Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Malam pertama


__ADS_3

"Mau pergi kemana Kak?" Micel menghalangi langkah Vino. Tangannya terulur untuk menghentikan langkah suaminya. Micel berdiri di depan Vino dan menatap lekat wajah Vino yang kini memandang dirinya dengan datar.


"Ada apa lagi? Istirahatlah Micel," ucap Vino dengan wajah datarnya.


"Aku tanya, mau pergi kemana?" tanya Micel lagi. Vino menghela napas panjang dan menatap lekat ke arah Micel.


"Aku ada pertemuan dengan klien di luar kota besok, aku harap kamu tetap di rumah," jawabnya.


"Aku tidak bisa," jawab Micel.


"Kau harus ada menurut! Aku tidak ingin kamu celaka," jawab Vino.


Micel menatap ke arah Vino dengan tertawa kecil dan diiringi deraian air mata. Suami macam apa dia? Tidak ingin istrinya celaka dengan cara yang sangat mengekangnya?


"Aku bukan anak kecil, aku bisa menjaga diriku sendiri," sentaknya.


Vino tampak geram, memandang Micel dengan sorot mata yang tajam. Dia tidak mau dibantah.


"Kamu istriku Micel, ingat itu!" sentak Vino.


Deg


Micel membelalakkan matanya, bahkan baru kali ini dia mendengarkan Vino menyentak dirinya dan menatapnya dengan sorot mata tajam. Micel menghela napas dalam dalam.


"Aku memang istrimu, tapi bukankah tak ada alasan untuk aku menurut padamu? Pernikahan ini sepertinya tak ada artinya untukmu, apa yang sebenarnya yang kamu mau Kak?" sentak Micela di tengah isak tangisnya.


"Apa kamu hanya mencari popularitas di media? Apa kamu hanya mau menunjukkan kamu orang bertanggung jawab dengan ucapanmu begitu? Kamu melakukan semua di depan Media tapi kamu tidak pernah memikirkan perasaanku, apa sebenarnya maumu Kak?" sentak Micel lagi.


Vino menarik kasar tangan Micel, emosinya memuncak. Entah, dia tak suka Micel membantah kemauannya. Yang dia inginkan, Micel menuruti segala kemauannya.


Micel yang tidak mempunyai keseimbangan yang kokoh memejamkan matanya. Dia takut Akan terjatuh, akan tetapi tangan Vino menahan dirinya.


Vino memandang wajah cantik di depannya, wajah seseorang di hadapannya yang tengah memejamkan mata indahnya. Sejenak Vino terpesona, senyum tipis menghiasi bibirnya. Wajah itu begitu cantik dan sanggup mendebarkan hatinya. Akan tetapi, entah mengapa untuk mencintai atau mencoba rasanya masih sulit. Hatinya yang yang pernah terluka seakan enggan untuk mencoba kembali.


Lama memandang wajah itu mengingatkan pada Emely, adik yang di sandra oleh asisten pribadi dari Marvel Raditia Dika. Ya, selain ingin menjaga Micel dari musuhnya, Vino juga ingin menyandra Micela. Keberadaan Micela yang ada bersamanya, dengan harapan seorang Ardani Rahardian Wijaya tidak menyakiti Emely adiknya. Ardani sangat menyayangi Micel, dan pastinya dia tidak mau juga Micel kenapa napa.


Micela yang merasa menggantung di udara segera membuka matanya. Keduanya saling berpandangan, sorot mata suaminya itu membuat dirinya berbinar.


Entah, sorot mata Vino benar-benar mampu menenangkan hatinya meskipun dia tak mengingat apapun. Tapi Micela juga merasakan sesak yang mendera setelah memori otaknya mengingat bahwa Vino tidak pernah mencintainya. Entah, apa yang dicarinya dalam pernikahannya.


"Jaga ucapanmu, bahkan tanpa menikah denganmu pun aku sudah mempunyai segalanya. Kau bukan apa apa, Nona Micela," sentaknya lagi.


