Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 50.


__ADS_3

"Kita turun sekarang, kakek sudah lama menunggu," ucap Radit, Radit menggenggam erat tangan Nada kemudian berjalan menuju ruang makan.


Nada menghela nafas panjang, memberikan udara yang lapang untuk pernafasan nya yang tadinya terasa sesak. Sepertinya Radit mempunyai dua kepribadian yang bertolak belakang.


Nada tersenyum getir, hingga pada saatnya mereka sampai di meja makan. Kakek tampak bercengkerama dengan Dani. Nada dan Radit kini duduk di depan kakek dan Dani.


"Kalian sudah selesai? Sepertinya kakek harus pulang sekarang Marvel," ucapnya sambil tersenyum. Nada tersentak kaget. Apa dia terlalu lama sehingga membuat kakek kelamaan menunggu?


"Kek sebaiknya kakek makan dulu," ucap Nada. Kakek Rey tersenyum dan mengangguk pelan.


"Kamu jangan khawatir, kakek sudah makan. Hanya saja nenekmu sakit, dia tidak mau makan. Kakek mau mencarikan makanan kesukaannya," ucap kakek sambil tersenyum.


"Apa kakek berkenan membawa sebagian makanan ini? Mungkin saja nenek mau makan," ucap Nada. Kebetulan makanan di rantang yang hampir di bawa ke apartemen kakaknya masih berada di dapur.


"Kau pikir masakanmu seenak apa? Nenek tidak suka makan sembarangan," ketus Radit. Nada hanya bisa diam, Radit memang benar-benar menyebalkan.


"Radit, kau tidak boleh begitu. Nada, kakek akan membawa makanan ini, kakek harap nenek mau makan masakan dari cucu menantunya," ucap kakek tampak bahagia. Nada tersenyum kemudian mengambil makanan di dapur.


"Dani, apa jadwalku sekarang?" tanya Radit sambil menuang nasi ke piringnya. Dani menatap ke arah Radit yang kini mengambil lauk.


"Pesta ulang tahun Pradikta group," ucap Dani. Radit menghela napas kasar. Kenapa bisa lupa undangan dari Vino? Sepertinya dia harus segera makan agar bisa bersiap lebih awal.

__ADS_1


"Ini untuk kakek, dan ini untuk kamu Dani. Berikan pada ibumu," ucap Nada yang baru saja muncul sambil meletakkan rantang di meja. Kakek tersenyum dan menatap Nada dengan bangga.


Sedangkan Dani tampak melirik rantang makanan di sampingnya dengan seksama.


"Kau tidak berniat meracuniku kan?" goda Dani. Nada menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Aku bukan orang jahat, kau tenang saja." Nada menggeser rantang itu hingga di depan Dani. Radit yang belum sempat mencicip makanan segera berdiri saat kakek dan Sani berdiri untuk berpamitan.


"Terimakasih Nada, sekarang kakek pulang dulu. Kakek harap kalian bahagia," ucapnya dan di Amini oleh Nada.


Kakek dan Dani melangkah keluar, Nada dan Radit mengantarkan mereka sampai di depan pintu sehingga kedua orang itu menghilang dari pandangannya. Radit kembali masuk dan duduk di meja makan. Nada juga duduk di sana, dia melirik ke arah Radit yang hanya mengambil sedikit makanannya.


Kunyahan pertama membuat Radit menatap ke arah Nada. Diluar dugaan, makanan yang dia pikir tidak enak nyatanya mampu menggugah seleranya. Kini tangannya terulur untuk kembali mengambil makanan kembali. Nada menyunggingkan senyum tipisnya.


"Memang makanannya tidak seenak masakan kekasihmu, tapi aku membuatnya penuh dengan keikhlasan dan penuh dengan cinta," ucap Nada kemudian menyantap makanannya.


Radit mengerutkan keningnya, ia seolah tak peduli dengan ucapan Nada yang jelas-jelas meng skak mat dirinya.


Keduanya menikmati makanan lezat masakan Nada, masakan itu masakan yang kata ibu Nada adalah masakan spesial kesukaan ayah. Setelah menyelesaikan makan, kini Nada membereskan tempat makan. Asisten rumah tangga yang biasanya membatu Nada, memang kali ini izin untuk pulang kampung beberapa hari.


"Mas, boleh aku pergi malam ini?" tanya Nada pada Radit yang tengah memainkan ponselnya. Radit yang terusik dengan panggilan Nada kini mendongak ke arah Nada.

__ADS_1


"Mas?" panggilan yang sangat unik bagi Radit.


"Bukankah aku bilang kau bebas melakukan apapun? Lakukan saja sesuai keinginanmu, lagi pula aku juga harus pergi ke acara temanku," ucap Radit kemudian melangkah ke balkon.


Nada menghela napas panjang kemudian meninggalkan ruang makan, Nada segera bersiap untuk pergi ke acara ulang tahun perusahaan keluarga Emyli. Tidak enak juga tidak datang ke sana, sedangkan Emily sudah memesan banyak sekali gaun di butiknya untuk acara itu.


Setelah berganti baju dan memoles wajahnya dengan riasan. Kini Nada keluar dari kamar, dengan langkah tenang Nada menapaki satu persatu anak tangga. Radit tampak masih berada di balkon kamar, Nada berjalan ke arah Radit berada.


"Mas, aku mau berangkat sekarang." Nada berucap sambil berdiri di depan pintu. Radit yang memang sengaja menunggu Nada tampak terkejut dengan penampilan Nada.


Sekejap, mata mereka bertatap. Radit terpesona dengan kecantikan gadis berhijab di depannya. Wajah cantik itu mengingatkannya pada kemanisan ciuman malam itu. Radit mengulas senyum tipis. Namun, sebentar kemudian ia segera menguasai hatinya.


"Aku berangkat dulu, Mas," Nada mengulurkan tangannya dan mencium telapak tangan Radit. Apa-apaan ini? Malam pertama pernikahan harus di lewati di pesta orang lain? Sangat menyedihkan.


Radit merasakan detakan jantung tak beraturan, segera dia menarik tangannya dari sentuhan Nada.


"Aku juga harus pergi," Radit yang masih merasakan deguban jantung yang tak beraturan segera melangkah pergi. Nada hanya bisa menghela napas panjang.


"Sedingin apapun kamu, aku yakin suatu saat nanti akan berubah," ucap Nada sambil mengamati punggung Radit yang menjauh darinya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2