
Vino melangkahkan kaki menuju ke mobilnya. Sejak mengetahui informasi tentang gadis itu membuat kegelisahan semakin membuncah. Padahal dia bukan siapa-siapa. Mengenal juga baru beberapa waktu. Tapi, entah bagaimana gadis itu seakan menyita perhatiannya.
"Dimana kamu berada gadis? Suka sekali mengusik pikiranku," gumamnya.
Vino menancap gas mobilnya, rasa marah, kesal dan khawatir seakan tumpah menjadi satu. Vino yang biasanya sabar seakan emosi. Micel, wanita itu pandai sekali membolak balikan perasaannya.
"Aish, Vino kau tidak mengenalnya, kenapa kau peduli?" kesalnya.
Beberapa menit kemudian, sampailah Vino di arena grand opening peletakan batu pertama pembuatan Mol. Vino menatap ke arah proyek yang sedang di kerjakan. Beberapa tumpukan material dan beberapa pekerja sibuk berlalu lalang.
Vino turun dan segera masuk ke arah gedung menjulang tinggi yang berada di samping proyek yang dia kerjakan itu. Vino menapaki lantai dan mencari keberadaan Willy yang tampak sibuk di ujung sana.
Berada di antara jejeran kursi yang tertata rapi. Kakinya menapaki karpet merah di tengah antara kursi kanan dan kiri. Ya, gedung ini dihias seindah mungkin, dikarenakan tamu yang datang di acara ini adalah orang-orang hebat dan sangat berpotensi di bidang bisnis.
"Willy, bagaimana? Semua sudah siap?" tanya Vino sambil menatap ke arah Willy. Wili tersenyum sambil mengamati wajah bosnya yang tampak lesu.
"Semua sudah siap, Tuan," sahutnya.
"Hiburan sudah datang?" tanyanya lagi. Dia takut saja kejadian waktu itu terulang kembali saat tak ada hiburan yang mengisi.
"Sudah Tuan, semua sudah berjalan sesuai dengan rencana. Tinggal kita ke depan dan menyambut hadirin," ucap Willy.
"Okey, aku percaya padamu," ucap Vino sambil menepuk pundak Willy.
"Bos, kau tidak papa?" Wily mengamati wajah bosnya dan tersenyum.
__ADS_1
"Aku tidak papa, hanya saja aku sedang memikirkan seseorang," ucapnya. Willy menautkan alisnya. Seseorang? Willy hanya tersenyum tipis.
"Nona Nada? Aku pastikan dia akan hadir, Bos tenang saja," ucapnya sambil tersenyum. Vino menghela napas panjang. Nada? Astaga, bahkan dia sudah tak terlintas tentang wanita itu.
"Bukan Wil," sahut Vino sambil menatap ke arah Willy yang menatapnya penuh tanya.
"Lalu?" tanya Willy antusias.
"Kau harus mencari informasi tentang gadis ini," ucapnya sambil mengarahkan ponselnya ke depan Willi.
Willy tampak menautkan alisnya dan menatap Vino dengan tajam.
"Siapa dia Bos?" tanyanya sambil mengamati gadis imut itu.
"Lalu, apa hubungannya dengan anda? Apa kau telah berpaling?" tanya Willi. Tapi Vino tak menjawab. Netranya mengamati situasi luar sana saat mobil yang berwarna merah metalix berhenti di depan gedung yang menjulang tinggi ini. Sopir paruh baya yang mengendarai mobil itu segera turun dan membuka pintu mobil dengan tergesa untuk penumpangnya.
Tak lama dari itu, tampak seseorang turun dari mobil itu dengan elegan. Lelaki itu berdiri sempurna denga kaca hitam yang bertengger di hidungnya, matanya memandang ke arah gedung tinggi yang bertuliskan Pradikta Group, perusahaan yang bergerak dalam bidang fashion, jasa dan properti.
Perusahaan yang memiliki beberapa cabang dan sangat terkenal, perusahaan yang berpusat di kota itu. Perusahaan yang didirikan oleh keluarga Pradikta.
Melihat Radit datang membuat dirinya segera berjalan ke parkir, Radit adalah salah satu investor terbesar di proyek ini. Itu artinya kedatangan seorang marvel Raditia Dika adalah termasuk jajaran orang penting.
"Mari, silahkan masuk Tuan Muda Marvel," Vino dan beberapa orang menyambut kehadiran Radit.
Radit membuka kaca matanya. Bola mata indah itu menyilaukan mata yang memandangnya. Sejenak netranya menangkap wajah Vino yang kini berada di samping Wili. Radit mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Vino
__ADS_1
"Selamat siang, Tuan Marvel, selamat datang di Pradikta group," sapa Vino dengan ramah.
"Pagi Tuan, kau sangat berbakat. Kau seorang pengusaha yang sangat berkualitas, aku harap kau segera mendapat pasangan," ucap Radit sambil tersenyum, entah apa maksudnya. Radit mengusap pelan pundak Vino kemudian berangkulan sejenak.
"Kenapa menggodaku, tenang saja aku sudah ada calonnya, Sobat," ucap Vino sambil tersenyum. Radit tersenyum juga, sukurlah jika memang begitu.
Disaat yang bersamaan, sebuah mobil ferary keluaran terbaru berhenti sempurna di samping mereka berdiri. Keduanya melepas tautan tangan yang masih bergandengan. Keduanya menatap ke arah mobil mewah yang menyita perhatiannya.
Tak lama dari itu, keluarlah seseorang dari sisi kanan. Juga seseorang dari sisi kiri. Kedua wanita itu cantik memukau.
"Nada," lirih Radit dan Vino bersamaan.
Keduanya saling memandang karna samar-samar mendengar ucapannya, namun mereka segera mengalihkan pandangannya lagi ke arah dua wanita cantik itu.
Nada tampak berdiri dan belum menyadari keberadaan dua pangeran tampan itu. Nada mengamati gedung menjulang tinggi dan melepas kacamata.
Sifa melakukan hal yang sama, Radit mengempalkan tangannya dan melirik ke arah Vino yang menatap Nada dengan tersenyum.
🎀🎀🎀🎀🎀
😆😆😆😆😆😆😆
.
__ADS_1