
Nada menatap ke arah Radit dan mendorong tubuh Radit, karna saat ini Vino tampak mendekat ke arah mereka.
Radit segera mundur, sedang Vino menatap ke arah Nada dan Radit bergantian. Pembawa acara telah menutup acara dan dilanjutkan pelatakan batu pertama yang dipimpin oleh Tuan Pradikta di arena Proyek, sehingga membuat di arena gedung sangat sepi, hanya tinggal beberapa gelintir orang yang ada.
Kini, Nada, Radit dan juga Vino saling menatap. Vino menarik tangan Nada dan hendak mengajaknya untuk pergi. Namun, dengan cepat tangan Radit juga menarik tangan Nada, mencoba menahan agar tidak mengikuti langkah Vino. Seketika mereka saling berpandangan, ada aura persaingan yang ketat diantara keduanya.
"Aku ada perlu dengannya Tuan Marvel," ucap Vino sambil menatap tajam ke arah Radit.
"Kau bisa bicara sekarang disini tanpa membawa dia pergi," jawab Radit.
"Ini privasi," ucap Vino.
"Aku berhak tau," sahut Radit.
"Kau bukan ayahnya," sahut Vino.
"Tapi aku berhak tau," sentak Radit.
"Kau mau tau bagaimana caraku untuk mengungkapkan perasaanku padanya?" tanya Vino sambil tersenyum mengejek.
Radit mengepalkan tangannya. Nada memejamkan matanya sejenak, kemudian menatap dua orang sahabat itu bergantian.
"Maaf Vino, apa yang ingin kau bicarakan? Kau bisa bicara di sini," ucap Nada antusias. Dia tidak ingin ada percekcokan diantara kedua sahabat itu.
"Mana bisa begitu?" sanggah Vino.
"Aku sedang tidak meminta pendapat darimu, tolong katakan sekarang juga," ucap Vino dengan tegas sambil menggandeng tangan Nada lagi.
Nada menghela napas panjang. Matanya berkaca, sepertinya dia memang harus mengikuti kemauan Vino saat ini. Sudah beberapa kali dia menolak, dan dia yakin kali ini Vino memang sengaja nekat. Nada melangkahkan kakinya mengikuti tarikan tangan Vino.
Radit yang merasa cemburu, dipermainkan oleh hatinya, dia tak bisa lagi menahan gejolak rasa yang membuncah di hatinya. Radit menarik pergelangan tangan Nada sehingga menghentikan langkah istrinya itu.
Nada berhenti, Vino juga berhenti. Nada berada diantara Vino dan Radit suaminya. Antara maju ikut untuk mengikuti Vino atau mundur ikut suaminya.
Delon yang kini berjalan ke arah mereka menghentikan langkahnya dan memandang pemandangan yang pasti sangat menyesakkan dada ketiganya.
"Dia istriku," tegas Radit dengan sorot mata tajam yang mendominasi.
Vino mendongak, dan menatap Radit. Ada desiran aneh saat ini. Bukan cemburu, melainkan rasa lega seperti memecahkan gondokan penyakit di dalam hatinya, aneh sekali saat dirinya ternyata tak merasakan sakit hati saat Radit mengakui Nada sebagai istrinya.
Delon memejamkan matanya, Nico membelalakkan matanya.
__ADS_1
Vino menatap Radit kemudian melepaskan tangan Nada. Dia terkekeh, namun Radit tetap dengan wajah dingin dan datarnya.
"Kau suaminya?" tanya Vino sambil terkekeh.
"Suami yang terpaksa menikah karna kau membutuhkan Nada? Kau tidak mencintanya bukan? Jangan kau pikir aku tak tau tentang persyaratan dari MR Tan pada perusahaanmu, Marvel." tegas Vino yang baru saja mendapat kabar dari Willi tentang kebenaran hubungan Nada dan Radit. Sengaja dia ingin memastikan bahwa memang Radit mencinta Nada.
Radit seperti merasakan hantaman batu besar yang menghujam hatinya. Nada meneteskan air mata. Nyatanya kenyataan itu memang benar adanya, selama belum diakui publik, sampai nantipun tak akan bisa dia bernapas dengan lega.
"Lepaskan, Yang. Aku harus berbicara dengan Vino." ucap Nada.
Dengan lemah Radit melepas genggaman tangannya. Tak mau sampai dia menyakiti tangan Nada, pada akhirnya dia melepaskan tangan Nada.
"Bagus, Nada adalah klienku. Aku juga berhak meminta waktunya sebentar," ucap Vino.
"Tapi aku suaminya lebih berhak!" bentak Radit.
"Suami sebenarnya berhak atas istrinya, kau? bukankah tidak pernah menginginkan pernikahan ini tadinya?" tegas Vino.
Nada hanya diam, apa yang di katakan Vino benar adanya. Kenapa dia seperti sangat sensitif sekali saat ini? Bahkan mendengar perkataan Vino membuat dirinya sakit, padahal dia tau bahwa Radit sangat mencintanya. Bahkan mereka telah saling memiliki. Lalu kenapa dengan perasaannya? Kenapa dia seakan meragukannya?
Nada mengikuti langkah Vino membawanya. Radit mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Entah, dirinya murka dan tak rela Nada berada dalam kendali orang lain. Namun saat ini dia hanya mampu melihat punggung dua orang yang menjauh darinya itu.
