Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 94


__ADS_3

Nada dan Nenek Amy masuk ke dalam kamar nenek Amy yang tampak begitu megah dan nyaman. Nada mengamati beberapa foto yang terpampang di dinding.


"Ini untukmu." ucap nenek sambil duduk di sofa. Nada tersenyum dan duduk di sebelah nenek. Nada mengamati kotak yang di bawa Nenek Amy.


"Apa itu Nek?" tanya Nada. Nenek Amy menyerahkan kotak itu kepada Nada. Nada menatap kotak itu penuh tanya.


"Ambillah," ucap nenek Amy sambil menarik tangan Nada dan menempatkan kotak itu di telapak tangan Nada.


"Tapi, Nek," sanggah Nada.


"Tidak ada pembantahan. Nenek menyayangimu. Maaf bila nenek merepotkanmu beberapa hari ini," ucapnya.


Nada terharu, bulir bening mengalir di pelupuk matanya. Nada memeluk neneknya. Pertemuan pertama beberapa minggu yang lalu tampak di pelupuk matanya. Dan saat itu benar-benar dalam keadaan yang tidak mengenakan. Namun, nenek ternyata adalah orang yang sangat baik. Berbeda dengan kesan pertama saat mereka berjumpa.


"Nenek menyayangiku saja itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu memberikan hadiah seperti ini," ucap Nada.


Neneknya mengusap air mata yang mengalir di mata Nada dan mengusap pelan wajah ayu Nada.


"Itu hadiah karna kamu berhasil membuat masakan yang enak untuk nenek. Ini juga hadiah karna nyatanya kamu selalu sabar menghadapi Marvel. Kau tau, Marvel sangat sulit untuk terbuka. Tapi bersamamu dia berbeda. Nenek harap kalian selalu bahagia," ucap nenek.


"Nenek," Nada memandang kearah neneknya, kemudian memeluknya dan menumpahkan segala air mata di pundak neneknya. Nenek Amy tersenyum dan mengusap pelan pundak cucu menantunya.


"Maaf, nenek pernah salah paham denganmu. Nenek pernah meragukan kelakuanmu. Nyatanya kamu adalah wanita baik dan begitu cantik. Tidak salah Marvel memperjuangkan cintanya untukmu. Tetaplah bahagia sampai kapanpun, sampai maut memisahkan cinta kalian," ucap neneknya lagi.


Hati Nada benar-benar bahagia, bahkan tangisan yang dia keluarkan adalah tangis bahagia.


"Yang, terimakasih untuk semuanya. Tidak butuh lagi waktu lama, aku akan memantabkan hati bahwa kamu memang telah memiliki hatiku. Tidak ada lagi keraguan, hatiku adalah milikmu," batin Nada.


Nenek melepas pelukannya kemudian menatap ke arah Nada yang kini memegang kotak hadiah darinya.

__ADS_1


"Coba buka, nenek mau memastikan jika kamu suka dengan hadiah yang nenek berikan." ucap Nenek sambil menatap ke arah Nada dan diangguki oleh Nada.


Dengan pelan Nada membuka kotak pertama yang berisi satu set perhiasan mahal. Nada tersenyum dan memandang ke arah neneknya.


"Nek, sepertinya Nada tidak enak harus menerima ini," ucapnya sambil memandang ke arah Nenek yang terdiam memandangnya.


"Ini sangat bagus dan cocok untukmu," ucap nenek.


"Kamu harus memakainya, ini spesial dari nenek," ucap nenek lagi.


"Sekarang coba kamu lihat kotak selanjutnya," ucap neneknya sambil memandang kotak di pangkuan Nada. Nada mengangguk dan membuka kotak ke dua dari neneknya.


Mendadak mata Nada terasa perih dan ternggorokannya seakan kering kerontang sehingga dia harus susah payah menelan ludah berkali-kali. Bahkan meski dengan susah, tenggorokannya seakan susah di ajak kompromi karna melihat baju di dalam kotak itu.


Apa ini? Lingerie? Nada mendadak merasakan panas dingin di tubuhnya. Kenapa menatap pakaian ini membuat gejolak panas dingin di dadanya. Apa kata Radit bila dia menggunakan pakaian kekurangan bahan ini? Aish, dirinya yang memang sudah melakukan mandi wajib tadi pagi, kini merasakan panas dingin. Rasanya dia ingin meminta tamunya keluar kembali.


Namun, tidak mungkin terjadi karna tadi pagi sudah hari ke delapan dan kebiasaan haid dalam runtutan kebiasaannya adalah delapan hari. Nada memejamkan matanya, apa yang akan terjadi bila Radit tau dirinya sudah dalam keadaan suci? Aish, Nada menghela napas berkali-kali karna mendadak sesak menggelayuti dadanya.


"Nek, ini seriusan untuk Nada?" tanya Nada sambil memejamkan mata indahnya.


"Kamu pikir nenek bercanda?" tanya Nada.


