
Nada mejamkan matanya sejenak, dirinya pasrah apapun yang akan terjadi padanya, mau berlari tidak bisa. Mau berteriak percuma, tak ada orang. Bahkan jika berteriak maka akan semakin memperdengarkan suaranya dan semakin banyak penjaga yang datang.
Penjaga muda itu tampak mendekatkan wajahnya ke arah Nada. Nada meronta, air matanya terus saja mengalir, penjaga itu menarik jilbab Nada ke belakang, memperlihatkan wajah cantik itu semakin nyata.
"Jangan, jangan sakiti aku," ucapnya. Namun, tak di dengar oleh penjaga itu.
Nada menghela napas panjang kemudian meludah hingga ludah itu mengenai mata penjaga itu.
"****," umpatnya marah.
Seketika penjaga itu melepaskan tangan Nada dan membersihkan matanya yang terasa mengganjal.
Nada yang merasa aman segera menjauh dan meninggalkan orang itu. Penjaga yang menyadari Nada kabur segera mengejar.
"Ada apa Bos?" tanya anak buahnya.
"Kejar wanita itu," ucapnya sambil menunjuk Nada yang menjauh. Beberapa anak buahnya segera berlari mengejar Nada.
Nada memejamkan matanya sejenak dan menghela napas dalam dalam sambil berjalan menjauh. Merasa lelah, Nada mencari pepohonan yang besar. Berdiri di sana dan melihat sekitar, Nada berhenti di balik pohon mencoba untuk istirahat sejenak.
Nada menarik napas dalam, menghela napas panjang, napasnya ngos-ngosan tak beraturan. Beberapa kali Nada mengusap perutnya. Netranya menatap dengan waspada.
__ADS_1
"Nak, bertahanlah bersama bunda, bunda menyayangimu. Bahkan Daddy sangat menginginkanmu, tolong apapun yang terjadi, bertahanlah bersama bunda," ucapnya lirih.
Karna khawatir pada kandungannya, membuat Nada melangkah dan berjalan dengan hati-hati, berharap tidak terjadi suatu apapun dengan calon bayi yang ada di rahimnya.
Di kepalanya hanya ada Radit, Radit yang begitu menyayanginya. Radit yang mendambakan seorang baby di dalam pernikahannya. Nada memejamkan matanya. Bahkan satu pesanpun tak ada yang membalas. Apa karna tak ada signal?
"Ternyata kau disini, Cantik," ucap preman itu. Bukan seorang penjaga yang tampan tadi. Mereka adalah preman jalanan yang kucel. Nada memelototkan matanya.
"Pergi, jangan sakiti aku," lirih Nada.
Preman itu terus mendekat, Nada terus saja memundurkan tubuhnya.
Nada pasrah, bahkan dirinya dihimpit pohon dan tidak bisa keluar. Sebelum preman itu sampai di depannya, Nada berjongkok dan mengambil sebuah Ranting di belakang.
Nada memukul orang di depannya saat orang. Dia merasakan kesakitan. Saat itu Nada berdiri melepas sepatunya.
"kejar dia," ucap salah satu dari mereka sehingga tibalah Nada di jalan yang buntu.
Nada sudah tidak bisa berjalan, sedangkan orang itu menariknya kasar. Nada meronta, air matanya terus saja. Salah satu darinya mendorong mendorong hingga Nada hampir terjatuh. Nada memejamkan mata indahnya.
"Ya Allah, selamatkan anakku," lirihnya dalam mata yang terpejam.
__ADS_1
Nada terus memejamkan matanya, saat tubuhnya melayang di udara. Dia takut Akan terjatuh, tapi seseorang menahan dirinya. Radit memandang wajah cantik di depannya, wajah seseorang dihadapannya yang memejamkan mata.
Sejenak Radit merasa lega, senyum tipis menghiasi bibirnya. Wajah itu begitu cantik dan sanggup mendebarkan hatinya. Wajah istrinya yang selalu dia rindukan. Radit dan Vino yang baru saja datang dan melihat Nada yang berada di pinggiran gedung tua segera mendekati Nada.
Nada yang merasa menggantung di udara segera membuka matanya. Keduanya saling berpandangan, mata itu membuat Nada berbinar.
"Yang," lirihnya.
"Ini aku dear, aku datang untukmu," ucapnya.
Nada benar-benar bersyukur, matanya mengarah pada Radit. Radit segera mengangkat tubuh Nada, netranya melirik ke arah Vino yang kini berkelahi dengan beberapa preman.
Delon? Delon berpencar dengan beberapa bodyguarnya menuju ke gedung tua itu. Tak menunggu lama, Radit membawa Nada menjauh, namun beberapa preman menghadang. Dengan gerakan cepat Radit menendang kedua preman itu.
Nada yang ketakutan terus memejamkan mata dan mengeratkan tangannya di leher Radit. Menyusupkan kepalanya di dada bidang Radit. Sementara Radit terus bergerak dengan lincah. Vino yang mengetahui Radit dalam kesulitan segera mendekat. Mengambil alih preman itu dan menatap ke arah Radit.
"Pergilah, biar mereka menjadi urusanku," ucapnya. Radit mengangguk dan berlari mencoba membawa Nada pergi menjauh dari arena itu.
"Dor,"
🙈🙈🙈🙈🙈
__ADS_1