggal di kemejamu," ucap Nada. Radit melirik ke arah Nada dan tersenyum sinis.


"Jadi jika tidak meninggalkan bekas bolehkan?" tanya Radit.


Nada cukup tau kebiasaan Raditt, beberapa kali bersama wanita yang berbeda, dan dipastikan Radit mempunyai banyak wanita. Untuk menghentikan secara langsung mungkin tidak bisa, tetapi dia akan berusaha, meski bagaimanapun dia harus bisa mengalihkan dunia Radit nantinya.


"Ya intinya aku tidak ingin melihatnya," ucap Nada.


"Jadi kau ingin aku menjaga perasaanmu?" tanya Radit.


Nada hanya terdiam. Radit menghentikan mobilnya di parkiran apartemen.


"Aku bisa mendapat panggilan sayang dari wanita manapun, kau pikir kau menarik sehingga melarang ku?" tanya Radit sinis.


"Harus berapa kali aku bilang, kau harus tau posisimu. Kau bukan siapa-siapa, jangan campuri urusanku dan aku juga tidak mencampuri urusan pribadimu. Sekarang turunlah, kau boleh tidur di apartemenku atau milik kakakmu," ucap Radit lagi.


"Okey, kalau begitu antar aku ke apartemenku sendiri," ucap Nada.


"Bukankah kau bisa naik mobil? Jangan manja, pergilah sendiri, itu kunci mobil untukmu, mobilnya disana. Ingat, pernikahan kita hanya status nona. Ingat itu," ucap Radit.


Nada menghela napas panjang, Radit benar-benar menguji kesabarannya.


"Keluarlah, aku harus ke kantor sekarang juga,"

__ADS_1


😍😍😍😍😍😍


__ADS_2