Micel memejamkan matanya, bukan buliran air mata yang jatuh membasahi pipinya. Akan tetapi kebencian yang menyeruak di hatinya. Ternyata memutuskan menyetujui pernikahan dengan Seorang Rezidhan Alvino pradikta adalah sebuah kesalahan. Dia pikir, menyetujui pernikahan dengan Vino yang notabene nya adalah sahabat dekat kakaknya adalah keputusan yang terbaik. Nyatanya semua hanya hayalan semata.

__ADS_1


"Lepaskan aku sekarang juga," ucap Micel.


"Aku tidak bisa," jawabnya.


"Apa yang kau pertahankan? Bahkan kita tak saling mencintai Kak, tak ada alasan kita untuk tetap bersama," ucap Micel. Belum genap semalam mereka sudah berdebat, bahkan di malam pertama yang harusnya indah malah kini sangat menyakitkank


"Aku punya tanggung jawab untuk menjaga keselamatanmu," ucap Vino.


Cih, perduli apa Vino tentang keselamatannya? Bukankah tak ada cinta? Untuk apa perduli? Micel tersenyum kecut. Dia menatap Vino dengan sorot mata tajam.


"Kau bisa lepas dari tanggungjawab jika kau menceraikan aku," ucap Micel. Vino mengerahkan tangannya, membuat tangannya terkepal kuat. Bahkan, menikah dengan Micel adalah biar dia bisa menjangkau Micela, menjaga Micela agar dia dalam pengawasannya. Lalu, bagaimana bisa wanita itu memintanya untuk menceraikan di hari pernikahannya?


"Bahkan ini baru permulaan Nona," ucapnya.


"Aku bukan anak kecil, bahkan jika hanya untuk menjaga keselamatanku, Kak Marvel, Kak Dani dan keluargaku pun mampu melakukannya untukku. Kakak tidak perlu repot-repot untuk menjagaku. Lepaskan aku dari belenggu ikatan pernikahan yang tidak jelas arahnya ini," sentak Micel dengan kecewa.


Vino menatap Micel dengan sorot mata tajam, membuat Micel menundukan kepalanya. Vino maju beberapa langkah, mendongakkan wajah Micel dengan paksa. Membuat gadis dia puluh tahun itu menatap benci ke arah nya.


Ceklek


Suara pintu terbuka, Micel menoleh ke arah pintu dan di saat yang bersamaan Vino juga melakukan hal yang sama. Vino yang tadinya sedikit menunduk membuat dirinya mencium pipi Micel. Keduanya terkejut.


Bahkan Mama Elina yang berada di depan pintu menyangka yang tidak tidak. Dirinya datang membawakan segelas susu dan sepiring makanan untuk Micel.


"Mama," ucap Micel dan Vino bersama. Micel mendorong tubuh Vino sehingga Vino menjauh darinya. Micel mendekat ke arah Mama mertuanya diikuti oleh Vino.


"Ma, ini tidak seperti yang Mama pikirkan," ucap Micel. Mama Elina mengusap pelan pundak Micel dan tersenyum. Micel memejamkan matanya, pasti Mama mertuanya berpikir yang tidak tidak.


"Mama sudah pernah muda, maafkan mama yang tidak sopan nyelonong masuk ke sini, salahkan suamimu yang pamit ke luar kota malam ini." Mama Elina bicara sambil melirik Vino.


"Aku berangkat besok pagi-pagi Ma," sahut Vino.


"Bagus, mama pikir kamu jadi berangkat dan meninggalkan malam pertama kalian, ternyata kamu punya otak juga," ucap mamanya sambil menatap ke arah Vino.


Vino menghela napas dalam, sebenarnya Vino tau mamanya sangat merindukan Emely. Tapi hebatnya Mama Elina bisa menekan kerinduannya dan selalu memperlakukan orang lain dengan baik.


"Sayang, ini makan malam untukmu. makanlah, mama tidak mau kamu sakit karna terlambat makan," ucap Mama Elina pada Micel. Micel tersenyum dan meraih piring dan gelas daru tangan mertuanya.


'Terimakasih Ma," ucap Micela.


"Sama sama sayang, Mama pergi dulu, lanjutkan aktivitas kalian," godanya kemudian keluar.