"Nek tapi ini...." Nada tak sanggup untuk meneruskan kata-katanya karna nenek menutup mulut Nada dengan jari telunjuknya.


"Nenek mau kalian menjadi pasangan yang sesungguhnya, Marvel memang sangat dingin dan selama ini senang bermain wanita. Tapi, nenek lihat hampir sebulan bersamamu dia tak lagi melakukan kebiasaan buruknya. Tolong, jadilah wanita yang mampu memikat Marvel luar dan dalam. Bawa cucu nenek ke jalan yang lebih baik lagi. Bukankah menggoda suami sendiri adalah ibadah?" tanya neneknya yang seakan menjadi tamparan hangat untuk Nada.


Nada memejamkan matanya, Radit pernah bermain dengan wanita manapun dengan sensasi yang berbeda. Lalu, bagaimana jika Nada tidak bisa seperti mereka? Aish, Bagaimana kalau Radit tidak puas kalau dia tampak biasa saja? Aish, sepertinya dia memang harus tampak menggoda di depan Radit. Dia harus menjadi wanita terakhir yang mampu memikat Radit dan memiliki jiwa dan raga Radit sampai maut memisahkan.


"Selain tidak berdosa, bukankah menyenangkan suami adalah ladang pahala? Nenek percaya kamu adalah malaikat yang di turunkan untuk Marvel yang jauh dari kesempurnaannya," ucap Nenek sambil menatap Nada dengan penuh pengharapan.

__ADS_1


Nada tersenyum dan pada akhirnya mengangguk pelan. Nenek mengusap pundak Nada dan memandang cucu menantunya itu. Dia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 22.00. Bahkan makan malam mereka berdua tadi juga di balkon kamar. Micel menolak makan karna sudah kenyang makan di luar. Sedang Mira ke luar kota dan akan kembali besok pagi. Radit? Dipastikan dia uring-uringan karena tidak melihat istri cantiknya 5 jam ini.


"Sekarang istirahat lah," ucap neneknya.


"Di sini? Lalu kakek?" tanya Nada sambil melirik kakek yang ada di ruangan kerja yang tersekat dengan kaca pembatas. kakek tampak menatap ke arah beberapa berkas yang penting.


"Kau pikir nenek akan benar-benar menyita waktu untukmu dan menelantarkan guling hidup nenek? Tidak bisa, sekarang kau tidurlah di kamar utama milik Marvel. Kamar itu hampir tidak pernah di gunakan Marvel, kamar itu adalah kamar yang menyimpan sejuta kenangan indah Marvel bersama papa dan mamanya. Siapkan dirimu, Nenek berharap marvel bisa melupakan segala kesedihan dan trauma jika terjadi hal yang membahagiakan di kamar itu. Kamu ingat, jika marvel mau menyusulmu ke sana, itu adalah bukti cinta terdalam dari dirinya untukmu," ucap nenek sambil menepuk pundak Nada.


Nada memejamkan matanya, hatinya berharap cemas. Datangkah Marvel ke kamar itu? Nenek memberikan kunci kamar itu pada Nada. Nada mengangguk kemudian berdiri, nenek mengusap pelan pipi mulus Nada dan tersenyum pada cucu menantunya itu.


"Pergilah ke sana," ucap neneknya dan diangguki oleh Nada.


😍😍😍😍😍


Radit berada di kamar tamu yang selalu di huninya. Bukan tidur, dia hanya berjalan kesana-kesini bolak-balik seperti setrikaan. Sudah lima jam lamanya dia tidak bertemu dengan Nada, bahkan ponsel Nada juga tergeletak di sampingnya. Aish, nenek begitu menyiksanya. Rindu seakan menghujam hatinya. Nada benar-benar mampu memporak-porandakan dirinya.


Radit memutuskan untuk menyusul ke kamar nenek Amy, Radit membuka pintu dan berjalan ke luar. Saat itu dia melihat nenek dan kakek berbincang di sofa depan TV. Nada? Kemana istri cantiknya? Radit mendekat dan duduk di samping kakeknya.


Kakek Rey dan nenek Amy tampak menatap ke arah Radit dan tersenyum.


"Kenapa? tampaknya mukamu masam sekali," sewot kakek Rey.


"Kek, nek boleh aku menemui Nada? Biarkan malam ini dia bersamaku, jangan di sita di kamar nenek dan kakek," ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Nenek dan kakeknya tampak terdiam.


"Betul kau ingin menyusul Nada?" tanya kakeknya. Radit mengangguk pelan.


"Nada ada di kamar utamamu," ucap kakek dan nenek kemudian berdiri dan melangkah pergi.


Deg, Radit memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya. Haruskah dia datang?

__ADS_1


😍😍😍🙈


eng ing eng... Lik komen banyakin. gak banyak gak janji bakal up lagi hari ini.. wkwkwkwkkw.


__ADS_2