Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 95


__ADS_3

Deg, Radit memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya. Haruskah dia datang? Kamar utama? Kamar itu adalah kamar yang memberikan kebahagiaan dan juga kenangan indah dirinya bersama dengan papa dan mamanya. Sepuluh tahun berlalu, nyatanya tidak bisa dia melupakan kenangan itu. Kenangan yang terlalu indah yang pada akhirnya membuat dirinya jatuh dalam sebuah hal yang menyakitkan.


Radit menghela napas panjang, dia berjalan menuju ke balkon. Radit Menatap bintang-bintang dan sinar rembulan yang tampak indah.


"Haruskah aku masuk ke sana? Tidak, tapi aku merindukan Nada. Oh, shitt. Umpatnya.


😂😂😍


Nada tercengang melihat kamar mewah yang luasnya tiga kali lipat kamar tamu itu. Kamar yang di desain dengan indah, dia mendapati lukisan photo keluarga. Tampak Mira ibu mertuanya, seorang yang tampan yang begitu berwibawa dan juga seorang anak lelaki yang kira-kira berusia 17 tahun berdiri di tengah keduanya. Dipastikan itu adalah Radit, suaminya.


"Micel," lirih Nada.


Micel tampak berlalu-lalang di otak Nada. Bahkan gadis cantik itu mampu bertahan di atas kekeras kepalaan Radit? Nada menghela napas panjang. Ada kalanya dia nanti harus bisa membuat Micel dan Radit untuk saling menyayangi.


Nada membersihkan dirinya dan mengambil air wudhu, menjalankan kewajibannya beribadah kepada Yang Maha penguasa langit dan bumi.

__ADS_1


Setelah, selesai menjalankan Sholat isya dan sunah sesudahnya. Kini Nada memandang lingerie yang bermotif bunga dengan tali kecil di atas pundak. Nada menghela napas panjang. Dari tiga pilihan, hanya itu yang sangat nyanan di pandangan matanya. Nada meraih set lingeri bahan katun, yang tidak transparan seperti kedua lainya yang seperti jaring ikan.


Nada segera ke kamar mandi dan mengganti pakaian gamisnya dengan lingerie pemberian nenek.


😍😍😍😍


Radit menoleh ke atas sana, hatinya seakan sakit mendengar dan mengingat papanya. Nada? benarkah dia tidak akan sekejam mamanya yang meninggalkan papanya? Hingga pada akhirnya, Radit menatap ke arah televisi di bawah sana. Seorang securiti tampak melihat siaran penyejuk hati. Seruan untuk mengingat Yang Maha pencipta langit dan bumi di segala keadaan.


Radit memejamkan matanya, bahkan lama sekali dirinya tak bersujud. Lalu, apa masih pantas dia mengadu pada sang Maha pemberi hidup? Entah, dia hilang arah. Nada? Wanita yang selalu membuat kenyamanan di hatinya sekarang ini di tempat yang dia benci. Lalu, kalau bukan pada Tuhan dia kembali, harus pada siapa lagi?


Radit berlari kecil menuju ke kamar tamu, segera dia menuju ke toilet dan mengambil wudhu. Radit memejamkan matanya. Hatinya sangat nyaman. Radit yang tengah memakai baju koko dan sarung juga peci. Kini, menghemparkan Sajadah, berniat, kemudian bertakbir menyebut Nama Sang Maha pemberi hidup. Hingga pada akhir rakaaat shalat isya Radit mengucapkan salam.


Bayangan berbuat Zina dan lain sebagainya terekam jelas di pelupuk matanya, hancur hatinya mengingat berbagai dosa yang dia perbuat. Apa ini yang di butuhkan papanya di sana? Oh tidak, hanya doa yang di harapkan orang yang kini telah berada di sisi Tuhan. Bahkan, Sang penguasa langit dan bumi lebih sayang pada papanya sehingga mengambilnya lebih cepat.


"Inalilahi wainnailaihi rojiun, Sesungguhnya semua milik Allah SWT dan akan kembali kepadanya," lirih Radit.

__ADS_1


Radit menghapus air matanya, mungusap wajahnya dengan kasar. Tenang di hatinya setelah mengadukan luka pada sang maha pencipta.


"Nada," lirihnya. Aish, Nada ada di sana. Radit segera berdiri, kemudian membereskan sajadah dan berjalan menuju ke kamar utama dengan kostum ibadahnya. Lampu di area luar kamar telah gelap.


Radit berjalan ke arah ruang kamarnya, Radit memejamkan matanya sejenak dan mengambil napas dalam-dalam. Dia harus yakin bahwa melihat poto papanya sudah tidak lagi membuat dirinya larut dalam kesedihan.


Radit membuka pintu, bersamaan dengan Nada yang keluar dari kamar mandi dengan set lingeri berwarna pink. Nada mengibaskan rambutnya yang basah, tetesan air di leher jenjangnya membuat Nada tampak bersinar dan semakin menggoda. Bahkan, Radit mampu mengabaikan lukisan di tembok yang menggambarkan wajah papanya, dia dan juga mamanya itu hanya dengan keberadaan Nada.


Radit menatap makhluk cantik yang belum menyadari keberadaan dirinya itu. Nada, wanita yang tak pernah memperlihatkan lekuk tubuhnya itu kini sangat menggoda di mata Radit. Kaki jenjang dengan set lingerie di atas paha mang ekspos tubuh mulusnya. Lengan tangan yang hanya di atas siku memperlihatkan tangan putihnya yang kini bergerak lincah mengeringkan rambut. Leher Nada, aish Radit menelan ludah dengan susah payah.


"Subhanallah, Maha suci engkau menciptakan makhluk sesempurna Istriku," lirih Radit


Pyar


Nada yang menyadari sebuah fas terjatuh tampak terkejut. Begitu juga dengan Radit, dia begitu terkejut saat tangannya tak sengaja menyenggol fas bunga di pinggiran pintu. Radit dan Nada saling berpandangan.

__ADS_1


Pandangan mereka bertemu dan saling mengunci. Nada tampak terkejut menatap makhluk tampan itu. Raditkah? Kenapa saat Radit berbusana seperti itu malah dirinya seperti wanita penggoda? Keduanya saling berpandangan entah apa yang ada di pikiran masing-masing.


😍😍😍🙈🙈🙈🙈🙈


__ADS_2