Tadinya Vino memang pamit untuk ke luar kota malam ini, Mama Elina pikir Vino sudah berangkat, tidak tau saja dirinya jika Vino malah menghampiri istrinya dan merencanakan pergi besok pagi-pagi. Mama Elina tersenyum, menutup pintu kamar Vino dan Micel kemudian melangkah pergi.

__ADS_1


Mama Elina menghentikan langkahnya kemudian membuka pintu kembali. Saat Itu Micel dan Vino saling menatap dan kembali menoleh ke arah pintu. Mama Elina tersenyum canggung.


"Mama hanya mau bilang, jangan lupa kunci pintu," ucap Mama sambil menyalakan musik yang berada di pinggiran pintu.


"Nikmati lagu ini Ya," ucap Mama Elina Lagi dan kembali keluar.


Micel dan Vino saling menatap, mereka terhanyut dalam alunan musik romantis yang terdengar dan menghiasi sunyi malam ini. Tak ada obrolan, keduanya hanya terdiam menikmati lagu.


Vino memejamkan matanya, lagu ini adalah lagu kesukaan Asyla. Dengan Reflek Vino meraih pinggang Micel, menggenggam tangan Micel dengan lembut. Micel mencoba memberontak, akan tetapi tak ada daya, Vino terlalu kuat untuk dilawan. Mau tidak Mau mereka berdansa dengan gerakan syahdu.


Micel hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Vino sesekali melirik wajah yang tampak cantik di depannya. Wajah cantik dengan bulu mata yang indah, mata yang indah, hidung yang indah. Tidak ada cela untuk manusia yang sejak tadi di bentak bentaknya itu.


Vino segera menguasai hatinya, Micel yang merasa diawasi mendorong tubuh Vino. Micel melangkah mengambil susu yang ada di atas meja, jantungnya berdebar tak karuan.Rasa sakit dan takut gugup menjadi satu, dia mencoba menguasai hati dan pikirannya.


Vino melangkah mendekat ke arah meja, dia mengambil satu gelas yang sudah terhidang di meja. Netranya memandang ke arah Micel yang memandangi indah bunga di atas meja.


"Mama tidak tau apapun tentang kepalsuan peenikahan ini, aku harap kamu bisa menjaga hatinya," ucao Vino. Micel menoleh dan meletakan gelas di atas meja, menatap ke arah Vino dan tersenyum tipis.


"Aku tau bagaimana caranya menjaga perasaan orang lain, Tuan Vino. Jangan mengajariku," ucap Micel.


"Bagus, lakukan itu. Ingat, jangan pernah meminta perceraian sebelum aku bisa memastikan kau akan baik baik saja jika berpisah denganku," ucap Vino kemudian melangkah menuju ke ranjangnya.


Micel memejamkan matanya, kemudian membuka matanya dan menatap Vino yang berbaring di sana. Vino meletakan kedua tangannya di bawah kepala netranya menatap Micel yang masih tetap berdiri.


"Tidurlah, apa kamu bercita cita tidak tidur sampai besok?" ketusnya. Micel mengedarkan pandangannya, dimana dia harus tidur?


Vino bangun kembali dan bersandar di sandaran ranjang.


"Apa tidak cukup tempat tidur ini? Apa aku harus tidur di sofa agar kamu leluasa?" tanya Vino ketus. Micel membelalakan matanya dan menggeleng pelan.


"Tidurlah!" ucap Vino.


"Aku saja yang di sofa," ucap Micel.


"Kalau kamu di sofa, sebaiknya sofa yang ada di balkon kamar," ucap Vino kemudian memiringkan tubuhnya. Micel membelalakan matanya. Apa apaan ini?


Vino yang masih mendapati Micel berdiri melemparkan kunci pada Micel.


"Tidurlah disana, kalau memilih di sofa," ucapnya lagi.


Micel memejamkan matanya melangkah maju, Vino yang mengetahui pergerakan Micel segera bangun dan mengejar langkah Micel. Menarik tangan Micel hingga keduanya saling berpandangan.


"Tidurlah di sana, sepertinya kau jijik tidur disampingku." ucap Vino kemudian melangkah ke arah sofa dan membaringkan tubuh lelahnya di sana.

__ADS_1


Micel memejamkan matanya, apa ini malam pertamanya? Sangat menyedihkan.


😍😍😍🎀


__ADS_2