"Aku akan melihat cinta atau tidak kamu pada Nada dari sini Radit. Mari kita bermain, sampai kapan kau mampu menyembunyikan kebenaran yang sangat mencengangkan ini," batin Vino sambil tersenyum.
"Apa ada sesuatu? Kenapa kamu menangis? Ada hal yang mengganggu pikiranmu?" tanya Vino ketika menapaki tangga yang akan menuju ke ruang kerjanya.
Nada mencoba tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia menarik tangannya dari genggaman Vino.
Percuma saja mengungkapkan isi hatinya dan memberontak, karna memang apa yang di katakan Vino benar adanya. Dua bulan lalu Radit tidak pernah mengharapkan pernikahan ini. Meski beberapa minggu lalu dia mengungkapkan perasaannya dan juga telah memiliki dirinya seutuhnya.
"Tidak ada Vino," jawab Nada.
"Lalu kenapa kamu menangis?" tanya Vino lagi. Nada terdiam saat mereka telah berada di depan pintu. Vino memandang Nada dan tersenyum.
"Maaf membuatmu menangis Nada, aku hanya ingin memastikan jika Radit benar-benar mencintaimu." Vino menatap Nada dengan tenang.
Nada sedikit terusik dengan kalimat yang diucapkan Vino. Apa maksudnya?
"Apa maksudmu?" tanya Nada. Air mata Nada meleleh. Dia tau Radit memang sangat mencintainya, lalu kenapa Vino juga ingin memastikannya?
"Aku mempunyai perasaan yang sama dengan Radit ke padamu, jika aku tau dia sangat mencintaimu dan kamupun juga sangat mencintai dia, maka itu sangat membuat aku bahagia Nada. Aku merasa bahagia harus merelakanmu, mungkin aku akan menyembuhkan luka kecewa ini. Bahkan walau hanya rencana perjodohan saja, tadinya aku berharap keinginan orang tua kita bisa terwujud," ucap Vino panjang lebar sambil menatap ke arah Nada dengan tenang.
__ADS_1
Nada memejamkan matanya, dia tau perasaann Vino sejak dulu. Lalu, saat ini dia mendengar dengan jelas bahwa Vino mencintainya? Tuhan, apa yang harus dilakukan?
"Vino maaf, aku sudah bersuami. Tolong lupakan perasaanmu dan cari kebahagiaanmu," sahut Nada.
Vino tampak menghela napas panjang kemudian menatap Nada.
"Itu pasti akan ku lakukan Nada, tapi aku perlu untuk menjelaskan padamu tentang perasaanku agar tidak menjadi sebuah penyakit hati nantinya," ucap Vino lagi.
"Terimakasih jika memang seperti itu. Aku dan Radit saling mencintai Vino, kau tak perlu mengkhawatirkan ku," ucap Nada.
"Ya, aku bisa melihat semua itu. Bahkan aku melihat bahwa Radit sangat mencintaimu," ucap Vino sambil tersenyum.
"Semoga bahagia Nada, kita berteman," lanjut Vino sambil mengulurkan tangannya. Nada menatap uluran tangan Vino dan hampir saja membalas. Namun, sebuah tangan kokoh terlebih dulu membalas uluran tangan Vino.
"Aku akan membahagiakannya, sudah selesai kan bicaranya? Dia istriku, jangan lagi mengganggunya!" tegas Radit dan mampu membuat Vino terkekeh.
"Sejak kapan kau gila seperti ini, sobat?" Vino dan Radit berangkulan sejenak. Radit sangat lega saat tau Vino hanya ingin mengungkap perasaannya. Walaupun masih dongkol, setidak nya semua akan baik-baik saja.
"Kau tak perlu tau sejak kapan," ucap Radit. Vino melepas rangkulan tangannya dan tersenyum.
"Bahagia selalu, semakin tua sobat. Jangan marah melulu," ucap Vino yang ingat betul beberapa hari lagi ganti bulan dan tepat dengan bulan kelahiran Radit.
Nada merasa lega dengan pemandangan di depannya. Sedangkan Nico dan Delon juga saling berpandangan. Mereka mendekati Radit dan Vino.
"Aku bahagia melihat kalian tetap kompak, memang seharusnya kita terbuka satu sama lain. Apapun alasannya kau harus memberi tau kita supaya tidak ada salah paham Radit," ucap Delon.
"Aku hanya ingin menjaganya," ucap Radit.
"Kami juga akan membantumu melakukannya, kita adalah saudara sobat," ucap Nico.
Nada menghela napas panjang melihat pemandangan ini.
"Nona Nada, semoga bahagia selalu," ucap Nico. Nada mengangguk dan tersenyum.
"Nada," teriak Sifa.
Sifa yang tampak ngos-ngosan dan khawatir kini menatap Nada. Nada sontak melihat ke arah Sifa dan menatap Sida dengan beberapa pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Begitu juga dengan ke empat pria tampan itu.
"Ada apa?" tanya Nada.
"Kak Arfan dari tadi menelpon," ucap Sifa sambil mengarahkan ponsel pada Nada.
__ADS_1
Kak Arfan? Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Kak Arfan adalah salah satu dokter yang hari ini menagani Micel di rumah sakit.
😊😊😊😊😊😊