Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
Mas Dafa dan Mbak Lelyta numpang promo


__ADS_3

Jangan lupa mampir juga di novel Othor yang baru, jangan lupa dukungannya, like, komen hadiah, dan jangan lupa favorikan ya.. wkwkwk.



"Saya Trima nikah dan kawinnya, Aura Lelya Anggita binti Ikhsan dirgantara dengan mas kawin uang lima ratus juta dibayar tunai," ucap Damarez Fauzan Wijaya yang biasa dipanggil Dafa itu dengan lantang.


Lelaki bersetelan jas berwarna Navy itu tampak tegang saat mengikrarkan sebuah ijab kabul pernikahan. Pernikahan yang mendadak dilaksanakan di rumah sakit, karna sebuah permintaan yang tak bisa ditolaknya.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu pada beberapa orang yang sedang duduk diantara hakim dan petugas KUA.


"Sah," jawab mereka serentak.


Air mata mengalir deras dari mata indah pengantin wanita. Dia sadar, saat ini dia telah menjadi istri dadakan dari Dafa, seseorang yang baru dikenalnya. Pernikahan terjadi atas permintaan ibunya yang kini tengah kritis.


Pak penghulu mengangkat kedua tangannya kemudian memberikan doa yang diamini beberapa orang yang ada di sana.


Tak beberapa lama kemudian, pak penghulu selesai membacakan doa.

__ADS_1


"Silahkan bersaliman dengan suaminya, Nona," ucap pak penghulu membuyarkan lamunan dari Lelyta. Segera wanita cantik itu mencium punggung telapak tangan Dafa.


Perasaan aneh menjalar dalam hati kedua manusia itu. Dengan spontan Dafa mencium kening wanita yang telah sah menjadi istrinya itu.


Sebentar kemudian, petugas KUA lainnya memberikan berkas yang harus ditanda tangani oleh Dafa dan lelyta, segera dua mempelai itu menandatangani surat itu. Dan saat itu juga kedua mempelai mendapatkan buku nikah darinya.


Karna proses pernikahan itu terjadi diruang rawat ibu lelyta, dan tidak boleh ada keributan terlalu lama karna takut mengganggu, kini beberapa saksi dan beberapa petugas KUA yang juga menjadi wali nikah segera meninggalkan tempat demi ketenangan pasien.


Hanya ada sepasang pengantin baru yang kini saling berdiam. Rasa canggung menggerogoti hati kudua orang itu.


Pikiran Dafa melayang jauh. Sebelum keadaan ibu kritis tadi, ibu Lelyta sempat berbicara padanya untuk menjaga putrinya dengan menikahinya.


"To-long ja-ga put-riku, a-ku su-dah ti-dak ku-at lagi. Di-a tak pu-nya sia-papun se-lain a-ku. Ni-kahilah dia, a-gar aku tenang ke-tika Allah tak lagi mem-berikan umur panjang ke pa-daku," ucap seorang wanita yang tengah bersusah payah berbicara.


Wanita itu menatap ke arah Dafa, (Damarez Fauzan Wijaya) dengan tatapan yang mengharap. Dalam satu tarikan napas, wanita paruh baya itu menghembuskan napas dan tak sadarkan diri.


Waktu terus berlalu, Pagi menyapa, semalaman dia menemani Lelyta. Wanita itu tak berbicara sepatah katapun, bahkan Dafa juga tak mau bertanya. Dafa memutuskan untuk mencari makan. Akan tetapi, baru saja dia berdiri, suara histeris Lelyta membuatnya menghentikan langkah.

__ADS_1


"Dokter, dokter," teriak Lelyta yang duduk di samping ibunya disela isak tangisnya.


Monitor menandakan detak jantung ibu Ani berhenti, Dafa yang tampak terkejut segera memanggil dokter. Dokter datang dan memeriksa keadaan pasien. Beliau menggeleng pelan.


Lelyta tampak terhuyung kebelakang melihat isarat yang diberikan dokter. Segera Dafa menangkap tubuh lemah istrinya yang kini tak sadarkan diri. Segera Dafa membaringkan Lelyta di brangkar dan meminta suster membawa istrinya ke ruang perawatan.


"Bawa dia dok," ucap Dafa sambil menatap wanita cantik itu. Wanita yang diselamatkannya dari sebuah penyekapan di rumah besar seorang pengusaha licik itu.


"Baik Tuan," jawab salah satu suster dan membawa Lelyta pergi.


Seketika Dafa menoleh dan menatap kepergian suster yang membawa istrinya. Wanita cantik yang dia ketahui sebelumnya bekerja pada RE Colection milik Rakhayla Emely Pradikta. (Novel Othor Cintai aku, Lupakan Dia) Wanita yang saat ini kebutuhan lahir batinya telah menjadi tanggung jawab baginya meski hanya sebuah keterpaksaan.


"Bagaimana keadaan ibu Ani Dok?" tanya Dafa.


"Maaf Tuan, kami sudah berusaha sebaik mungkin, akan tetapi Tuhan berkehendak lain," ucap dokter tampak pasrah.


Dafa menghela napas panjang, tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Lelyta mendengar kabar ini.

__ADS_1


"Kuatlah, Lel. Aku yakin kau wanita kuat," ucap Dafa.


__ADS_2